HTTP 404

HTTP 404
Bab #61


__ADS_3

Reid dengan kaku mendorong halus tubuh Leonna. Ia kemudian sibuk menjilat bibir bawahnya beberapa kali, baru selanjutnya buka suara memecah keheningan. “Apa kau tidak apa-apa?”


“...” Pandangan mata Leonna seolah berkabut. Ia terlalu canggung untuk merespons dengan sigap pertanyaan Reid.


Atmosfer di sekeliling mereka berdua pun yang ada malah kembali kaku. Hingga akhirnya Reid memutuskan untuk duduk dan berusaha membuka bungkusan roti rasa cokelatnya dengan kalem. “Duduk dan makanlah.”


Sodoran roti yang telah dibuka kemasannya, mau tidak mau membawa Leonna untuk duduk bersebelahan dengan Reid. “...Terima kasih.” Cicit Leonna.


‘Sial. Kenapa aku jadi tiba-tiba bisu begini? Ayo, Leonna! Bicaralah, bung! Dan Reid juga, cepat cari topik atau apalah.’


Gerutu Leonna kian panjang dan tak berujung. Reid yang mendapati Leonna mendadak makan dengan terburu-buru, refleks menyentuh halus pergelangan tangan Leonna. “Kau bisa terselak jika terus makan seperti itu.”


Roti yang tersisa tidak ada sepertiga, spontan berhenti dicomot oleh gigi-gigi rapi dan proporsional Leonna. Ia lantas tersipu, lalu cepat-cepat menenggak susu rasa cokelatnya yang entah sejak kapan sudah rapi tercolok sedotan.


“Apa kau—”


Leonna berhenti dari aktivitas menyedot minuman yang kalau boleh jujur, rasanya ternyata tidak terlalu buruk. Wajar, ini adalah pertama kalinya ia minum susu selain dari merek yang biasa direkomendasikan Leo dan mamanya.


“—selalu hanya makan ini di jam istirahat?”


“Aku tidak pernah mempermasalahkan apa yang aku makan. Tapi, roti sudah cukup mengenyangkan bagiku hingga sore, bahkan malam.” Tukas Reid dengan tanpa ekspresi.


“Benarkah? Maksudku, bukankah sebungkus dua bungkus roti dan satu buah susu kemasan kecil seperti ini tidak cukup?”


Leonna mengernyitkan alis kuning keemasannya penasaran. “Jika ini adalah aku, sedikit apa pun aku makan setiap harinya, tidak akan mungkin bisa sampai sesimpel ini.”


Jemari besar-besar Reid meremas lumayan bertenaga kotak susunya yang mungkin hanya tinggal dua kali isapan panjang. Ia seraya tersenyum hambar, kemudian berujar super santai. “Ada benarnya kata-katamu. Tapi, kalau kau sudah terbiasa, hanya dengan melihat bungkusannya saja pun kau bisa langsung kenyang. Serius.”

__ADS_1


“Kau seperti orang yang menjalani program diet ekstrem saja,” Celetuk Leonna. Memandang lamat-lamat kotak susu cokelatnya yang sudah kosong.


“Tapi, jika kau langsung kenyang hanya dengan memandang bungkusannya, bukankah itu artinya kau bosan? Seperti aku dan Leo yang akan memesan spaghetti kalau sedang bosan makan pizza,”


Kelopak mata Leonna memejam erat. Ia baru sadar perumpamaan yang diutarakannya barusan, jelas terdengar super bodoh dan tidak ada setitik pun nilai seninya. Manalagi membandingkan pizza dan atau spaghetti dengan sebungkus roti murah? Yang benar saja ia ini?!


“Intinya, kau mungkin tidak nafsu karena bosan. Jadi saranku, akan lebih baik kalau kau makan siang dengan menu lain. Lagipula, bukankah tidak baik terus-menerus mengonsumsi roti?”


Leonna memandang Reid keki. Ia lalu berujar lagi sembari menggaruk pipi kirinya yang sama sekali tidak gatal. “Roti mengandung ragi. Dan menurut sepengetahuanku, ragi yang dikonsumsi berlebih akan mengganggu sistem pencernaan,”


Aktivitas garuk-menggaruk Leonna lantas terhenti. “Asam lambung naik, maksudku. Sakit mag.”


