
Keadaan ruang kelas C-2 yang sempat ramai bisik-bisik, syukur telah sepi kembali. Jangan tanya mengapa, siapa, dan atau apa yang para pelajar ini gosipkan.
Tentu. Pelajar mana yang tidak penasaran saat mendapati Pangeran Es Stuyvesant mereka yang terkenal selalu menolak semua surat dan pernyataan cinta tanpa hati, mendadak mengantarkan seorang cewek tidak dikenal hingga ke kelas si ‘beruntung’?
Meski begitu, jika dikatakan sama sekali tidak kenal, bohong sebetulnya mereka. Gadis bersurai kuning keemasan, beriris biru safir, dan warna kulit terlampau putih. Tidak salah lagi. Ia adalah gadis yang tengah viral berkat video menegangkan Jum'at kemarin di gedung olahraga.
“Leonna? Kau dari mana saja? Kenapa baru masuk?”
Dave tersenyum jail. Ia tidak tahan sekali untuk tidak bertanya. Dan lagipula, jika ia disuruh memilih Leonna dengan Reid, atau Leonna dengan Axle atau Angus. Jelas, dengan Reid yang akan ia pilih.
Bukan karena Reid lebih tampan dan atau bagaimana. Hanya saja, dari ekspresi, gerak-gerik, dan moral Reid. Pemuda itu memang miris sekali kemampuan bersosialisasi. Meski begitu, perangai dingin dan susah didekatinya itu yang malah menjadi daya tarik para gadis, kecuali Pretha Isaiah. Mungkin.
“Urusan mendadak.” Jawab Leonna dengan pipi bersemu merah muda.
“Kau sudah berani mengelak rupanya. Tapi, aku serius dan Pretha juga penasaran sekali. Ouch!”
“Ada pertanyaan?”
Ringisan Dave mengalihkan fokus guru geografi. Beberapa pasang mata pun, serta merta ikut melirik si sumber kecanggungan. Dave yang yang sadar telah mengacaukan keharmonisan dan waktu tidur beberapa pelajar, refleks tertawa kikuk.
“Tidak ada, Bu. Penjelasan anda sangat mudah dicerna.”
“Benarkah?” Tanya guru geografi lagi.
“Benar, bu. Anda pengajar geografi terbaik yang pernah saya temui.” Dave tersenyum ceria. Kontras sekali dengan kondisi jari-jemarinya yang sudah basah keringat dingin.
“Bagus. Kembali fokus kalau begitu.”
Pretha di sebelah Dave lantas terkekeh tanpa suara. Ia mencubit lengan pemuda itu tadi sebetulnya hanya spontanitas saja. Tidak ada maksud terselubung dan betul-betul murni karena memang sebal dengan kejujuran Dave yang terlalu blak-blakan mengatakan kalau ia ‘penasaran’.
“Jadi, dari mana saja kau sampai telat parah begini? Apa kau sekarang sudah benar-benar berpacaran dengan Reid?” Dave bertanya lagi.
“Apa maksudmu aku berpacaran dengan Reid. Dia hanya rekan skit-ku.” Elak Leonna.
__ADS_1
“Komplit sekali, hm? Rekan skit, pacar, dan bafu-baru ini kudengar. Reid juga tutor matematika spesialmu.”
Wajah Leonna sontak berubah semerah tomat. Ia lupa kalau mulai sekarang Reid juga merupakan tutor, ehm, matematikanya. Tapi, tetap saja. Khayalan Dave barusan sudah benar-benar melewati batas. “Ya. Dan tutor juga maksudku,” Cicit Leonna kemudian berkata lagi dengan sebal. “Tapi, tetap bukan pacar!”
“Ehm!”
Deheman kencang terdengar dari depan kelas. Leonna dan Dave yang sedari tadi asyik mengobrol, mau tidak mau langsung membisu. Netra melirik guru bersurai putih itu sedikit. Namun, refleks tergagap, begitu iris birunya dan cokelat madu milik sang pengajar tidak sengaja bertubrukan.
“Baiklah. Sampai di sini saja materi hari ini. Jika ada yang kurang atau tidak paham, masih ada lima menit sebelum bel berdering untuk kalian mengajukan pertanyaan.”
“Hampir saja.” Desah Dave yang disambut desah lega pula dari bibir ranum Leonna.
Empat menit pun berlalu sekilat membalik lembaran buku. Pengajar geografi mereka juga sudah sejak dua menit lalu keluar karena sadar, kalau tidak ada tanda-tanda akan adanya pelajar yang ingin bertanya.
