
Beberapa siswa-siswi dengan pintu kelas membelalak lebar, bahkan yang tidak ada lima derajat terbuka, tidak jarang melongok ke luar ruangan ketika kedua figur itu lewat.
Bisik-bisik hingga jerit girang tidak lama kemudian, saling sahut-menyahut saat sadar kalau wajah rupawan milik siluet jangkung yang berlalu santai, namun cepat secara bersamaan itu ternyata adalah potret si Pangeran Es.
Tetapi, berkat kebisingan itu pula, air muka sosok mungil di belakang pujaan hati gadis-gadis SHS, kian lama kian tercetak jelas teramat sangat grogi.
Apalagi, sesaat setelah sosok remaja tanggung berambut sepekat tinta cumi-cumi itu mulai memasuki ruangan bertuliskan laboratorium bahasa, yang terletak dua blok terakhir di ujung lorong dan lumayan jauh untuk ia capai, kecuali jika sang gadis pemalu itu sudi untuk berlari dan bukan berjalan sok tenang seperti sekarang ini.
Hampir dua menit.
Gadis dengan blazer kuning cerah dan harusnya kelihatan ceria, jika menuruti nuansa setelan terangnya di pagi hari menjelang siang itu mendadak berhenti, dua tiga langkah dari pintu yang merupakan tempat remaja laki-laki bertubuh tegap, Reid, itu masuk.
Dadanya lalu perlahan naik turun beraturan. Berusaha sekali sepertinya ia, untuk tampil serileks dan senormal mungkin ketika nanti memasuki ruang kelas, yang memang sudah ramai pelajar berusia sebaya atau kurang lebih hanya terpaut, paling tidak, mentok satu-dua tahun dari umur tujuh belasnya.
‘Baiklah, tidak ada yang perlu ditakutkan. Tarik nafas dan—hembuskan. Oke, aku siap. Semuanya akan baik-baik saja.’
Kaki tertutupi celana putih bersih Leonna melangkah anggun melewati pintu masuk dan bak seorang model papan atas yang tengah tampil di atas karpet merah. Semua mata sontak memandang penasaran satu-satunya orang yang datang paling akhir ke kelas.
Namun syukur bagi Leonna, dua insan yang kelihatan jauh lebih familier daripada penghuni kelas lainnya, dengan wajah berseri-seri langsung melambaikan tangan begitu netra biru Leonna bertubrukan tidak sengaja dengan netra keduanya.
“Leonna! Dari mana saja? Kok baru datang sih?!”
Tepat sesuai perkiraan. Kedua figur di depan Leonna serta merta membombardir Leonna dengan pertanyaan ini dan itu.
Suara nyaring sosok berkulit hitam manis, Pretha, bahkan sampai membuat hampir seluruh kelas melirik penasaran ke arahnya dan tentu, ke arah Leonna, serta seorang cowok dengan potongan rambut macho, Dave, yang duduk di sebelah Pretha, mau tidak mau, juga ikut menarik perhatian mereka. Terutama Leonna yang notabene-nya adalah ‘anak baru’.
“Iya, untung gurunya tadi tidak mengabsen. Pasti kesiangan, ya? Tetapi, bukannya gerbang sekolah sudah ditutup. Jadi, kok bisa?”
“Ah, itu...”
Leonna tersenyum hambar ke arah Dave. Kedua alis kuning keemasannya samar-samar berkedut, mendengar pertanyaan yang sejak tadi diwanti-wanti kemungkinan besar akan dilontarkan salah satu dari kedua orang ini. Entah itu dari Pretha atau Dave.
Namun, Dave sepertinya memang jauh lebih peka untuk hal-hal berbau detektif, penuh analisis, teori dan berbagai motif mengandung misteri lainnya.
Tatapan tajam lagi mengintimidasi Dave, bahkan juga sukses membuat Leonna bertingkah janggal di mata kedua temannya itu, akibat terus berulang kali bangun-duduk, geser kiri-kanan membetulkan posisi duduk yang jelas sekali tidak perlu ada koreksi.
