HTTP 404

HTTP 404
Bab #10


__ADS_3

“E-eh, Reid? Ada ap-..?”


Deru nafas remaja jangkung itu, Reid, memburu dengan mata merah berair di hadapan figur gadis yang kini tengah terbelalak kaget, Leonna, mendapati penampakan sosok yang kemungkinan besar merupakan sumber stres dan penat tidak biasanya seharian ini.


Ditambah, belum selesai Leonna berucap. Jemari besar-besar Reid sudah lebih dulu bergelung di pergelangan tangan Leonna. Degup jantung berdentum-dentum serupa musik disko, lagi-lagi menyergap rasionalitas Leonna.


Ia kali ini bahkan, tidak banyak cek-cok ketika Reid menarik dengan tidak lembut dan atau bisa dibilang, lebih mirip seperti tengah menyeret karung beras—tubuh Leonna dan membawanya entah ke mana.


“Ayo, kita kerjakan tugas kelompok itu sekarang.”


“Apa? Sekarang? Kan masih seminggu lagi, jadi kenapa harus buru-buru?”


Leonna terkejut, tetapi masih tetap setia mengikuti langkah lebar Reid. Meski ia sadar betul, makna dari banyak tatapan tajam lagi terang-terangan muda-mudi Stuyvesant. Terutama yang berjenis kelamin perempuan.


Jadi, begitulah. Di sepanjang perjalanan Leonna bersama Reid, mulai dari pelataran hingga keluar melewati gerbang megah sekolah. Aura hitam, abu-abu, bahkan merah terus berdesing-desing mengikuti objek di sebelah Reid.


Teramat kontras dari Leonna memang, Reid si pujaan hati para gadis malah terus melayangkan ekspresi dingin dan bisa jadi, itu juga karena Reid masih belum sadar kalau jari-jemarinya terus bertengger manis. Melingkari pergelangan tangan kanan Leonna.


“Aku tidak punya waktu untuk menunda-nunda sepertimu.”


“Oke, tapi, ke mana kau akan membawaku Reid?”


Kalimat penuh penekanan Reid barusan, samar-samar membuat rasa penasaran Leonna mendadak meletup-letup. Ingin tahu juga sebenarnya Leonna, kegiatan macam apa yang menjadikan anak SMA macam Reid sampai tidak punya waktu untuk menekan tombol jeda barang sebentar.


Namun, mau serumit apa pun spekulasi Leonna, pasti itu tidak jauh-jauh dari pengaruh buku-buku, novel, film, hingga drama Korea yang rata-rata menitikberatkan kisah seorang mafia, pembunuh, tuan muda kaya raya, serta berbagai macam karya lain yang kebanyakan berbau laga, komedi, aksi dengan sedikit dibumbui romansa.


“Tema skit bebas dan karena Profe Ledger memang asli Spanyol, akan lebih baik jika membicarakan kebudayaan mereka.”


Leonna melongo tidak habis pikir dengan kelakuan Reid yang bahkan, mereka berdua baru saja sampai dan belum lagi duduk. Boro-boro sempat sekadar memesan segelas es teh poci dingin untuk membasahi kerongkongan kering mereka, tetapi, Reid telah lebih dulu memulai diskusi.

__ADS_1


Syukur, keadaan pelataran kafe yang tidak terlalu ramai, ditemani sejuk sepoi-sepoi angin sore, berhasil menghalau kekesalan Leonna terhadap insan menawan hati di depannya dan tidak patut juga untuk serta merta diklaim sebagai hal baik.


Sebab, mimik Leonna sekarang ini, tampak begitu kontras dengan air muka dongkol sang pemuda yang sodoran lembar-lembar kertas A4 nya, tidak kunjung pula diambil.


BRAK!


“Oh, maaf.”


Gebrakan lumayan kencang, terpaksa merobohkan aktivitas melamun Leonna. Ia lalu dengan tergesa-gesa dan super canggung, mengambil tumpukan kertas tipis dari tangan Reid.


Kedua iris birunya kemudian dengan kilat menelusuri, melompati satu dua kata dan sama sekali tidak mengindahkan beberapa deretan panjang tulisan tangan rapi, di atas enam lembar kertas bernuansa putih bersih kepunyaan Reid.


“Ini—apa kau yang membuat semua dialog ini?”


“Baiklah, sudah diputuskan. Besok kita akan mulai berlatih nada dan pengucapannya.”


Reid bukannya menjawab pertanyaan Leonna, malah mendeklarasikan keputusan sepihak dan lebih mengesalkan di mata Leonna, karena Reid dengan tanpa akhlak, sontak berusaha menyabet paksa lembaran kertas yang belum ada lima menit ia berikan secara cuma-cuma kepada Leonna.


