HTTP 404

HTTP 404
Bab #47


__ADS_3

Leonna berujar panik. Namun, ia lebih panik dan gelagapan lagi, begitu menangkap teriakan riang dari suara yang sangat familier ketika langkahnya dan Reid baru saja akan memasuki tangga lantai satu.


“Leonna!” Teriak Pretha.


Gadis berkulit gelap itu amat gembira ketika melihat siluet Leonna. Ia yang memang akan selalu satu kelas dengan Leonna di mata pelajaran geografi dan beberapa mata pelajaran lain, bahkan sudah mengosongkan tempat duduk di sebelahnya hanya untuk Leonna dan bukan untuk Dave!


‘Bagaimana ini? Aku lupa sekali kalau hari ini ada kelas geografi bersama Pretha dan Dave.’


Batin Leonna cemas. Reid yang tadinya ingin tidak peduli dengan kegugupan Leonna, sontak membulatkan kedua matanya sebal. Jaket hitam miliknya, bukan Leonna kenakan untuk menutupi dengan benar ‘pola si bendera Jepang’, malah sedari tadi hanya gadis berdarah Rusia itu biarkan bergelung rapi di lengan kurusnya.


“Kita akan kembali. Tetapi, setelah ini. Kau perlu berganti pakaian dulu. Juga, jika sakit perutmu kumat lagi, lebih baik kau istirahat saja di UKS. Mengerti?”


Pipi Leonna tiba-tiba berubah merah merona. Reid tanpa aba-aba apa pun. Mendadak mengambil jaket hitam yang ia jinjing dan memakaikannya dengan cara diikat pada bagian pinggang. Jantung Leonna pun sukses kembali menjerit-jerit kegirangan, mendapati bagaimana sempitnya jarak antara tubuh Reid dan dirinya.


Wangi khas sabun mandi bercampur bau keringat Reid, bahkan dapat tercium tajam oleh indra penciuman Leonna. “Oke. Tapi, kita akan ke mana sebenarnya?”


“Gedung olahraga.” Jawab Reid mantap.


Namun, bukannya perasaan lega yang Leonna dapat. Ia yang ada berkali lipat lebih tidak mengerti dan penasaran. Ia kemudian dengan agak takut-takut kembali menyuarakan kegundahannya pada Reid.


“Gedung olahraga? Untuk apa kita ke sana?”


Reid yang ditanya berpikir sejenak. Ia lalu memperlambat sedikit langkah kakinya saat menyadari kesulitan menggemaskan Leonna untuk mengimbangi jalannya. “Ringkasnya, kau akan bersih-bersih di sana. Aku juga ada celana olahraga bersih yang bisa kau gunakan untuk sementara waktu.”


“—Baiklah, kalau begitu.”

__ADS_1


Tanggapan akhir Leonna, lantas menutup keraguan gadis itu pada Reid. Rasa tenang dan aman pun perlahan-lahan memenuhi manis bucu terdalam pikiran dan hatinya. Ia kemudian tanpa bisa ditahan. Tersenyum malu-malu ketika tidak sengaja iris biru safirnya bertubrukan dengan iris gelap Reid.


Sedangkan cowok jangkung itu samar-samar ikut membentuk lekuk kecil pada bibir seksinya. ‘Apa ini yang mereka sebut perasaan berbunga-bunga? Menyenangkan sekali.’


Sementara Leonna dan Reid sibuk melangkah kilat menuju gedung olahraga. Pretha yang teriakannya bahkan tidak sedikit pun dilirik oleh Leonna, terpaksa hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Tenggorokannya padahal sudah begitu kering. Namun, bagaimana bisa Leonna tidak sama sekali merespons?


Lebih misterius lagi, apa maksudnya Reid menyeret-nyeret Leonna begitu? Memang, Leonna juga kelihatannya tidak mengeluarkan secuil pun penolakan. Hanya saja, bel masuk juga kan sudah berdering. Jadi, untuk apa dan mau ke mana mereka berdua?


“Apa itu tadi? Kenapa aneh sekali gerak-gerik mereka? Dan lagi, ini kan sudah bel. Jadi, apa maksudnya drama picisan mereka itu? Tapi ngomong-ngomong, jika Leonna tidak kembali ke kelas. Apa yang harus aku lakukan dengan kursi kosong di sana?”


Dahi lebar Pretha berlipat tebal. Ia yang tadinya semangat karena akan duduk bersebelahan dengan Leonna, sekarang yang ada berubah lemas dan tak berenergi. Ia sontak mempoutkan bibirnya runyam. Namun, kedatangan dan ocehan menggelikan sosok yang semenjak dua hari kemarin ia hindari. Suka tidak suka. Harus dengan terpaksa ia angguki.


