
Episode 29 : Menjadi tameng untukku.
***
Rasa malu dan tak berani melihat kearah Hardan, Bulan hanya bisa menunduk dengan pipinya yang kemarahan namun terlihat sangat menggemaskan di wajahnya.
Hardan sejak tadi melihat kearah Bulan yang duduk menunduk, ketika sang asisten sudah memasuki ruangannya, memberikan informasi bagaimana sudah waktunya mereka ke bar tempat dimana karyawannya menghambur uang perusahaan.
'Situasi macam apa ini?'
'Kenapa Pak Hardan dan gadis ini terlihat seperti baru melakukan sesuatu yang nakal,'
'Apakah mereka melakukan itu di kantor?'
'Oh tidak, pikiran liar ku! hentikan itu!'
Lucas yang melihat gelagat aneh dari atasannya dan gadis muda yang baru saja bersama Hardan memiliki pikiran nakal sekarang.
Tetapi ia segera menggelengkan kepalanya dan menampik semua pikiran itu, apapun yang dilakukan oleh atasannya disini biarlah itu menjadi urusan mereka.
Yang jelas, dia harus melakukan pekerjaan dengan benar dan mendapatkan gaji, hanya itu saja.
"Ehem ..."
Sembari membenarkan dasi, Hardan mencoba mencairkan suasana dimana sekarang di ruangan itu terasa begitu sunyi dan ketiganya seolah berada dalam pikirannya masing-masing.
__ADS_1
"Lucas, persiapkan roti dan minuman di mobil, aku dan Bulan akan kebawah secepatnya," perintah Hardan kepada assiten nya yang sudah memiliki banyak sekali spekulasi nakal di kepalanya.
Terlihat sekali dari caranya melihat kearah Bulan dan Hardan secara bergantian.
"Ba ... Baik Pak,"
Seru Lucas menurut, Lucas segera pergi menyiapkan roti dan minuman, juga mobil sebagai kendaraan untuk sang Bos menuju bar malam.
"Dan kau ... aku tahu kau sangat menginginkan ciuman dariku, tapi saat ini aku belum bisa, karena banyak urusan,"
Hardan berbicara seolah-olah yang menginginkan ciuman itu adalah Bulan, bukan dirinya, Hardan membuat percakapan ini berat sebelah.
"Tuan, bukankah Tuan yang mendorongku dan menggenggam bahuku? mencoba mencium ku? bukankah Tuan yang berinisiatif mencium aku?"
"Kenapa jadi aku yang menginginkan ciuman?"
Bulan tentu saja tidak rela dikatakan sebagai seseorang yang berinisiatif lebih dulu, walau tanpa sadar ia memang memejamkan matanya akan tetapi ciuman tadi bukan dia yang memulai.
"Kau menentang ku? kau yang memejamkan matamu dan memajukan bibirmu, kau kira pria bisa menahan itu apa?"
"Sudahlah diam dan ikuti aku saja, malam ini kau memiliki tugas yang penting,"
Dengan pipi yang memerah dan tak mau kalah, Hardan menggerutu dan melangkah, meminta Bulan mengikuti dirinya.
'Astaga, lelaki ini benar-benar dewa perdebatan, tidak mau kalah!'
__ADS_1
'Ya sudah lah, terserah ... yang penting aku selamat dari kengeriannya,'
Bulan terpaksa mengalah, dia mengikuti Hardan yang sudah melangkah menuju lift perusahaan.
"Malam ini kita ke bar, disana aku hendak menangkap salah satu penghianat perusahaan ku, disana pasti banyak gadis jadi kau harus menjadi tameng menghalau mereka jangan sampai menyentuh aku, mengerti?"
Hardan memberikan perintah kepada Bulan yang sudah berdiri di sisinya di dalam lift.
"Ba ... baik Tuan," balas Bulan sebenarnya sedikit panik.
Kenangannya memasuki tempat seperti itu sebenarnya menakutkan, karena saat lalu dia baru saja di jual oleh ibu tirinya.
Memasuki tempat yang vibe nya sama tentu membuat Bulan takut dan sedikit waspada.
'Aku terlalu takut mengatakan aku tidak suka pergi kesana, tapi jika aku tidak menemani tuan muda arogan ini pasti dia juga bermasalah karena disana banyak gadis gadis!'
'Nasibku memang tidak pernah bagus!'
Bulan hanya bisa menggerutu dalam hatinya dan menghela nafasnya berat dan panjang.
Hardan yang menyadari itu melihat dengan tajam dan sinis, tetapi mengingat kenangan buruk Bulan yang memang dijual oleh ibu tirinya membuat Hardan mengerti sikap waspada dari Bulan.
.
.
__ADS_1
.
.