
Episode 52 : Aku kesepian tapi tak ada yang bisa melihatnya!
***
Hardan mengajak Bulan pergi liburan singkat ke pantai, walau awalnya Bulan kesal tak mau kesana tetapi dia tak bisa menolak dan akhirnya pasrah.
Bulan hanya akan mengikuti arus saja, dia juga memang suka dengan pantai jadi mungkin liburan singkat ini bisa mengistirahatkan nya dari segala kesibukan kampus dan pikirannya mengenai ibu tiri dan Lisa.
Sejak tadi Hardan hanya tersenyum saja, semua perlengkapan mereka sudah langsung disediakan oleh sang assiten serba bisa.
Kali ini, Hardan menyetir sendiri, dia juga sebenarnya hendak melepaskan penat sebab baru saja dihubungi oleh ibunya.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, Bulan susah bisa mencium bau lautan, dan perlahan-lahan bisa terlihat pantai yang biru dan sangat indah.
Mereka sampai di sana sekitar jam 3 sore dimana matahari masih terik sekali, jadi tidak bagus untuk menyelam.
"Woah, cantik sekali ... sudah lama sekali aku tidak ke pantai ..." Bulan berbicara dengan sangat antusias, dia melihat keluar dan matanya berbinar-binar.
Mereka masih berada di dalam mobil dimana Hardan hendak memarkir kan mobil miliknya di villa.
"Sayang ... cantik kan?"
"Sudah ku duga kau akan suka,"
Hardan turun dari mobil, dia lalu menggenggam tangan Bulan membawa Bulan menuju villa.
Bulan yang tadi masih marah tidak ingin terlalu menunjukkan bagaimana ia terpukau dengan villa indah dengan pemandangan pantai yang spektakuler.
"Hmmm ..." Bulan hanya mengangguk kecil lalu mencoba mengalihkan pandangannya.
"Cih, dasar kucing liar suka ngambek!" gerutu Hardan langsung merangkul Bulan dan menuntunnya berjalan dengan cepat.
Walau Bulan terlihat sangat keras kepala dan hatinya sulit sekali ditundukkan Hardan tetap sabar menyikapi sikap wanita yang sudah ia jadikan kekasih ini.
Hardan sadar perbedaan usia mereka terpaut cukup jauh, jadi Hardan harus ekstra sabar menyikapi keras kepala dari Bulan.
"Disini tidak akan ada yang mengganggu kita, palingan nanti malam akan ada pelayan laki-laki yang menyiapkan makanan untuk kita, jadi kau bisa sepuasnya berenang dan melakukan apapun yang kau mau ..."
Hardan sudah membuka pintu kamar yang hendak mereka tempati malam ini.
Saat Hardan membuka kamar itu, mata Bulan kembali berbinar, kamar itu sangat luas dan bersih, pencahayaan dari luar memenuhi ruangan karena dinding nya terbuat kaca.
Di kamar juga ada balkon luas yang digunakan untuk memandangi lautan.
Dan di sisi balkon ada tangga yang langsung bisa pergi menuju pasir pantai.
__ADS_1
Tempat ini terasa sangat indah, Seperti kamat yang di design hanya untuk orang-orang yang melakukan bulan madu.
'Tadinya aku mau menutupi kekaguman ku Tetapi jika begini caranya aku mana bisa? lelaki ini terlalu kaya bisa melakukan apa saja! bahkan memiliki villa seperti ini!'
Bulan menggerutu dalam dirinya, dia sudah masa bodoh dengan acara ngambeknya, dia melangkah dengan cepat menuju balkon dan angin pantai langsung menyapa dirinya.
Angin pantai yang sedikit kencang membuat ikatan rambutnya lepas dan rambutnya sekarang terurai.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantung Hardan William berdegup kencang ketika melihat pemandangan itu, dia melihat betapa cantik Bulan yang tersenyum memejamkan matanya disaat rambutnya terurai oleh angin laut.
"Cantik sekali ..."
Hanya itu ucapan yang terucap dari mulutnya.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Hardan melangkahkan kaki sembari membuka kancing kemejanya tiga baris dari atas.