Leonna melambai-lambaikan lembaran kertas yang jelas sekali, merupakan naskah skit mereka untuk minggu depan.


Namun, bukan maksud Leonna tidak menghargai, apalagi merendahkan hasil jerih payah Reid dalam memproduksi isi naskah. Melainkan, dari tema dan judul saja, sungguh, sembilan puluh sembilan persen tidak menarik untuk sekadar dilirik.


Terlebih, masalah tema sebenarnya masih bisa Leonna toleransi, tetapi untuk judul...


Bagaimana bisa sandiwara lelucon berintikan interaksi pendek lagi hambar seorang anak pindahan ke tanah Spanyol dan bla bla bla, yang bertemu, lalu berbincang-bincang mengenai kebudayaan masa lampau Spanyol dengan seorang nenek, yang adalah di dalam naskah berperan sebagai tetangga baru si anak ini, layak untuk disebut sebagai sebuah skit.


Tetapi, sudah naturalnya bagi penulis untuk berjuta kali lipat lebih keras kepala dari para komentator. Reid dengan nada tinggi dan bola mata berapi-api, langsung berdiri dari duduknya sembari membalas sinis komentar tidak melanggar hukum dan kemanusiaan Leonna.


“Merombak? Memulainya dari nol? Dengar, aku tidak punya banyak waktu luang untuk berlama-lama mendiskusikan sandiwara lelucon ini. Jadi...”

__ADS_1


Tidak ada pilihan pun kesempatan lain. Leonna, meski ia tahu betul, dampaknya tidak dapat menjamin sempurna seratus persen positif, ia tetap dengan beraninya memotong kalimat menggebu-gebu Reid.


“Oke, aku mengerti. Tapi, bagaimana bisa kita mempertunjukkan sesuatu tidak, ehm, miris nilai seni seperti ini? Kau tidak lupa kan, Reid? Dua puluh persen penilaian akhir kita akan diambil dari pertunjukan skit ini. Jadi, bisakah kita diskusikan lagi lain waktu?”


“Tsk, terserah padamu!”


Seorang pelayan kafe baru saja datang menghampiri meja mereka. Tetapi si pelayan malang itu refleks harus melonjak mundur, ketika Reid dengan amarah membumbung tinggi, tiba-tiba membentak dan pergi begitu saja meninggalkan Leonna yang hanya bisa melayangkan senyum hambar ke arah tuan pelayan kafe.


“Reid! Hei, Reid Cutler?!”


...🐣🐣🐣...


Tulang-tulang di sekujur tubuh Leonna rasanya hampir remuk, setelah tanpa Leonna sadari sebelumnya. Ia ternyata sanggup berlari hingga 2,1 mil hanya untuk mengejar Reid, yang meski sudah sebegitu susah payahnya ia berusaha, tetap tidak bisa menyusul kayuhan sepeda bernuansa hitam merah Reid.


Beruntung, kewarasan Leonna telah lebih dulu muak dan setelah banyak kesukaran fisik serta mental, Leonna akhirnya menyerah. Ia kemudian dengan langkah gontai berjalan pulang ke apartemen.


Tentu, tidak benar-benar jalan kaki. Ia pulang dengan transportasi ekspres. Mobil kuning cerah alias taksi. Sebab, sebesar apa pun keras kepala Leonna, tubuhnya juga punya limit dan jika sudah mentok, maka itu tandanya ia perlu, wajib, fardu untuk segera beristirahat.


“Akh, kenapa makhluk itu menyebalkan sekali? Tapi ngomong-ngomong, apa perlu aku tanyakan saja pada Kak Leo? Siapa tahu Kak Leo bisa membantu.”


Handuk yang bergelung di kepala Leonna, ia lepas. Kemudian ia lempar ke sembarang tempat. Jari-jemari lentik Leonna pun beralih mengambil laptop yang beruntung kali ini berada di atas nakas, tepat di samping ranjang.


Leonna lalu menyalakan laptop dan dengan tidak sabaran, menggeser tanda kursor begitu laptop menyala. Ia lalu menekan sebuah ikon berbentuk bulat dengan lingkaran di tengah-tengah serupa lensa kamera. Ikon itu—lambang WebCam, terbuka. Leonna dengan lincah, kemudian mengetikkan sesuatu dan menekan tombol ‘panggil’.


Layar hitam WebCam tidak lama berganti menampilkan potret seorang remaja laki-laki berwajah begitu identik dengan Leonna. Sosok itu kemudian tersenyum lebar ketika melihat lebih jelas rupa penelepon yang tidak waras menghubunginya pada waktu dini hari.


“Leonna! Bagaimana kabarmu, adikku?”


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2