
“A—aku selamat.”
Piring pertama yang baru saja ingin Leonna mandikan kini sudah tidak bernyawa. Syukur, pecahan-pecahan tajam itu jatuh tepat di bak pencuci piring. Jadi, ia seratus persen aman secara fisik. Namun, jangan tanya bagaimana kondisi mentalnya.
Leonna syok berat. Ia lupa dengan kejadian beberapa bulan lalu saat ia mencoba untuk memotong sosis. Bisa ditebak. Bukan badan olahan daging sapi itu yang ia potong. Melainkan jari manis berharganya yang sukses hampir cacat!
Beruntung, ketika tragedi mengerikan itu terjadi, Leo sedang kehausan. Kakak lelaki Leonna yang jauh lebih telaten dari adik urakannya ini dengan sigap menghentikan aktivitas mengiris jari.
Leo terkejut? Jelas. Tetapi, ia lebih marah dan akhirnya melarang Leonna untuk menggunakan benda tajam apa pun itu. Sifat protektif Leo, bahkan tidak hanya berhenti di situ saja. Ia saking seriusnya, juga menyuap guru-guru prakarya dan guru memasak angkatan Leonna.
Masa bodoh dengan cita-cita Leonna yang ingin menjadi seorang koki dan ingin memproduksi gaun sendiri. Mendidihkan air saja, Leonna sampai tiris. Bagaimana bisa ia mengerjakan yang lain-lain?
Terlebih, menggunakan mesin jahit. Jarum yang merupakan benda mati saja bisa menusuk Leonna hingga gadis itu menangis tersedu-sedu. Bagaimana bisa mesin yang bergerak dengan ujung tajam itu Leonna kendalikan seratus persen sesuai buku panduan dan tidak meninggalkan jejak luka setitik pun?
“Sepertinya tidak ada jalan lain. Aku benar-benar harus menelepon Bibi Xena untuk bersih-bersih nanti.”
Bibi Xena adalah pekerja kebersihan yang beberapa kali mama Leonna sebut sebelum Leonna terbang ke New York. Tapi, memang dasarnya Leonna keras kepala. Ia selalu bilang tidak butuh dan berjanji bisa mandiri tanpa bantuan wanita berdarah Jerman itu.
“Lantai ini terlalu kotor. Oh! Aku ingat. Mesin penyedot debu!”
Namun, sepertinya Leonna masih belum menyerah. Atau lebih cocok dikatakan, belum memuaskan rasa penasarannya. Ia tiba-tiba berjalan cepat menuju ruangan yang tidak pernah sekali pun ia masuki.
“Manajer botak itu bilang ada di ruangan paling ujung—nah, ini dia!”
Gerakan kaki jenjang Leonna terhenti. Insting dan ingatannya ternyata masih berbaik hati mau diajak berkompromi. Sekarang, gadis pirang itu sudah mencengkeram badan mesin penyedot debu. Ia mungkin karena terlalu semangat, hingga lupa untuk membaca instruksi dalam buku berlembar licin di dalam kotak Dayzon V31.
__ADS_1
“WAH! Benda ini—”
Mata Leonna menyipit. Alat penyedot debu seharga lebih dari tujuh ratus dolar sudah berdiri sempurna di atas lantai.
“—ujung mana yang perlu aku pakai? Kenapa ada banyak sekali? Ugh! Siapa pula gerangan yang memproduksi alat serumit ini? Mereka pasti hanya ingin menunjukkan betapa majunya teknologi abad 21.”
Sepuluh menit berlalu. Leonna pasrah. Ia lelah berkutat dengan moncong mesin penyedot debu. Ia lalu dengan gerakan malas menutup kembali pintu gudang. Kaki jenjangnya kemudian melangkah cepat menuju ruang tengah.
“Aku menyerah. Ruangan ini juga sudah lebih manusiawi. Jadi, lebih baik sekarang aku bersih-bersih dan istirahat.”
Apron bermotif stroberi kecil-kecil itu Leonna lepas. Ia lalu berjalan memasuki kamar mandi. Setelah hampir lima belas menit, ia akhirnya selesai bersih-bersih. Ia dengan hanya berbalut jubah mandi kemudian berjalan riang ke arah lemari pakaian.
Piyama polos dan seprei bernuansa vanila Leonna ambil. Ia kemudian buru-buru berpakaian dan setelahnya, beranjak memasangkan seprei yang masih tercium bau khas pabrik. Maklum, semua furnitur dan barang-barang di apartemen Leonna adalah produk baru.