“Pretha? Honey? Apa kursi di sebelahmu benar-benar harus dikosongkan?”


“Berhenti memanggilku Honey, McGary! Dan untuk kursi itu—” Pretha berdeham sejenak. Ia lalu menghela nafas berat sebelum melanjutkan kalimatnya. “—kau bisa duduk di sana.”


Dan yup. Benar sekali. Calon gebetannya tidak lain dan tidak bukan adalah Pretha Isaiah.


“Pretha McGary-ku memang yang paling cantik segalaksi Milky Way! Tapi, ngomong-ngomong. Bagaimana dengan yang duduk di sampingmu? Leonna maksudku. Apa dia menolakmu? Benarkah? Dia menolakmu, kan?!”


Kehebohan Dave yang tidak berfaedah yang ada malah semakin membuat Pretha geram. Ia pikir setelah acara tarik-ulur dan tolak-menolaknya dengan Dave McGary saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dulu, cowok itu pasti sudah kapok dan memutuskan untuk menyerah.


Tapi, kini, tidak jelas motivasi dari mana. Dave mendadak bersikap menjijikkan seperti ini lagi untuk meluluhkan hatinya. Meski begitu, teman adalah teman. Tidak bisa dikurangi atau ditambah-tambah jabatannya. Jadi, jawabannya di masa depan akan tetap sama. Tidak, dan hanya teman!


“Persetan dengan ocehanmu Dave! Tapi, biar sekali lagi aku ingatkan. Teman adalah teman. Jadi, jika kau masih ingin berteman denganku, berhentilah untuk bersikap memuakkan macam itu.”

__ADS_1


Sungut Pretha. Sedangkan Dave yang walau telah jelas-jelas dihadiahi penolakan keras, sebisa mungkin hanya menganggap ucapan sarkas Pretha tadi sebagai candaan. “Jadi teman pun aku tidak apa-apa. Tapi, Teman Tapi Mesra, oke?”


“Tsk! Aku tarik lagi ucapanku. Kau tidak boleh duduk di sebelahku. Karena aku akan duduk dengannya saja!”


Kompleksitas muka Dave mendadak berubah menjadi pucat pasi. Pretha dengan seenaknya tiba-tiba sudah menggaet manja, seorang cowok asing yang baru saja selangkah menginjakkan kaki di dalam kelas. “Kau belum mendapat tempat duduk, kan? Kau bisa duduk di sebelahku kalau begitu.”


Pretha melengos kilat meninggalkan Dave seorang diri.


Lain lagi dengan Dave yang serta merta meraung frustrasi. Ia tahu betul Pretha pasti akan bersikap seperti ini kepadanya. Namun, melihat sang pujaan hatinya melakukan kontak fisik dengan cowok lain, ia jelaslah belum siap. Apalagi kalau insan mengesalkan itu hanya sekadar orang asing.


“Kegagalan pertama dan ke dua mungkin aku hanya kurang beruntung. Namun, kegagalan ke tiga? Apa aku ini dulu semacam biksu, sampai tidak bisa berhubungan secara romantis dengan Pretha-ku?!”


...🐣🐣🐣...


Pengajar yang mengisi mata pelajaran geografi level basis siswa-siswi kelas 12, membetulkan letak kacamatanya lagi. Berkat usianya yang sudah tidak lagi muda, pergerakan otot-ototnya pun menjadi mengendur dan cepat sekali kelelahan. Namun, menjadi guru adalah kebahagiaan terbesarnya, selain daripada memiliki keluarga dan suami yang mencintainya.


Hanya saja, mengajar di sekolah yang rata-rata berisikan anak-anak dari latar belakang kelas menengah ke atas, tentu tidak mudah, mengetahui betapa arogan dan terkadang kurang sopan santunnya pelajar-pelajar ini. Meski begitu, SMA Stuyvesant memang bisa dikatakan lebih disiplin dan ketat dalam mengawasi setiap gerak-gerik pelajarnya.


Tetapi, entah ini hanya perasaannya saja sebagai seorang pendidik. Hatinya tidak nyaman begitu bel usainya istirahat tadi berbunyi. Dan sekarang, salah satu peserta didiknya, bahkan sampai ada yang membolos. Atau tidak? Namun, yang jelas. Tidak biasanya ada siswa yang tidak menyahut, apalagi tidak hadir di kelasnya.


“Leonna? Leonna Mileková? Apa yang bernama Leonna tidak hadir?”


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2