
Semalaman Leonna tidak bisa tidur nyenyak. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Manalagi hari ini adalah hari-H pertunjukan komedi pendek Spanyolnya dengan Reid. Ia jadi takut sekali nilai mereka tidak memuaskan gara-gara ia yang mendadak terlalu grogi, apalagi sampai lupa naskah.
“Apa ini benar Leonna?” Dave yang baru datang iseng mencubit pipi putih mulus Leonna. Ia syok betul melihat penampilan kawannya ini yang 99.9% mirip zombie.
“Ada apa dengan wajahmu? Lihat kantong tebal di bawah matamu ini? Apa kau tidak tidur semalam? Sibuk berlatih dialogmu dengan Reid?”
Pretha yang baru saja kembali dari membuang bungkusan susu dalam kemasan karton berukuran mediumnya, serta merta ikut nimbrung.
Ia sebetulnya kurang lebih sama miris semangatnya dengan Leonna. Yup. Kalau saja ia tidak bergadang untuk menamatkan dua series film aksi kesukaannya itu hingga pukul tiga dini hari. Dapat dipastikan, pagi ini ia tidak akan terus menerus menguap bak kuda nil.
Tetapi, jika dibandingkan dengan Leonna. Aura yang menguar di sekeliling gadis asal Rusia ini, serius bukan main suramnya. Ia bahkan sampai sempat bergidik ngeri melihatnya.
“Aku tidak bisa tidur semalam.” Jawab Leonna, masih menenggelamkan wajah mendungnya di antara lipatan lengan kurusnya di atas meja.
__ADS_1
“Kenapa begitu? Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?”
Senyum mengejek di muka Dave mendadak lenyap. Ia rasa Leonna memang benar-benar sedang terbebani oleh sesuatu. Jadi, ia ingin mengajak Leonna bercanda pun agaknya kurang bagaimana~ gitu...
“Aku juga tidak tahu.” Desah Leonna seraya mengacak surai keemasannya frustrasi.
Masalah akun GCD! nya yang banjir pengikut, suka, dan komentar saja belum tuntas. Belum lagi tagar-tagar tidak bermoral yang mencoba meretas dan menyebarkan secara ilegal identitasnya. Itu semua pun baru problematikanya di dunia virtual.
Dan sekarang, problematika di dunia nyata. ‘Real Life’ kalau bahasa Inggrisnya. Ia harus bagaimana kalau begitu? Tidak mungkin kan ia sampai lulus main petak umpat dengan anggota TTS. Oh, hampir lupa, belum lagi dengan jelmaan jin tomang itu dan duo kacungnya.
“Benar kata Pretha. Tidak mungkin kau tidak tahu. Kau pasti hanya ingin mengelakkan?”
Dave lagi-lagi mencubit gemas pipi Leonna. Ia meski belum ada dua minggu berkenalan dengan Leonna dan lebih lagi sebagai ‘teman baik’, tentu akan ikut merasa tidak senang, jika kawannya berekspresi super gelap gulita begini. Apalagi, kalau itu adalah seorang Leonna Mileková.
__ADS_1
“Aku serius tidak tah—”
BRAK!
“Ini kostum dan propertinya.”
Punggung Leonna sontak menegak begitu mendengar suara berat Reid. Ia kemudian melirik sekilas bungkusan berisi barang-barang dan pakaian yang kemarin ia dan Pangeran Es ini setujui untuk dipergunakan dalam pertunjukan teater komedi mereka.
“Kau sudah siap, kan?”
Telunjuk Reid yang bersembunyi di balik saku celananya menggaruk-garuk grogi. Ia memang sudah biasa mendapat banyak tatapan seperti ini. Hanya saja, situasinya sekarang tengah sungguh amatlah tidak tepat. Terlebih, Leonna malah hanya terus membisu.
“Bagus kalau begitu. Jangan sampai nilai kita nanti tidak maksimal karena ketidakseriusanmu.”
__ADS_1
Nuansa buah stroberi merah segar spontan terlukis di wajah bening, namun agak pucat Leonna. Ia tadi karena terlalu terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Reid, sehingga bahkan tidak sanggup untuk sekadar menganggukkan kepala, menanggapi.