Lalu ia berdiri di sisi Bulan dan merasakan angin laut dan aroma laut bersama kekasihnya ini.
"Sayang ... apakah kau tahu, aku tidak pernah berpikir merasakan perasaan ini lagi sebelum bertemu dengan mu,"
"Aku pikir aku akan kesepian seumur hidup tanpa merasakan indahnya berpacaran dan jatuh cinta ..."
"Kesempatan untuk hidup normal tanpa takut bertemu dan bersentuhan dengan wanita ..."
Hardan berbicara dengan sangat dalam, dia melihat lurus kearah lautan.
Dan Hardan secara perlahan-lahan menunjukkan sisi dirinya yang sebenarnya sangat kesepian dan tersiksa akibat OCD alergi pada wanita.
Penyakit yang membuatnya sangat menderita.
Bulan membuka matanya, lalu melihat ke sisi Hardan William yang selalu saja mengikat nya di sisinya.
Seolah tidak memberikan Bulan kesempatan untuk pergi dan menjalani hidupnya.
Tetapi secara perlahan Bulan bisa melihat bagaimana sebenarnya Hardan tidak tahu caranya berpacaran, tidak tahu caranya memperlakukan orang disekitarnya.
Mungkin semuanya itu akibat Hardan tidak memiliki pengalaman yang banyak dalam hubungan.
Entah kenapa hati Bulan menjadi sakit mengingat jika lelaki ini di usianya yang sudah matang belum juga menikah karena penyakit OCD nya.
Bulan mengganti objek yang ia tatap, sekarang Bulan menatap Hardan dibandingkan lautan yang membentang luas.
__ADS_1
Bulan menjadi penasaran mengapa Hardan bisa menderita penyakit OCD, bahkan OCD nya khusus alergi kepada wanita.
Saat Bulan memandangi wajah tampan Hardan, Hardan membuka matanya lalu berpangku tangan dengan tumpuan pembatas balkon.
"Sayang ... apakah aku setampan itu? kenapa kau melihat ku seperti ini?"
"Atau ... apakah kau sudah jatuh cinta kepadaku?"
Hardan membisik, dia tersenyum lalu matanya yang tajam itu terlihat begitu indah di mata Bulan.
Tanpa sadar Bulan mengusap pipi Hardan.
"Pasti selama ini kau kesepian,"
Ucapannya sangat lembut namun menusuk ke hati Hardan.
Ketika mendengar itu, Hardan tiba-tiba terdiam, dia menatap Bulan begitu lama, tatapnya sayu dan ekspresi wajahnya memperlihatkan kesedihan yang mendalam.
Hardan meraih tangan Bulan yang ada di pipinya, dia memejamkan matanya lalu bersandar di tangan Bulan.
Hardan mengangguk sembari memejamkan matanya.
"Ya ... aku kesepian, aku sebenarnya membenci penyakit ku, aku juga ingin menjadi lelaki normal yang menikah dan memiliki anak,"
"Tetapi semua itu tidak bisa aku gapai karena penyakit ku, aku bahkan tidak bisa menghitung berapa banyak kutukan yang aku lontarkan kepada hidupku sendiri!"
"Kenapa aku yang menderita penyakit ini? aku menderita tetapi semuanya tidak ada yang menyadari, mereka hanya menganggap aku sebagai tuan muda yang memiliki kekuasaan tetapi mereka tidak melihat hatiku!"
Hardan mengungkapkan kekosongan hatinya, bagaimana dia selama ini begitu kesepian, tak ada satupun yang bisa mengerti sebab dia hanya dianggap sebagai tuan muda kaya raya yang bisa melakukan segalanya
***
Disaat yang sama di kediaman Hera,
Hera baru saja mendapatkan informasi dari suruhannya mengenai perkembangan kondisi dari putranya.
Di tangannya ada beberapa foto Hardan bersama seorang wanita, Hera memerhatikan wanita itu dan menghubungi suruhan lagi untuk memeriksa semua informasi mengenai wanita itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Author : Maaf ya jika karya ku masih banyak kekurangan, dan mengenai isi dari semua cerita aku ini hanya hasil imajinasi semata. 🙏