“Reid, sayang!”
__ADS_1
Beruntung, mungkin, bagi Leonna. Nada alay, terlampau cempreng dan sanggup membuat gendang telinga tidak hanya milik Leonna, melainkan juga Dave, Pretha dan tidak bisa disangkal, bisa jadi setengah populasi kelas, sontak mengalihkan atensi mereka ke arah sumber keresahan.
Tampak, di barisan paling belakang dekat pintu keluar.
Seorang gadis dengan dandanan super tebal, berpakaian modis, serta kelewat eksplisit untuk seumur anak SMA, tanpa permisi mendaratkan bokong berselimutkan rok jeans luar biasa mininya untuk duduk di bangku, yang bahkan pemilik aslinya tidak perlu repot-repot diberitahu, telah lebih dulu angkat kaki ketika gadis berlipstik merah darah itu mendadak berhenti tepat di depan tempat duduknya.
“Apa kamu baru datang?”
Reid tidak menjawab. Kelopak matanya terpejam dengan dua buah headset menyumpal masing-masing lubang telinga bersih, tanpa tindik.
Tetapi, memang mungkin gadis bercat rambut oranye kemerahan, serupa sekali dengan warna nyala api di hadapan Reid pada dasarnya memiliki kepercayaan diri tingkat dewa. Ia malah beralih mengetuk-ngetuk genit meja Reid.
Jari-jemari berhiaskan kuteks pink fanta bertaburkan kerlap-kerlip mirip glitter atau apalah sebutannya, lalu tanpa pantang mundur asyik bergerak mondar-mandir mengelus permukaan putih meja, sembari terus-menerus mengoceh ria ditemani kedua sejolinya yang tidak pernah telat barang sedetik, untuk menanggapi omong kosong si gadis mengesalkan.
“Ugh, menjijikkan.” Pretha tiba-tiba berucap memecah keheningan. Meski suaranya terbilang sangat kecil, tetapi Leonna dan Dave masih dapat dengan jelas mendengarnya.
“Quinn Delaney. Dia kuakui sangat cantik, tapi bisa dibilang dia adalah versi jeleknya Leonna.”
“Kau benar. Quinn, si primadona gila itu. Dengar Leonna, jangan pernah macam-macam dengannya. Dia apa yang kau sebut dengan jelmaan iblis.”
Pretha mengangguk-angguk setuju menanggapi komentar pedas Dave. Mereka berdua bersikap seperti telah lama mengenal gadis bernama Quinn Delaney yang dengan berani, diklaim tidak berdasar oleh Pretha sebagai primadona gila, jelmaan iblis dan mungkin masih terdapat daftar panjang lain mengenai nama panggilan gadis, yang walau Leonna tetap ingin berpikiran positif.
“Kalian berdua terlalu berlebihan. Lagi pula, kalian dapat sumber dari mana hingga bisa berkata begitu?”
“Dave dan aku adalah tetangga. Tapi, gadis ular itu, Quinn maksudku. Aku satu sekolah dengannya saat junior dulu. Beruntung, aku tidak pernah sekelas. Rumor di sekitarnya tidak ada yang bagus, sama seperti perlakuan centilnya sekarang kepada Reid.”
“Haha, benarkah?”
Leonna tertawa hambar. Gumaman asalnya tadi ternyata dibalas dengan cukup meyakinkan oleh Pretha.
Ditambah, fakta bahwa sejak junior saja banyak rumor negatif yang menyelubungi Quinn, pilihan Leonna untuk menjaga jarak. Berdiri pada lingkaran hijau dan aman secara lahiriah maupun batiniah dari Quinn, sepertinya adalah memang keputusan terbaik.
‘Kebiasaan jelek, sifat jelek, apa pun itu yang jelek-jelek memang benar kata pepatah. Sangat sulit untuk diubah pun dibenarkan kembali. Apalagi, kalau ternyata sudah terlampau mendarah daging. Lagi pula, bekasnya pasti tidak akan sejuta persen bersih serupa barang baru. Meski sudah dibilas menggunakan satu milyar kebaikan sekalipun, sesuatu yang negatif pasti akan lebih melekat ketimbang hal-hal positif.’
