HTTP 404

HTTP 404
Bab #34


__ADS_3

Mata Reid memandang lesu layar komputer di depannya. Ia pagi-pagi begini sudah nongkrong di belakang meja konter internet kafe. Ya. Ini adalah hari Sabtu dan seharusnya ia bekerja paruh waktu menjadi tukang konstruksi bangunan bersama Paman Smith. Namun, bocah kelahiran Honolulu itu tiba-tiba saja menelepon dan memintanya untuk menggantikan shift kerja paginya di 1#Txias Siber Kafe.


“Apa kau benar-benar berpacaran dengannya sekarang?”


Tiga orang pemuda yang baru saja duduk di depan komputer mereka masing-masing tiba-tiba buka suara. Reid Cutler yang memang sedang bosan maksimal serta merta ikut tenggelam dalam pembicaraan mereka. Ia melirik sebentar. Kemudian berpura-pura memasang headphone dan memandang lurus lagi ke arah layar monitor.


“Berhenti membuat rumor. Itu hanya satu ciuman, bagaimana bisa langsung berpacaran begitu saja? Lagi pula, kami tidak pernah saling kenal sebelumnya. Kalian tahu kan, beda kelas dan beda tingkat. Apa kalian pikir cinta bisa datang begitu saja tanpa saling mengenal?”


Seorang pemuda dengan wajah paling mending dari dua kawannya berucap kesal. Pertanyaan sejolinya ini betul-betul tidak berfaedah.


Memang, kegiatan mereka sekarang juga tidak sama sekali ada manfaat. Tetapi, siluman curut itu setidaknya harus bisa lebih pintar mengendalikan hasrat bergosipnya. Ini kan tempat publik! Bagaimana kalau ada yang mengenali mereka nanti? Para junior dari sekolah elite itu kan amat sangat tertarik dengan topik berlebihan macam ini.


“Kau mengelak lagi. Baiklah, begini saja. Apa detak jantungmu dag-dig-dig kencang ketika berada di dekatnya?”


Cowok kurus dengan topi hip-hop putih berlogo tidak ada sinyal ikut berceletuk. Ia melongok sedikit ke dalam bilik komputer objek gosip pagi buta mereka. Sedangkan yang dijadikan bahan obrolan sontak berdecak risi. Ia sebetulnya tidak ingin sekali buang-buang waktu dengan bermain game online di sini. Toh, di apartemennya juga ada komputer.


“Sedekat apa yang kau maksud? Kalau satu jengkal tepat di depan muka, siapa pun pasti akan berdebar-debar.”


Jawaban dingin dan tidak peka cowok dengan dua tahi lalat kecil di pergelangan tangan spontan membuat dua kawannya menghela nafas panjang. Anak jurusan sains memang sulit sekali untuk diajak bercanda, syukur-syukur berbicara. Sudah mereka terlalu serius, harus melulu sesuai teori, perhitungan dan logika. Mana ada lelucon pakai aljabar, kan?


“Kau ini. Kalau begitu, ketika netra kalian bertemu. Apa kau merasakan sesuatu? Daun telinga dan pipi memanas? Jantung berdetak cepat dan—terangs*ng?”


Tanya lagi cowok dengan kemeja biru yang dikeluar masukkan setengah-setengah.

__ADS_1


Namun, tanpa mereka dan pengunjung lain sadari. Reid Cutler kini telah sejuta kali kian gencar untuk menyimak alur pembicaraan tiga serangkai ini. Ia memang tadi sempat kedatangan empat lima pengunjung baru. Tetapi, indra pendengarannya memang sedang tajam-tajamnya. Jadi, mau diinterupsi tiap detik pun ia masih tetap, akan, dan bisa fokus.


“Vulgar sekali otakmu. Tapi, dengar. Aku tidak pernah merasakan sesuatu semacam itu. Kita juga masih duduk di bangku SMA, buat apa buang-buang waktu untuk pacaran. Lebih baik mempersiapkan masa depan. Kuliah, kerja, kemudian nikah jika sudah mapan. Simpel, kan?”


Cowok yang sekarang mulai asik memainkan PUBG menarik menghembuskan nafas sejenak. Rentetan kalimat tiga kilometernya tadi betul-betul membuat paru-parunya sempat terjepit. Ia pun bukan tipikal orang yang suka bicara. Jadi, lelah sekali jika harus berceloteh panjang-panjang seperti itu.


“Adik kecilmu di sana pasti cepat atau lambat akan meledak, jika terus-menerus kau kurung. Satu kali pacaran saja. Kapan lagi kau bisa merasakan momen seperti ini? Masa-masa muda 17-18 tahun yang penuh kebebasan dan romansa. Ingat. Kau SMA hanya tiga tahun, kecuali kalau kau memang memilih untuk tidak naik kelas.”


