
Episode 37 : Kau harus memeluk aku seperti ini!
***
Kedua tangannya mengusap kedua pipi Bulan, dan Hardan tanpa aba-aba sudah menyesap bibir Bulan pagi itu.
Begitu lembut dan panas, Bulan melebarkan matanya dan bingung apa yang harus ia lakukan.
Bulan yang terpojok melebarkan matanya dan ia bisa melihat wajah Hardan dari arah yang sangat dekat.
Mata Hardan terpejam saat itu dan entah mengapa membuat Bulan merasakan perasaan yang aneh.
Ini adalah ciuman pertama untuknya, dan dilakukan diatas ranjang seorang lelaki yang menjadikan tuannya.
Bulan terdiam membisu ketika Hardan menciumnya dengan tekanan yang tak bisa dilawan oleh Bulan.
"Tu ... Tuan, aku ..." Bulan masih mencoba mendorong Hardan setidaknya untuk memberikan dia jarak sedikit.
Hardan tak suka menerima penolakan, melonggarkan pelukannya sedikit tetapi dia tetap menatap Bulan dari arah yang dekat.
"Nikmati saja ... jangan menolak aku, kau tahu kan aku tak suka di tolak!"
Hardan menatap dengan tajam, mungkin karena ini juga adalah ciuman pertamakali setelah belasan tahun membuat Hardan tergila-gila sekali ingin memiliki tubuh wanita ini.
Untuk sekarang Hardan memang menganggap Bulan hanya sekedar obat hidup saja, Hardan ingin segera sembuh dan ia yakin jika bersama dan bersentuhan dalam waktu lama bersama wanita ini akan membuatnya sembuh dengan cepat.
Bulan yang melihat bagaimana lelaki ini begitu remeh dengan ciuman pertamanya tak bisa menahan kekesalan dan amarah dalam dirinya.
Bulan menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya, dan menatap Hardan dengan tatapan marah.
Tak terasa air matanya menetes, dia merasa seperti wanita murahan sekarang.
Bulan memang setuju melakukan kontak fisik dengan lelaki ini akan tetapi tidak akan setuju diperlakukan seperti ini oleh Hardan.
"Ini ciuman pertama ku, mungkin Tuan merasa itu tak berharga, tapi bagiku seharusnya ciuman pertama dilakukan dengan orang yang dicintai dan harus dilakukan saat kedua belah pihak sama-sama menginginkan nya,"
"Aku sudah merawat mu satu malaman tetapi Tuan malah memperlakukan aku seperti wanita murahan,"
"Kejam ..."
Bulan menumpahkan kekesalannya, dia menangis dan sekarang menutupi seluruh wajahnya.
Bulan tak tahu lagi harus mengatakan apa dan bersikap seperti apa.
Mengingat bibirnya dan bibir lelaki ini saling bersentuhan saja sudah membuatnya hampir meledak.
Hardan yang masih mendekap Bulan menatap dengan heran, lalu matanya kemudian menjadi tajam.
__ADS_1
Dia sepertinya secara tidak sengaja telah melukai harga diri wanita ini, akan tetapi Bulan mungkin lupa jika sekarang dia telah terikat kontrak dan Hardan bisa bebas melakukan apapun kepadanya.
"Bulan ..."
Suara Hardan sedikit tegas, matanya sudah tajam dan posisinya tak berubah, tetap mendekap Bulan yang merasa harga dirinya telah dilukai.
"Buka tangan mu, dan lihat aku!"
Nada suara itu menekan, Bulan sadar jika dari nada suara lelaki yang sikapnya berubah-ubah ini sepertinya kesabaran Hardan tengah habis.
Bulan tak memiliki kuasa untuk menolak, jadi Bulan membuka tangannya dan sedikit mencoba mengalihkan pandangannya dari lelaki yang dada bidang nya terlihat akibat kancing baju yang terbuka 3 deretan.
"Lihat aku, aku akan mengatakan sesuatu yang harus kau ingat!"
Hardan tidak akan mengulangi hal ini lagi, dia sudah mengatakannya saat Bulan mabuk akibat ulahnya, mungkin Bulan lupa karena tengah mabuk jadi Hardan akan mengatakannya lagi.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Endah mengapa sekarang ini Bulan merasa takut, dia mencengkeram kedua tangannya dan memberanikan dirinya menatap mata lelaki yang super tajam itu.
