
Otak Leonna masih dalam proses ketika Reid dengan air muka kesal bercampur khawatir menaungi tubuh basah kuyupnya dengan payung. Leonna mendadak ingin menangis. Ia lalu melirik kecil Reid. Kedua alis gelap cowok itu betul-betul mengerut tebal. Ia lalu berdecak beberapa kali sebelum kembali mengomel.
“Bagaimana bisa kau bertindak begitu konyol? Bagaimana jika kau tiba-tiba jatuh pingsan di tengah cuaca mengerikan begini? Keadaan sekolah yang sepi dan hanya ada Pak Ameen dan Pak Juli yang duduk minum kopi sambil menonton televisi di pos. Mayat malangmu pasti baru akan bisa ditemukan ketika pagi tiba, kau tahu?!”
Reid yakin. Ia pasti yang tampak konyol sekarang. Saraf-sarafnya juga mungkin betul-betul sudah idiot. Ia dengan seenaknya sudah melingkarkan pergelangan tangan di bahu sempit Leonna. Badan ramping gadis itu kemudian semakin ia rapatkan untuk masuk lebih dalam di bawah naungan payung.
Lain lagi dengan keadaan Leonna. Ia memang sempat tersentak diperlakukan manis seperti ini oleh Reid. Tetapi, pada ujungnya ia pun tidak menolak. Temperatur tubuh Reid yang terbilang cukup hangat. Bagaimana bisa Leonna berkata tidak?
Namun, tetap saja. Perlakuan Reid yang sekarang mendadak berubah drastis, tentu tidak akan langsung membuat kekesalan Leonna terhadap Reid menguap begitu saja. Gadis berkebangsaan Rusia ini bukan malaikat. Jadi, dapat dimaklumi kalau ia masih marah.
“Jahat.”
Leonna menatap datar wajah Reid. Cowok itu tampak bingung. Wajar kalau Reid tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Leonna. Deras hujan dan guntur yang mulai bersahut-sahut tentunya akan lebih kencang dari sekadar gumaman.
“Apa?”
“Kau monster Reid. Kau yang tadi mengusirku. Aku tidak melakukan apa pun. Kenapa kau berkata begitu kasar kepadaku? Untuk apa pula kau menolongku? Aku tidak pernah meminta. Kau yang berlari ke arahku. Jahat sekali. Kau benar-benar bajing*n Reid!”
Amukan Leonna dengan suara serak dan hampir putus-putusnya itu agaknya berhasil menusuk belati di hati Reid.
Pemuda yang lahir di musim dingin di hadapan Leonna itu sontak membulatkan kedua netra gelapnya. Ia syok? Jelas. Tetapi, tidak ada manfaat bagi mereka untuk mengulur-ulur waktu dengan bertengkar. Tubuh Leonna sudah gemetar hebat bahkan sebelum ia menyampirkan jaket.
“Maafkan aku. Tapi, kita simpan dulu pembicaraan ini. Tubuhmu sudah menggigil begini. Ayo, aku akan mengantarmu sampai halte.”
“Kau jahat!”
Bak anak kecil yang pundung karena hadiah ulang tahunnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Leonna kali ini berteriak kencang. Namun, Reid sudah terlanjur bertekad untuk mengantarkan Leonna.
Ia tentu tidak ingin menjadi penyebab gadis mungil ini sakit, apalagi tiba-tiba ambruk di tengah jalan ketika cuaca sedang amat tidak bersahabat. Kalau sesuatu terjadi, repot juga ia harus mendadak terus merasa bersalah kepada Leonna.
__ADS_1
“Ya. Aku jahat. Jadi, ayo! Kau masih kuat untuk berjalan kan?”
“...”
“Leonna! Tunggu.”
Bujukan Reid tidak digubris oleh Leonna. Cewek yang sudah berpenampilan sangat acak-acakan itu bahkan melempar sembarang jaket hitam satu-satunya Reid. Dan tidak sampai satu menit. Di bawah naungan payung kini hanya tersisa laki-laki jangkung dengan air muka panik.
Tetapi, Reid tidak lekas putus asa. Ia berkat kaki panjangnya dengan kilat telah kembali memayungi Leonna. Jaket yang tadi sempat hampir ditelantarkan Leonna juga beruntung berhasil ia tangkap sebelum menyentuh tanah. Bahu sempit Leonna kemudian Reid lindungi lagi dengan jaket hitamnya.