Insan hobi mengoceh itu akhirnya berhenti juga. Namun, belum ada beberapa detik dari suasana tenang dan lantunan musik yang terdengar begitu pas dari pengeras suara utama kafe. Laki-laki dengan tindik imut di kanan-kiri daun telinganya tiba-tiba angkat bicara.


“Hei, hei. Lebih baik kalian lihat ini. Aku baru saja bergabung di forum ini dan mungkin Tuan Wilde kita lebih tertarik dengan pacar virtual. Lagi pula, kau sendiri juga nanti bisa mencari di internet ciri-ciri orang tengah jatuh cinta. Jadi, sebagai peringatan saja. Jangan sampai suatu hari kau menyesal gadis itu mendadak diambil pejantan lain!”


“Berisik sekali.”


Alis cowok berhiaskan rahang tegas itu lantas tertaut. Ia yang sudah masuk ke dalam beranda forum GCD! ternyata perlu untuk mendaftarkan akun terlebih dahulu agar bisa sekadar mengintip. Embusan nafas pasrah kemudian meluncur indah dari hidung mancung Reid.


“Tunggu, tunggu. Forum GCD! kau bilang? Aku dulu sepertinya sudah pernah membuat akun di sana. Tetapi, mungkin langsung kuhapus karena tidak ada yang menarik.”


Percakapan dengan topik forum GCD! kian panas dari sebelumnya. Christian Wilde atau yang dua laki-laki sebaya dan atau kurang lebih dari usia Reid Cutler panggil Tuan Wilde perlahan menghela nafas lega. Terserah, apa yang tengah ribut dicelotehkan dua cecunguk ini. Yang penting adalah bukan ia yang menjadi bahasan utamanya.


“Lihat, lihat! Akun Lion.Me ini sedang hangat-hangat parah. Banyak sekali spekulasi dan tagar khusus yang sedang mencoba membongkar identitas aslinya.”


Daun telinga Reid Cutler refleks berdenyut. Nama Lion.Me entah kenapa terdengar begitu familier dengan nama Leonna. Tapi, mungkin itu hanya tebakannya saja. Lagi pula, untuk apa seorang kaya raya macam Leonna bergabung dengan forum GCD! apalah itu kepanjangannya. Yang hidup dalam lilitan kemiskinan seperti dirinya saja, alih-alih menggunakan, tahu saja ia baru sekarang.

__ADS_1


“Membongkar identitas. Apa semua akun di sini digunakan secara anonim?”


Sosok berpakaian ala pemain papan seluncur jalanan (baca; skateboard) menatap kawan yang duduk satu blok di sebelah kanannya kian penasaran. Pertanyaan dari pemuda yang Reid kira tidak akan ikut nimbrung lagi itu juga pas sekali dengan yang sempat terlintas di benaknya.


“Dua ratus persen tepat. Semua akun diminta untuk menjaga anonimitas dan tidak membagikan nomor ponsel, gambar, dan konten sensitif lain.”


Anggukan mantap dan penjelasan yang singkat padat, sukses membuat para lawan bicara, pendengar, penguping dan penyimak terdiam. Namun, keheningan tidak berlangsung lama. Celetukan cukup logis dari pejantan yang belum lama berhenti menjadi subjek gosip dua kawannya, sontak melonjakkan tinggi-tinggi temperatur di dalam ruangan.


“Untuk apa mencari pacar virtual kalau begitu. Bisa saja dia realitanya adalah seorang laki-laki yang menyamar!”


Christian Wilde melempar tatapan datar. Tapi, mungkin memang sudah tabiat cowok itu yang kurang peduli dan, ehm, rendah etiket berkomunikasi. Iris cokelat terang miliknya mendadak sudah tertarik lagi ke layar monitor.


“Betul juga sih. Tetapi, ya coba saja. Siapa tahu kau bertemu dengan gadis cantik, suci, bersih luar dalam.”


Dua pria yang duduk di pojok ruangan, beserta sekelompok pengunjung lain yang rata-rata berkelamin jantan tanpa sadar ikut mengangguk-angguk setuju. Tidak tahu ucapan mana yang mereka anggap lebih masuk akal. Namun, mencari, mengejar dan meringkus ‘peluang’ juga tidak dapat diremehkan, bukan?


“Permisi! Boleh kami pesan satu gelas kopi hitam, dua teh manis hangat, dua sandwich tuna dan satu sandwich sapi asap. Oh, satu sandwich tunanya tolong dibuat pedas level meteor ya!”


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2