
Deru nafas Reid terdengar begitu berisik. Pemuda yang masih mandi keringat itu kian mengumpat dalam hati. Ia pasti sudah betul-betul kehilangan akal sehatnya sampai-sampai harus melampiaskan amarahnya kepada Leonna.
Sedangkan gadis itu jelas langsung tertegun. Rentetan kalimat dan nada bicara Reid barusan seketika membuat sesuatu di dalam dadanya nyeri. Begitu nyeri hingga ia pikir, tubuhnya mungkin sudah dipenuhi banyak luka gores, bahkan luka robek.
“Apa maksudmu? Sial? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu kepadaku? Aku juga tidak tahu kalau bola itu akan melayang tepat ke arahku!”
Wajah Leonna merah padam. Ia jelas amat kesal sekarang. Tentu. Bagaimana bisa ia yang hampir menjadi korban lemparan bola yang malah disalahkan? Terlebih, ia makin tidak habis pikir karena Reid juga tiba-tiba saja membawa kata sial.
“Masa bodoh dengan bola atau apa pun itu! Bisakah kau berhenti menyebarkan kesialanmu itu?!”
Amuk Reid tidak jelas. Ia sesuai kalimat yang baru saja ia muntahkan. Seratus persen masa bodoh dan tidak mau tahu menahu dengan apa atau bagaimana perasaan Leonna. Ia kini sudah resmi telah menjadikan Leonna sebagai tempat pelampiasan.
Entah, apa yang akan terjadi setelah ini, Reid sudah terlalu malas untuk sekadar memikirkan konsekuensinya.
“Apa—apa kau perlu berbicara sekasar itu kepadaku? Aku tidak mengerti Reid! Apa masalahnya antara kesialanku, pertandingan basketmu dan jadwal kerjamu?!”
Ucapan marah Leonna bagaikan ujung tajam tombak yang menohok telak rasionalitas Reid. Remaja dengan pakaian serba hitam itu bahkan tidak sama sekali mengerti kenapa ia bertindak tidak karuan seperti ini. Ia juga tahu kalau Noah Thatcher pasti tidak akan bermain jujur. Tetapi, mau bagaimana? Ia sudah terlanjur memarahi Leonna.
“Tsk! Sial!”
Umpat Reid cukup kencang. Leonna yang sekali lagi terkejut sontak mengerutkan keningnya dua kali lebih tebal. Ia marah dan jelas tidak terima dengan semua kalimat yang tadi dilontarkan Reid. Tetapi, ia lebih kecewa dengan bagaimana cowok ganteng itu bersikap.
“Jadi, kesalahanku adalah karena selalu membawa kesialan bagimu? Itu maksudmu, Reid?”
Netra Leonna memandang lekat iris gelap Reid. Cowok itu seketika terenyuh. Namun, ia terlalu enggan untuk mengakui, apalagi meminta maaf kepada Leonna. Ia lalu beralih mengurut kencang pelipisnya dan berbalik memunggungi Leonna.
__ADS_1
“Haa, aku benci ini. Baik, ini memang bukan salahmu. Tetapi, untuk antisipasi saja. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Dan untuk masalah tugas dari Profe Ledger, kita bisa mengerjakannya lewat pesan atau e-mail.”
Reid berucap cepat. Ia tidak ingin lagi berlama-lama berbincang dengan Leonna. Biarlah gadis itu mau berpikiran macam apa terhadapnya. Tapi, untuk sekarang, reaksi kerja sel-sel otak Reid betul-betul tengah amburadul. Jadi, jikalau pun ia ingin meminta maaf atau apa. Ia rasa ia tidak bisa.
Sementara Leonna yang mendengar kalimat penuh penekanan dan tanpa hati Reid lantas tercengang. Ia semakin dibuat syok saja dengan karakter Reid yang kian mirip ‘cowok bajing*n’. Namun, ia tidak bisa meninggalkan percakapan mereka berakhir menjadi ambigu dan seolah-olah menjadikan dirinya dan Reid tidak pernah saling kenal.
Lagi pula, bukankah seharusnya Reid meminta maaf terlebih dahulu? Bagaimana bisa cowok itu dengan seenaknya memutuskan secara sepihak. Lebih lagi, ia juga disuruh untuk tidak pernah menampakkan diri lagi di hadapan Reid. Memangnya ia ini apa?