“Aku sekali lagi minta maaf.”
Acara kejar-kejaran Reid dan Leonna berakhir dengan kian kuyup. Payung yang Reid bawa sepertinya sangat lelah karena terus-menerus ditepis oleh Leonna. Tubuh dan pakaian Reid yang sebetulnya tadi hanya setengah basah, kini hampir sama banjirnya dengan Leonna.
“Ini ambil jaketmu. Nanti kau terpapar kesialanku lagi.”
Ia padahal telah menolak terang-terangan ketika Reid berulang kali melingkarkan lengan kekarnya di bahu kurus miliknya. Tetapi, cowok itu juga puluhan kali tidak sama sekali menghiraukan penolakannya.
“Kau—! Terserah, kau saja.”
Tubuh Reid sama menggigilnya dengan Leonna. Tapi, ia berani bertaruh. Ia tidak mungkin sakit. Karena mungkin kutukannya yang lahir di tengah lebat-lebatnya hujan salju. Reid lebih kuat menahan dingin, ketimbang cuaca panas.
“Tsk! Apa gadis itu akan baik-baik saja?”
Reid mengusak surai hitam yang sudah lepeknya dengan gusar. Ia karena pengaruh lelah dan ucapan Leonna yang seolah baik-baik saja tadi langsung pergi tanpa pikir dua kali. Namun, tidak tahu ilham dari mana. Reid tiba-tiba teringat dengan pakaian Leonna yang agak, cukup, sangat menerawang.
“Kenapa kau kembali? Apa ada barangmu yang ketinggalan?”
Benar tebakan Reid. Cewek yang tengah rapat-rapat mendekap tubuhnya sendiri itu serta merta melontarkan banyak kalimat tanya. Tidak salah juga ternyata pilihannya untuk kembali lagi menemui Leonna di halte bis.
__ADS_1
Bibir Leonna kini lebih pucat dari sebelum-sebelumnya. Pipi, telinga dan dahinya juga telah merah padam. Bisa dipastikan, setelah ini Leonna pasti terserang demam.
“Tidak. Pakai ini. Aku akan mengantarmu sampai ke apartemen.”
“Apartemen?”
Bola mata Leonna sontak membulat lucu. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Reid. Sedangkan Reid yang meski tengah asyik mengumpat dalam hati hanya bisa pasrah. Ia menyerah. Perasaan aneh ini telah sukses besar menguasai jiwa dan raganya.
“Aku akan mengantarmu pulang!”
“Apa?”
Leonna untuk ke sekian kalinya terbeliak. Apa Reid akan benar-benar mengantarkannya hingga ke apartemen? Apa ini mimpi? Jika, tidak. Siapa pun! Tolong cubit, tidak! Tolong tampar, Leonna!
...🐣🐣🐣...
Pintu apartemen mewah terbuka lebar di hadapan Reid. Ia sudah dua menit mematung di tempat. Leonna yang sejak tadi tidak sepenuhnya sadarkan diri juga masih berada dalam rangkulannya. Perjalanan panjang yang tidak hanya memakan waktu, tetapi menguras energi dan isi dompetnya mungkin tidak akan langsung berakhir.
Jiwa kebersihan Reid kini sedang meronta-ronta. Ia telah kesal maksimal ketika mobil bis tidak datang dan Leonna yang tiba-tiba pingsan. Taksi dengan biaya hampir memakan uang kerja paruh waktu satu minggunya akhirnya terpaksa harus ia pesan.
Sepeda hitam kesayangan Reid juga dengan pasrah harus kehujanan di pelataran sekolah. Beruntung, tadi saat di dalam taksi panggilan teleponnya berhasil diangkat oleh Pak Juli. Ia syukur tidak jadi frustrasi meski masih kesal karena berulang kali menelepon Pak Ameen, tapi hanya dijawab dengan balasan pesan suara otomatis.
“Orang kaya memang benar-benar merepotkan. Apa harus sebegini berantakannya apartemenmu? Aku tidak habis pikir. Kau ternyata akan urakan parah seperti dalam sinetron favorit Tuan A-Chen.”
.
.
Bersambung...
__ADS_1