HTTP 404

HTTP 404
Bab #33


__ADS_3

Langkah Leonna terhenti. Ia sebetulnya sudah sejak lima menit yang lalu selesai dari melahap bubur buatan Reid. Tetapi, karena kata-kata cowok jangkung itu yang mengatakan akan menunggu sampai acara makannya tuntas, ia entah kenapa malah jadi ingin berlama-lama.


“Reid tidur ternyata. Apa aku perlu membangunkannya? Ia bilang setiap malam harus kerja kan? Apa nanti saja? Tapi—”


Leonna mondar-mandir bingung. Ia dilema apakah harus membangunkan Reid atau tidak. Namun, ia tidak tahu kenapa, malah tidak ingin sekali mengganggu tidur ganteng Reid. Atau mungkin lebih tepatnya, ia tidak ingin Reid pulang.


“Tampan sekali.”


Tidak jelas dorongan dari mana. Leonna yang sedari tadi hanya sibuk bolak-balik bergerak bagai setrika pakaian tiba-tiba berhenti. Ia melangkah super pelan ke arah Reid. Wajah menawan pemuda sebaya atau lebih tua dari Leonna itu bagaikan mengandung kekuatan magis.


Iris biru safir Leonna mendadak sudah terkunci di antara bibir proporsional Reid. Jantungnya sontak berdetak kencang. Nuansa merah muda dan minus rona hitam bibir insan ganteng itu agak—amat menggoda di mata Leonna.


Detik menit bergerak lambat. Tanpa Leonna sadari, dirinya kini sudah berada tepat di hadapan Reid. Jarak wajah mereka hanya terpaut kurang dari sejengkal. Tidak tahu apa yang telah merasuki Leonna. Jika ini adalah adegan sebuah film. Maka sangat mudah ditebak apa yang akan segera terjadi selanjutnya. Yup. Ciuman.


“A—apa yang aku lakukan?! Kau benar-benar sudah gila Leonna!”


Tidak ada lima ketukan. Tautan bibir Leonna dan Reid terlepas begitu saja. Pelaku penciuman bermarga Mileková itu refleks beringsut mundur. Peluh dingin mengucur deras dari kedua pelipisnya. Surai pirangnya pun spontan ia jambak dengan tidak manusiawi.


Leonna syok berat. Apa yang sebenarnya telah ia perbuat? Mencium seseorang yang tengah tertidur pulas? Seorang berjenis kelamin laki-laki yang sedang tidak sadarkan diri? Apa saraf-saraf otaknya konslet? Bagaimana bisa ciuman pertamanya mendarat di atas bibir ‘kenyal’ Reid?!


“Aku—aku. Maafkan aku!”


Mungkin, menurut Leonna gumaman bernada getirnya itu hanya bisa didengar oleh Tuhan dan dirinya sendiri. Tetapi, ia salah besar. Cewek yang sudah berlari luntang-lantung masuk ke dalam kamar itu tidak sadar, kalau objek yang baru saja ia renggut keperj*kaan bibirnya telah sejak bermenit-menit lalu terbangun.


Pipi Reid serta merta memerah. Ia kini betul-betul terbaring kaku. Roh dan jiwanya seolah kabur entah ke mana. Debar mengkhawatirkan itu pun kembali menginvasi.

__ADS_1


Namun, dari semua kehebohan yang tengah menimpa irasionalitas dan rasionalitas Reid. Sesuatu yang tersembunyi di balik selangk*ngannya mendadak bangun. Begitu tegang dan... (silakan dilanjut sendiri-_-).


“Apa aku masih bermimpi?!”


...🐣🐣🐣...


Jika Leonna diminta untuk memilih hari mana yang paling banyak bagi dirinya mengeluarkan air mata dari hari Senin hingga Minggu. Maka ia tidak akan ragu menjawab kalau hari itu adalah hari Jum’at. Atau lebih tepatnya, ‘hari ini’.


Bukan karena Leonna tipikal orang cengeng atau apa. Ia hanya merasa, kalau hari terakhir pada waktu hari kerja adalah titik puncak bagaimana hari libur seseorang dimulai. Terlepas dari hari Senin yang bisa jadi diawali dengan semangat membara atau malah suram minus energi. Hari Jum’at tidak dapat dipungkiri, mungkin akan menjadi lebih buruk atau lebih baik dari hari-hari sebelumnya.


