HTTP 404

HTTP 404
Bab #49


__ADS_3

Reid seharusnya merasa senang dan lega. Tetapi, kekesalan yang sempat dilupakannya tadi, mendadak malah mencuat lagi. Ia lantas mengurut batang hidungnya cukup kencang.


“Terserah apa katamu kalau begitu. Aku akan kembali ke kelas. Tapi, begitu kau selesai. Dan berhenti menceramahiku. Aku tidak mungkin juga tidak lulus, hanya karena tidak hadir satu dua kali. Jadi, ayo. Kau perlu mengganti, ehm, pakaianmu sekarang.”


Tautan jari-jemari Leonna dan Reid yang sempat kosong, tidak butuh waktu lama, segera terisi kembali. Reid yang lebih dulu menggenggam tangan Leonna. Ia lalu menarik lembut gadis mungil itu memasuki ruang ganti.


“Aku akan mengambil celana olahragaku dulu di loker. Juga, kau bisa menggunakan bilik kamar mandi milik manajer tim basket yang berada di paling ujung kamar mandi. Kau bisa langsung bersih-bersih dan biar aku yang akan mengantarkan celananya ke sana.”


Reid menjelaskan kilat begitu ia dan Leonna memasuki ruang ganti. Leonna yang diberi arahan pun, tanpa ada komplain, melangkah cepat menuju kamar mandi. Reid yang ditinggal sendirian di ruangan penuh deretan loker, mendadak mengusap mukanya dengan super greget.


“Kegilaan apa lagi ini?!” Racau Reid.


...🐣🐣🐣...


Leonna tiba-tiba ingat hari itu. Mendiang neneknya memang tidak pernah kelihatan senang. Senyum merekah dan begitu bersahabat saja, hanya terhitung tiga kali menurut yang berhasil ia tangkap dengan mata kepalanya sendiri. Ia pun selalu berpikir kalau wanita tua renta berdarah campuran Irlandia dan Ukraina itu hanya tidak suka kepadanya.


Tetapi, bisa jadi itu adalah asumsi Leonna saja. Sebab, sehari sebelum kematian sang nenek, Yelyzaveta Mileková, masih jelas di memori Leonna kalau neneknya itu tersenyum cerah dan menciumi berulang kali kedua pipi serta dahinya. Ia pun sempat menangkap perkataan terakhir yang diucapkan tetua galaknya hingga menangis tersedu-sedu itu.


“Apa aku memang benar-benar terikat dengan benang kesialan? Tetapi, apa maksudnya ‘Selalu Ada Penyelamat Di Penghujung Kesialan’? Apa itu sebuah mantra? Tapi, tunggu. Penyelamat Di Penghujung Kesialan, hm, kedengaran seperti Reid kalau dipikir-pikir.”


Leonna terus berceloteh macam-macam. Ia kini sudah selesai membersihkan, ehm, noda merah pada pakaian dalamnya. Celana dal*m yang Reid beli pun sudah ia kenakan dengan nyaman. Sekarang, hanya tinggal celana olahraga yang dijanjikan Reid akan cowok ganteng itu antarkan kemari.


“Apa aku telepon Reid saja? Benar. Lebih baik aku—” Leonna merogoh saku roknya. Namun, nihil. Ia lupa kalau ponsel pintar dan tas selempangnya itu ia tinggalkan di bangku panjang di sebelah Reid. “—tidak ada? Sial! Kenapa pula tadi aku tinggalkan di sana? Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?”


Tok... Tok... Tok...


“Leonna, ini aku bawakan celana olahraga untukmu.”

__ADS_1


Sontak Leonna menghela nafas lega. Ketukan disambung suara berat Reid barusan, sukses besar menyelamatkan dirinya dari yang namanya ‘gundah’. Ia kemudian menarik menghembuskan nafas sebentar dan lalu menanggapi ucapan Reid dengan agak bercicit.


“Oke.”


Pintu kamar mandi dibuka kecil. Kepala dan jari-jemari lentik Leonna lantas menyembul sedikit dari dalam bilik ruang dengan tempelan ‘Kamar Mandi Khusus Manajer’ di bagian atasnya itu.


“Terima kasih.” Ujar Leonna malu-malu kucing. Kemudian mengambil celana olahraga yang tengah disodorkan Reid.