“Apa? Tapi...”
“Bisa kau pergi sekarang? Aku lelah.” Hati Leonna seperti disambar petir. Reid mengusirnya? Yang benar saja?!
“Apa kau tuli? Enyah sekarang!”
Lebih baik ia cepat-cepat pulang dan beristirahat. Terserah, bagaimana nasib kerja kelompok mereka. Leonna bahkan telah kehilangan seluruh hasrat untuk sekadar memikirkannya. Jadi, ya sudah. Biarlah Reid saja yang mengerjakan. Masalah nilai, hanya satu mata pelajaran tidak mengumpulkan tugas, ia juga tidak mungkin tidak lulus.
“Reid, kau benar-benar sudah gila.”
Surai hitam yang setengah basah itu Reid tarik kencang-kencang. Leonna sekarang sudah berjalan setengah berlari ke luar dari gedung olahraga. Padahal hujan belum berhenti dan yang ada malah lebih deras dari sebelumnya.
Reid ingin tidak peduli. Tetapi, sesuatu di dalam kepalanya mendadak membelot. Suara-suara bernada kesal, histeris dan penuh amarah seolah meneriakkan logikanya untuk segera menyusul kepergian Leonna.
Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi kepada Leonna? Di tengah hujan dan jalanan sepi ketika cuaca sedang buruk seperti sekarang. Siapa yang akan menolong gadis itu jika hal-hal tidak mengenakkan tiba-tiba menimpanya?
“Tsk! LEONNA!”
__ADS_1
Bisa ditebak. Leonna tidak sama sekali mendengar teriakan Reid. Cewek dengan pakaian yang sudah kuyup itu melangkah lambat di bawah deras guyuran air hujan. Wajahnya telah berubah amat kusut. Bibir merah segarnya sekarang tidak lagi memiliki warna. Begitu pucat dan menyedihkan.
“Gadis itu, apa dia sudah gila?! LEONNA! HEI!”
Gerakan kaki Reid kian cepat. Hanya tinggal beberapa meter untuk menggapai Leonna. Namun, sementara Reid sibuk berceloteh dan berseru, Leonna tiba-tiba berhenti melangkah. Ia menengadah ke langit. Air hujan tanpa perlu menunggu satu detik sudah membanjiri rata seluruh wajahnya.
Ia tidak tahu kenapa. Kedua matanya memanas. Tubuhnya yang kurus ringkih pun sejak tadi telah bergetar kedinginan. Rasa pening dan pandangan yang mulai mengabur juga kini telah hampir menginvasi habis seluruh kesadarannya. Ia sendiri sampai tidak yakin, apakah ia bisa tiba di apartemen dengan kondisinya sekarang yang mendadak begitu lemah?
“Hujannya terlalu deras. Apa akan ada bis di cuaca jelek seperti ini? Agaknya tidak, ya? Jadi, aku harus jalan kaki lagi untuk hari ini? Miris sekali.”
Gumam Leonna menyapa samar-samar gendang telinga Reid. Remaja overdosis kalsium itu hanya tersisa satu langkah lebar di belakang Leonna. Ia menarik nafas sebentar. Pakaian gadis itu syukurnya lebih tebal dari biasanya. Atau, tidak?
Hoodie abu-abu kebesaran yang dikenakan Leonna memang tampak tebal. Tetapi, jika diperhatikan lebih jauh. Pakaian dalam Leonna agaknya masih kelihatan. Reid bahkan bisa menangkap dengan jelas warna hitam dari, ehm, pakaian tiga huruf itu.
“Leonna!”
Tepukan cukup bertenaga mendarat di pundak Leonna. Beruntung, tadi Reid sempat menyabet jaket hitam dan sebuah payung sebelum berlari keluar dari gedung olahraga. Ia kemudian tanpa banyak cek-cok langsung menyampirkan jaket yang masih setengah kering itu ke tubuh mungil Leonna. Payung yang bodohnya sejak tadi hanya ia genggam pun lalu ia buka.
“Kau benar-benar bodoh. Apa kau sudah bosan hidup? Bertapa di bawah guyuran hujan seperti ini? Kau benar-benar bisa mati kedinginan, Ya Tuhan!”
.
.
Bersambung...
__ADS_1