Namun, untuk hari ini.


Jum'at malam Sabtu Leonna terpaksa harus diakhiri dengan banjir air mata. Pagi ini saja perasaannya sudah benar-benar buruk. Meski adakalanya ia mendadak berbunga-bunga dan sungguh gembira entah karena apa. Hanya saja, ada benarnya juga kata-kata mutiara yang sering muncul di beranda akun GCD! nya.


Pagi yang dibuka dengan perasaan cerah, peluangnya akan lebih major diakhiri dengan sukacita. Begitu pula sebaliknya. Dan, di sinilah Leonna. Menangis sesegukan seraya bergelung pundung di dalam selimut.


“Kau benar-benar idiot Leonna. Kegiatan ekstrem apalagi yang telah kau perbuat? Bagaimana bisa kau mencuri manis bibir seseorang yang tengah tertidur?! Apalagi orang itu adalah Reid! Reid Cutler! Kau benar-benar harus pergi ke dokter jiwa, Leonna!”


Gadis kelahiran bulan Juni itu lagi-lagi menjambak rambutnya dengan tanpa resistensi. Leonna sungguh telah kehilangan separuh akal sehatnya. Tetapi, mungkin karena memang Leonna terlalu lelah. Tidak ada tiga puluh menit semenjak pelariannya dari mencium Reid Cutler kini ia sudah kembali tertidur pulas.


Tok... Tok... Tok...


Hening. Reid sedari tadi hanya bisa melamun di ruang tengah. Kini degup jantungnya syukur telah lumayan tenang. Jam kerjanya di bar juga sebentar lagi akan tiba. Karena itu, ia tidak punya pilihan lain, kecuali untuk segera pulang dari apartemen Leonna.


“Leonna? Aku—aku akan pulang. Bubur sisa telah aku simpan di dalam lemari pendingin. Jika lapar, kau hanya tinggal memanaskannya hingga sedikit mendidih. Leonna? Apa kau tidur?”

__ADS_1


KLAK!


Pintu kamar Leonna dibuka tanpa permisi oleh Reid. Ia tahu, ucapannya tadi tidak sama sekali direspons oleh si pemilik apartemen. Namun, ia juga tidak terlalu paham mengapa jari-jemarinya dengan tanpa grogi memutar kenop pintu kamar Leonna.


Ia kemudian melangkah cepat menuju ranjang di mana Leonna tengah terbaring. Selimut tebal menutupi hampir seluruh badan dan wajah gadis itu. Ia yang setelah menepuk-nepuk sebentar badan Leonna dan tidak sama sekali bergerak, lantas membetulkan posisi tidur rekan kerja kelompoknya itu.


“Maaf, Leonna. Tapi—aku hanya ingin memastikan sesuatu.”


CUP!


Ciuman ringan Reid daratkan di bibir sewarna stroberi segar Leonna. Satu detik, tiga detik, empat detik, lima detik, tujuh tiga perempat det— “Berengsek! Apa maksudmu melakukannya Reid Cutler!”


Pintu kamar Leonna ditutup dengan minus kebendaan oleh Reid. Cowok yang tidak tahu kerasukan jin jenis apa itu buru-buru sekali melarikan diri dari apartemen Leonna. Ia mencium gadis itu saja sudah salah. Mengapa pula ia sampai sungguh menikmati dan melum*tnya?!


Oh, duhai Reid Cutler bin ‘siapa pun itu’. Pemuda tidak bisa menahan hasrat seperti dirinya tidak layak sekali untuk dijadikan panutan (para pembaca). “Anak muda! Apa nona cantik sudah dibawa dengan sehat selamat ke apartemen?”


Reid seketika merasa seperti seorang kriminal yang tengah diburon pihak berwajib. Air mukanya mendadak pucat pasi, begitu salah satu dari dua pria berseragam hitam yang tengah berjaga di depan kompleks apartemen Leonna, tiba-tiba saja menepuk pundaknya sok akrab.


Aksi berjalan setengah berlarinya lantas terjeda. Ia refleks lalu menengok dan berseru terbata-bata tanpa berani memandang wajah si lawan bicara.


“Tidak—ya! Maksudku, komplit, Pak Sekuriti!”


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2