“Ya, sembilan puluh persen ucapan Pretha biasanya benar. Tapi ngomong-ngomong, Reid juga baru datang kan?”
“Tunggu-tunggu, kenapa persentaseku hanya sembilan puluh persen? Ke mana sepuluh persen sisanya? Tapi, benar juga. Jangan bilang kalau ternyata kalian berdua datang bersama kemari?!”
__ADS_1
Leonna sontak mengalihkan pandangan ketika pembicaraan Pretha dan Dave semakin dekat dengan realitas kesuksesannya tidak jadi bolos sekolah, yang adalah memang sebagian besar, bahkan tidak salah juga, jika dikatakan keseluruhannya ialah berkat bantuan seorang Reid Cutler.
“Ah, itu... tadi itu, aku...”
“Berhenti! Apa ini? Kenapa wajahmu malah memerah begitu? Apa tebakan Pretha benar? Tsk, kalau begitu aku lebih baik mundur.”
Dave melemparkan tatapan sedih yang sok didramatisir sepuluh kali lipat dari kondisi semestinya. Sementara Leonna yang baru sadar gara-gara ucapan patah-patahnya tadi, malah semakin membuat kedua kawannya itu kelihatan tambah curiga, hanya bisa menghembuskan nafas pasrah.
Namun, belum ada satu kedipan mata. Pretha dengan seenak perutnya lanjut memuntahkan kembali kalimat ini itu yang alhasil, berdampak buruk pada degup jantung kronis Leonna.
“Dave, lagi pula mana mau Leonna denganmu! Tentu, dengan wajah secantik ini. Mana mungkin kau punya kesempatan untuk bersanding dengan Leonna?! Menjadi teman saja sudah sangat terhormat, ya kan Leonna? Tapi, tolong perjelas. Kau benar-benar datang bersama Reid pagi ini, kan?”
“Haha, mata pelajaran ke dua bahasa Spanyol kan?”
“Kau mengelak Leonna? Haaa, aku semakin pesimis kalau begini.”
Pretha dan Dave serta merta mengerucutkan bibir mereka kesal. Benar-benar tidak puas dengan sikap Leonna yang kini malah sibuk mengotak-atik isi tas, sesaat ketika seorang pria kacamata bulat dari barisan terdepan berseru lumayan keras terkait kedatangan pengajar mereka untuk subjek mata pelajaran ke dua.
Iris biru safir Leonna tanpa sengaja bertabrakan dengan iris cokelat kemerahan Quinn dan tidak tahu keberanian dari mana, Leonna refleks melengos.
Ia kembali fokus mendengarkan komat-kamit Pretha dan Dave yang Leonna yakin, lebih bermanfaat ketimbang harus membuang-buang waktu beradu pandang dengan Quinn.
“Tsk! Anak baru itu! Apa kamu mengenalnya, Reid?”
“Gadis Rusia itu? Leonna Mileková?” Seorang gadis berkucir dua menjawab polos decakkan Quinn.
“Mileková? Tidak asing. Tapi, di mana aku pernah mendengarnya? Hm?”
“Hola, buenos días!”
Dua sekawan Quinn sontak buru-buru kembali ke tempat duduk mereka masing-masing, ketika mendengar suara bariton riang dari sosok yang dengan super semangat melangkah memasuki ruang kelas.
Tapi, tidak dengan Quinn. Ia tetap pada duduknya dan hanya membalikkan tubuh untuk menghadap lurus ke arah papan tulis.
Sementara Reid, meski sejak tadi ia tampak hanya diam bak patung. Gendang telinga bersumpal kepala headset yang dari awal hanya menjadi pajangan itu, tanpa seorang pun ketahui. Menyimak dengan detail seluruh ucapan Quinn, bahkan pembicaraan penuh warna dari tempat duduk Leonna. ‘Lagi pula bukan urusanku.’
.
__ADS_1
.
Bersambung...