“Jadi, cepat katakan. Ada apa dengan tingkahmu dan Reid tadi? Kau sadarkan aku memanggilmu? Jadi, kenapa kau tidak menyahut? Apa Reid melakukan sesuatu yang buruk kepadamu? Membully-mu? Atau jangan-jangan dia tidak hanya bertindak jahat, tapi juga mengancammu? Itu sebabnya kau tidak ingin membicarakannya?”
Pretha yang sebelumnya bungkam, kini membombardir Leonna dengan berderet-deret pertanyaan—agak berlebihan. Bukan hanya gadis berkulit gelap itu mempertanyakan keadaan Leonna. Ia bahkan mencetuskan berbagai macam spekulasi yang sebetulnya masih amat masuk akal.
“Reid tidak melakukan hal buruk apa pun kepadaku. Kami memang sempat berargumen kecil. Tapi, serius. Kalian tidak perlu berpikiran aneh-aneh. Aku baik-baik saja dan urusan, ehm, dadakanku tadi juga sudah terselesaikan berkat bantuan Reid.”
Wajah Leonna sontak kembali menghangat. Dave yang malah semakin dibuat penasaran dengan jawaban Leonna lantas bertanya lagi, “Oke. Jadi, urusan mendadak apa yang kau selesaikan bersama Reid Cutler?”
Pretha yang terang-terangan ikut menampilkan raut muka ingin tahu, serta merta memandang Leonna jauh lebih intens. Ia dan Leonna memang baru berkenalan dan menjadi teman. Mungkin.
Tetapi, karena sebagai teman itulah, ia harus tahu hal urgensi apa yang sampai-sampai membuat kawannya ini membolos dengan mudah. Dan lebih-lebih, membolos bersama cowok susah didekati macam Reid. Urgensi apakah itu?
Oh, ia baru ingat sesuatu. “Benar. Urusan mendadak apa yang sampai perlu membuatmu mengenakan atasan dan bawahan yang sama sekali tidak cocok? Celana olahraga berwarna kusam, kemeja putih, dan rompi rajut hijau? Bukankah tadi kau mengenakan rok?”
Salah satu kelopak mata Leonna tanpa sadar berkedut. Ia kini jadi bingung harus beralasan apa lagi. Namun, kalau ia jujur dan berkata Reid sebetulnya membantu ia yang ‘tembus’ gara-gara datang bulan, apakah ada jaminan bagi seorang Pretha dan Dave ini tidak akan mengolok-oloknya?
“Itu, sebetulnya, aku,” Leonna bergumam patah-patah. Ia dengan pandangan tidak fokus dan jelas sekali amat canggung kemudian berucap super pelan, “Aku sedang datang bulan.”
“Ya?”
__ADS_1
“Apa?”
Leonna sontak menghembuskan nafas pasrah. Respons dua sejolinya ini betul-betul seperti seekor kecebong sp*rma yang dibelah dua (baca; zigot, anak kembar). Menjawab secara bersamaan, dengan ekspresi wajah yang sama-sama terkejut dana tampak bodoh.
“Kau, datang bulan, dan...” Pretha mengeratkan pegangannya pada pinggiran meja.
“...Reid, jadi...” Dave memajukan duduknya seraya melayangkan pandangan kosong.
“...tadi, hanya...” Leonna tersenyum kikuk. Kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“...menemanimu, ke...” Telunjuk Dave menunjuk asal-asalan ke arah pintu masuk kelas.
“...kamar mandi, begitu...” Semburat merah yang semakin ramai dan padat, tertampil menggemaskan di paras pucat pasi Leonna.
“...kah, maksudmu?”
Hening. Leonna tidak langsung menjawab dan malah terkekeh hambar. Ia kemudian dengan amat kilat mengangguk dan berujar seraya menggaruk pipinya sok imut, “Kurang lebih seperti itu. Dia menangkap basah dan membantuku.”
Roh dan rasionalitas Pretha Isaiah dan Dave McGary seolah menguap entah kemana. Mereka berdua bagaikan zombie yang tanpa pikiran dan hati. Kosong melompong bak lembaran kertas HVS yang baru dikeluarkan dari bungkusan pelindungnya.
Namun, kesunyian dan kecanggungan dia antara Leonna dan kedua kawan barunya itu tidaklah berlangsung lama.
Kalimat tiba-tiba yang keluar dari mulut ember McGary kemudian, tidak hanya membuat syok Leonna. Melainkan berakhir menimbulkan kesalahpahaman kronis bagi seluruh penghuni kelas yang baru datang, yang masih duduk santai dan mengobrol seperti mereka bertiga di kelas, dan yang baru saja akan beranjak dari tempat duduknya.
“Gila! Jadi kau akan menikah dengan Reid Cutler?!”
“Apa?”
.
.
Bersambung...
__ADS_1