“Ya, ya. Sama-sama. Dan kalau begitu, aku akan menunggumu di luar.”


Pintu kamar mandi ditutup amat gradakan oleh Leonna. Celana olahraga yang Reid berikan refleks ia remas tidak bersahabat. Tetapi, bukan karena ia yang tidak senang menerima pakaian terlampau ‘biasa’ Reid. Hanya saja, wajah agak tersipu pemuda menawan itu yang membuat jantungnya jadi berdetak tidak beraturan.


“Apa aku akan baik-baik saja, jika mengenakan ini?” Leonna bergumam ragu. “Harum lembut sabun cuci Reid,” Celana berbahan agak tipis dan berwarna sedikit pudar itu tanpa sadar Leonna hirup dalam-dalam.


“Mengerikan. Kenapa aku bertindak cabul seperti ini?! Kau sungguh-sungguh idiot Leonna Mileková!” Jerit Leonna malu sendiri.


“Beruntung, masih ada kurang lebih tiga puluh menit sebelum bel pergantian pelajaran berbunyi.”


Leonna mempercepat langkah kakinya sesaat setelah ia melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dua menit pun berlalu bak kedipan mata. Punggung lebar Reid sekarang telah tersuguh hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. Ia kemudian kembali menetralkan detak jantungnya dan merangkit kilat ekspresi wajahnya agar tidak tampak bodoh di mata Reid.


“Reid.” Panggil Leonna.


“Kau sudah selesai?” Ujar Reid santai. Ia agak ngantuk sebetulnya, hanya diam-diam saja menunggui Leonna. Kalau saja ia bisa betul-betul membolos hari ini. Ia pasti bisa tidur nyenyak dan lebih segar ketika bekerja di Smith Smiley Mart nanti.


“Ya. Aku sudah selesai.” Leonna mengangguk mantap.


“Oke. Kalau begitu, mari kita langsung kembali ke kelas.” Reid berdiri dari duduknya. Ia menatap sejenak Leonna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia kemudian tanpa sadar bergeming pelan. “Lumayan.”

__ADS_1


“Apa?” Tanya Leonna tidak paham.


“Tidak ada. Hanya, celana olahragaku ternyata memang agak kebesaran untukmu. Tapi, tidak buruk. Kau bisa lebih leluasa dan lebih aman daripada ketika mengenakan rok.”


Paras cantik wajah porselen Leonna sontak berubah semerah tomat. Reid yang langsung menangkap transformasi menggemaskan air muka gadis di depannya, lantas bergegas jalan lebih dulu. Ia sebenarnya hanya kikuk. Tidak tahu bagaimana enaknya merespons ‘keimutan’ Leonna.


“Jam ke tiga ini mata pelajaranku kimia di lantai dua. ” Reid berujar tiba-tiba.


Leonna yang baru selesai memproses kalimat Reid, mengatup dan membuka mulutnya beberapa kali. Ia ingin menanggapi kata-kata Reid. Hanya saja, entah kenapa suaranya mendadak tidak mau keluar.


Sedangkan Reid yang memang niat awalnya agar hanya ingin mencairkan atmosfer beku di sekeliling dirinya dan Leonna. Tidak tahu dari mana sumbernya. Sepintas, merasa sedikit kesal tidak juga direspons.


Ia yang telah lebih dahulu keluar melewati pintu ruang ganti, spontan menghentikan langkah. Leonna yang tidak siap, mau tidak mau menabrak cukup kencang punggung kekar Reid.


“Maafkan aku.” Ringis Leonna.


“...”


Hening. Reid sengaja tidak menjawab. Sementara Leonna yang kebingungan mendapati raut wajah Reid yang mendadak begitu dingin dan agak—menyeramkan, serta merta panik bukan kepalang. Bagaimana ia tidak meremang takut? Aura dan tatapan Reid sekarang mirip sekali dengan tokoh komik, ‘Kevin’ si pembunuh berantai!


“Serius! Aku benar-benar tidak sengaja. Kau tadi tiba-tiba saja mengerem. Jadi, aku—”


“Jam ke tiga ini aku ada kelas kimia di lantai tiga. Bagaimana denganmu? Lokasi ruang kelasmu? Mata pelajaranmu?”


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2