"Kau sepertinya lupa tugas mu, kau sudah terikat kontrak denganku, dan mengenai bersentuhan dan melakukan kontak fisik sampai aku sembuh dari penyakit adalah tanggung jawab mu!"
"Jangan berpikir seolah kau dirugikan disini! aku sangat benci ditolak apalagi oleh seorang gadis!"
"Seharusnya kau menerima ciuman dariku dengan senang hati, apakah kau kira jika aku tidak sakit aku mau mencium mu?"
Hardan juga tidak suka ketika Bulan jelas-jelas menolak ciumannya dan hendak memberikan ciuman pertamanya kepada lelaki lain.
'Dasar lelaki kejam!'
Bulan hanya bisa membatin dalam dirinya sendiri.
Dia menatap Hardan dengan tatapannya yang sayu, lalu menjawab ucapan Hardan.
"Baik Tuan, tenang saja ... mulai dari hari ini aku tidak akan lupa tugas dan tanggung jawabku, aku meminta maaf karena baru saja lupa diri,"
Bulan menjawab dengan pasrah, dia juga tahu jika melawan dan berdebat pun tak ada gunanya.
Jika Bulan melawan maka akan mempersulit hidupnya jadi menurut saja sampai lelaki arogan ini sembuh.
Tatapan Hardan semakin menahan, lalu Hardan menyeringai.
"Bagus ... begini baru gadis ku, menurut dan mengangguk dengan segala hal yang aku katakan,"
"Jika kau tidak menolak aku, maka kau akan mendapatkan segalanya, kau tidak akan kesusahan ..." bisik Hardan menyeringai.
Dia mengusap bibir Bulan menggunakan jemarinya lalu ia menekan tubuh Bulan ke ranjang dan mendekapnya sekarang.
__ADS_1
Hardan bersandar di atas tubuh Bulan dengan wajahnya berada di tengkuk Bulan.
Sepertinya Hardan tidak melanjutkan ciumannya, Hardan akan melanjutkan nya nanti saja, saat suasana kembali nyaman.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Suara detak jantung Hardan terasa di dadanya hal itu rasanya sedikit geli.
Bulan hanya diam saja ketika tubuhnya didekap erat seperti itu.
Karena tak ada pilihan lain, Hardan sepertinya tengah dalam mood yang buruk, mungkin karena mimpinya tadi malam, membuat Hardan sangat sensitif dan malah menumpahkan kekesalannya kepada Bulan.
Setelah beberapa saat, suara nafas Hardan terasa hangat di tengkuknya, saat itu Hardan membuka matanya yang tadi sempat terpejam merasa nyaman dan berbicara lagi dengan Bulan yang masih kesal dan marah juga sakit hati dengan ucapan Hardan tadi.
"Kau wangi sekali, wangi tubuh mu berbeda dari wanita yang lain,"
"Kau membuat aku tenang, mulai dari sekarang sampai aku sembuh kau harus memeluk aku setiap hari seperti ini, aku ingin mencium tubuh mu, kau mengerti?"
Hardan berbicara nyaman, dia bersandar di tengkuk Bulan dan tubuhnya tetap tak bosan mendekap tubuh Bulan dengan leluasa.
'Cih, ingin aku memeluk mu, mencium tubuhku!'
'Dasar mesum, sudah mengancam aku, membuat aku seperti wanita murahan, sekarang ingin aku setuju untuk segala kenakalan itu!'
'Aaaaa! cepatlah sembuh agar aku bisa pergi!'
Batin Bulan berteriak, walau tadi ia mengatakan jika dia akan mengingat posisinya yang hanya sebagai obat hidup, tetapi tetap saja hatinya terbakar.
Dan setidaknya ia ingin menumpahkan kekesalannya dalam hati.
.
.
.
.
Author : Hello jangan lupa berikan like dan komentar sebagai dukungan ya.
Sekali lagi mau mengingatkan jika para pembaca setia yang memiliki label fans akan aku hadiahkan pulsa saat novel ini tamat 😍
Label fans Diamond : Pulsa 100K
Label fans Gold : Pulsa 50K
Label fans Silver : Pulsa 25K
__ADS_1
Terimakasih semuanya, lope you sekebon jeruk.