Waktu berlalu cepat. Leonna kini sudah berbaring meringkuk di atas ranjang. Ponsel pintar sudah sejak tadi bertengger di antara jari-jemari lentiknya.
Leonna berseru kesal. Ia dengan wajah tertekuk membanting kasar ponsel pintarnya. Tadi itu adalah kekalahan ke enam Leonna. Ia memang senang bermain game online. Tetapi, entah kenapa ia kalah terus dan jika kalah satu dua kali ia wajar. Tetapi, enam?! Kalau begini lebih baik ia tidur saja. Capek pula matanya lama-lama terkena sinar ponsel.
PING!
“Apalagi ini? Jangan bilang—Reid?!”
Selimut yang sudah setengah jalan menutupi separuh tubuh Leonna terpaksa terbuka lagi. Gadis yang sudah memakai penutup mata berbentuk kodok itu sontak buru-buru mengambil ponsel pintarnya. Terang cahaya ponsel menerangi seram wajah Leonna.
Tiga detik berlalu. Leonna sudah bolak-balik tiga kali memeriksa kotak pesan. Tidak ada nama Reid dan hanya ada pesan dari operator kartu teleponnya yang sudah seminggu belum ia baca. Telunjuk Leonna kemudian menarik bagian bar layar ponsel. Kedua alis pirangnya mendadak berkerut tebal.
__ADS_1
...[ Anda memiliki 999+ notifikasi baru dari forum GCD! ]...
...Lion.Me! Anda mendapatkan 5,5 juta pengikut baru, 8 juta suka dan 3,8 juta komentar. Segera cek dan lihat siapa saja yang telah mengikuti, menyukai dan mengomentari postingan anda. Silakan tekan untuk mengetahui lebih lanjut....
Leonna betul-betul terkejut dengan pemberitahuan yang tertera di bagian atas layar ponsel pintarnya. Mulutnya menganga tidak percaya. “Apa ini? Lima juta pengikut?! Bagaimana bisa? Apa mungkin akunku diretas seseorang? Duh, bagaimana ini?”
Jari-jemari Leonna kian gemetaran ketika mulai mengamati lebih detail notifikasinya di akun GCD!. Ia mengeklik satu per satu akun yang mengomentari postingannya. Tidak butuh waktu lama. Dua puluh lebih akun sudah ia cek. Seluruh akun yang memberikan komentar ternyata juga mengikuti akunnya.
Namun, semakin membuat bingung Leonna karena akun-akun itu memiliki jumlah pengguna yang normal. Beberapa malah ada pula yang telah sampai tiga dan lima juta pengikut. Ia lalu dengan bergunung-gunung rasa penasaran membuka kolom pencarian.
Empat pencarian teratas yang tertera bisa jadi membuat Leonna terkena serangan jantung. Akun Lion.Me miliknya itu tertulis di atas sana. Di kolom bar dengan berbagai macam artikel. Salah satu yang paling menarik perhatian Leonna adalah rentetan huruf-huruf yang menyebutnya sebagai keturunan pilar berpengaruh di dunia bisnis internasional.
Lebih membuat Leonna tidak nyaman lagi dengan beberapa tagar dari banyaknya tagar yang menandai akun Lion.Me itu telah mengumbar identitasnya baik secara langsung maupun tidak langsung.
Lima yang paling membuat Leonna jengkel dan lumayan merinding adalah tagar bertuliskan #Lion.MeGadisCantikGCD! #FotoSiJelitaLion.Me #Lion.MeTinggalDiNYC #PelajarSMASuperMenawanLion.Me dan #KonglomeratLion.MeNonaKaukasian.
“Mengerikan—! Apa perlu aku telepon Kak Leo? Tagar-tagar ini tidak bisa aku anggap remeh. Baiklah, jalan terbaik adalah menelepon Kak Leo. Harus beritahu Kak Leo sekarang juga.”
Kepala Leonna pening sendiri. Ia benar-benar ketakutan sekarang. Memang, salah satu tagar yang menyebarkan foto bertagar itu hanya terlihat sebelah wajah dan atau memotret dari belakang. Tetapi, pakaian gadis misterius di forum GCD! tidak salah lagi, merupakan setelan yang ia kenakan dua tiga hari kemarin.
Ponsel pintar Leonna yang sudah menampilkan tanda panggil ke kontak Leo masih terus menampilkan kata ‘menunggu’. Ia menatap layar ponsel dengan tidak sabar. Ibu jari sebelah kanannya ia gigiti sampai sedikit menghasilkan bekas luka.
Tut...Tut...Tut...
.
__ADS_1
.
Bersambung...