Air muka Reid satu dua detik kemudian berubah keruh. Kata-kata Leonna tentu benar adanya. Namun, melihat dari sisi kondisi finansialnya sekarang dan biaya yang diperlukan nanti untuk mendaftar kuliah, kebutuhan ini, plus juga itu. Ia tidak ada pilihan lain, kecuali sebisa mungkin menahan pengeluaran dan memperbanyak tabungan.


“Benar,” Senyum Reid sendu.


Kedua alis Leonna mengernyit tidak senang. Tetapi, ia tiba-tiba entah angin darimana, refleks berujar sambil menatap Reid dengan kelewat berseri-seri. “Oh. Aku tahu!”


Reid menengok grogi. “Sebagai ganti, ehm, sebagai apresiasi karena Reid mau menjadi tutor matematikaku sampai ujian semester nanti. Mulai besok, ‘Tutor Reid’ dan muridnya, aku, kita akan makan siang bersama,” Tukas Leonna sok serius.


“Kau tidak perl—”


“Tenang. Sebagai tutor, kau membutuhkan banyak asupan empat sehat lima sempurna untuk mengajariku. Sebab itu, aku sebagai murid, harus setidaknya memerhatikan dan menjaga kesehatan gizi pengajarku ini dengan baik. Jadi, aku sudah memutuskan. Aku. Akan. Mentraktir. Mu!”


Hening.


Reid tidak langsung menanggapi penjelasan absurd Leonna. Ia di satu sisi merasa oke-oke saja dan beruntung sekali sebetulnya. Namun, di sisi lain, ia cukup kesal dan ingin sekali menolak keras niat ‘baik nan dermawan’ Leonna.

__ADS_1


"Reid? Kau tidak berkomentar apa pun, artinya kau setuju kan?” Tanya Leonna seraya memandangi Reid super berbinar-binar. “Baiklah, kalau begitu. Mulai besok, ‘Tutor Reid’ dan aku akan makan siang bersama!”


Senyum terkembang di wajah menawan Leonna. Lesung pipit dan tahi lalat kecil di bawah kanan bibirnya seolah menarik seluruh atensi Reid. “Terserah. Suka-suka hatimu saja.” Sinis Reid. Kemudian tergesa-gesa bangkit dari duduknya.


“Tutor Reid sudah selesai? Tapi, ini sayang—” Semburat kemerahan seketika memenuhi kedua pipi Reid.


Leonna yang ucapannya terpotong akibat Reid yang tiba-tiba saja berbalik badan dan hampir menubruknya, kemudian melanjutkan lagi kata-katanya setelah debaran hebat pada jantungnya sedikit lebih tenang.


“Sayang kalau susu stroberimu tidak dihabiskan.”


“Susu?” Isi kepala Reid kosong untuk beberapa detik.


Telunjuk Leonna yang menunjuk lucu ke arah kotak susu stroberi mini tepat di sebelahnya, sontak membuat kesalahpahaman sepihak Reid runtuh dan hancur menjadi tumpukan debu. Serpihan halusnya lalu lenyap ditiup angin. Meski sialnya, rasa malu yang hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tahu itu tidak pula ikut hengkang.


“Ya. Aku tadi hanya buang sampah sebentar.” Reid berbalik kembali menuju tempat duduknya. Ia kemudian mengambil kotak susunya dan menyedot sisanya hingga habis.


‘Memalukan sekali! Bagaimana bisa aku berpikiran bodoh seperti itu?! Sayang? Ada apa dengan kata sayang? Apa aku mengharapkan sesuatu? Tsk! Aku perlu ke UKS lagi sepertinya.’ Batin Reid gusar.


“Tutor Reid sudah selesai?” Tanya Leonna yang langsung sukses mengembalikan konsentrasi Reid ke tempat semestinya.


“Ayo. Kita kembali ke kelas,” Ujar lagi Leonna, setelah mendapati anggukan hiper semangat Reid. “Namun sebelumnya, sekali lagi, terima kasih. Dan tenang saja. Mulai besok, kita akan coba satu per satu menu di kafetaria. Jadi, kita bisa tahu preferensi makanan apa yang ‘Tutor Reid’ suka. Oke?”


Untuk ke sekian kalinya Reid mengangguk. Walau jauh di lubuk hatinya, ia amat sangat ingin untuk mengatakan tidak. ‘Anggap saja ini keberuntungan. Ya. Ini keberuntungan. Aku yakin. Tidak. Aku percaya kalau ini keberuntungan. Benar. Semoga saja ini keberuntungan.’


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2