
Niat awal Leonna ketika sampai di sekolah adalah berjalan ke loker untuk menaruh sebagian buku paketnya. Namun, entah ia harus beruntung atau tidak, ketika Leonna menutup pintu loker, ia serta merta terbelalak kaget dan hampir saja berteriak kalau sel otak malunya tidak lebih dulu menjerit-jerit antipati.
Tepat di sebelah loker Leonna, seorang pria yang semalam sempat mengiriminya pesan dan berakhir dengan dirinya yang tidur diliputi perasaan berbunga-bunga, kini telah berdiri tegap dalam balutan pakaian serba hitam.
Pandangan Leonna dan Reid bertubrukan cukup intens. Tetapi langsung runtuh, ketika segerombolan cowok berisik datang dari ujung lorong.
“...Pagi.”
Reid berujar singkat membalas sapaan gugup Leonna beberapa waktu lalu. Leonna tersenyum canggung dan refleks menghela nafas lega ketika melihat punggung Reid yang telah menjauh dan kemudian hilang di belokan tangga menuju lantai dua.
...🐣🐣🐣...
“Leonna!!! Oh, ada apa dengan wajahmu?”
Detak jantung Leonna sudah lama kembali normal. Tetapi, bayangan wajah tampan Reid dan lebih buruk, gema suara serak-serak basahnya terus saja berputar bagaikan gulungan kaset rusak. Leonna bahkan, sampai tidak peduli dengan Dave yang sepagi ini sudah berteriak-teriak tidak jelas sambil membombardirnya dengan sederet pertanyaan tidak berfaedah.
“Wajahku? Memangnya apa yang salah dengan wajahku, Dave?”
Leonna meletakkan tas selempang pastel berbahan kulitnya di atas meja kosong dekat jendela. Ia lalu menarik kursi untuk duduk, yang serta merta Dave buru-buru ikut duduk, setelah sebelumnya memelas bertukar posisi dengan gadis berpotongan rambut bob yang berada di baris depan tempat duduk Leonna.
“Tsk, bagaimana bisa kau melakukan ini kepadaku? Lihat! Air muka berseri-seri, pipi merona dan lagi, kau tampak lebih menawan dari hari-hari biasanya. Leonna, jangan bilang kau punya pacar?!”
Dave tiba-tiba menggebrak meja. Kedua iris cokelat tuanya menatap Leonna super kesal. Sementara Leonna yang ditatap hanya menghembuskan nafas panjang dan lalu berucap sesuatu yang membuat Dave malah makin penasaran dan curiga dengan kehidupan asmara Leonna.
“Pacar? Mana ada, punya orang yang disukai saja aku tidak a—da. Tidak ada!”
“Kan? Aku tahu kau berbohong Leonna. Jadi ayo, cepat katakan! Siapa makhluk beruntung yang berhasil menawan hati seorang Leonna-ku ini?”
Pipi Leonna lagi-lagi bersemu merah. Sengatan-sengatan listrik bertebaran asal di bawah lapisan epidermisnya dan meski Leonna belum lama berkenalan dengan Dave, tidak tahu bagaimana, kawan barunya ini seolah telah kolot mengenal seluk beluk diri Leonna.
__ADS_1
Bahkan, bisa jadi Dave juga telah lebih dulu menyadari perasaan membuncah, bercampur malu, sekaligus sensasi menyenangkan yang demi apa pun, begitu nyaman dan tidak akan berbekas jika hanya mendengar dari mulut orang lain, gambar hasil jepretan kamera, maupun karya lukisan yang katanya dibuat sepenuh hati dan memiliki makna mendalam yang tidak jarang membuat penikmatnya ikut terbawa suasana, dan beruntung sekali, karena perasaan langka nan mewah itu kini tengah dirasakan oleh Leonna.
“Tidak ada kubilang!” Leonna berdesis tajam, mencoba menyangkal spekulasi Dave.
Tetapi, Dave jamin.Siapa pun yang melihat ke dalam iris biru safir Leonna pasti langsung tahu, perasaan yang sanggup membuat orang tidak buta mendadak buta, sengatan memabukkan yang membuat orang genius seketika menjadi bodoh, hingga kehangatan indah yang membuat hati seorang pencela beralih memisuh. Sesuatu romantis bernama cinta dan ya, Leonna memang sedang jatuh cinta.
KLAK!
“Ayo, segera kembali ke tempat duduk kalian masing-masing!”
Dave mendesah malas. Dia belum puas jika bukan dari mulut Leonna sendiri yang mengatakan kebenarannya dan lagi, masa bodoh dengan rencana PDKT Dave yang harus gagal sebab Leonna sudah keduluan jatuh cinta. Tetap, sebagai teman. Menurut sudut pandang Dave, ia perlu tahu siapa orang hebat yang sukses menaklukkan hati Leonna.
...🐣🐣🐣...
“Dave, dia benar-benar persisten. Syukur aku langsung kabur tad—OH!”
Tubuh mungil Leonna untuk ke sekian kalinya, menabrak sesuatu yang keras, bersiluet panjang, tetapi syukur, memiliki suara agak familier ketika mampir di gendang telinga Leonna.
“Leonna? Ada apa? Kenapa kamu lari-lari begini di lorong? Untung kamu tidak jatuh.”
Leonna mendongak untuk menatap sosok pemilik jemari besar-besar yang bertengger di bahu kanannya dan benar saja, pria itu adalah Angus, si pria baik yang mengantarnya ke UKS di hari tabrakan memalukan dirinya dengan Reid.
Tenggorokan Leonna mendadak kering, ia stres sendiri, kenapa setiap pembicaraan selalu saja berakhir dengan nama Reid. Apa Reid memiliki sebuah kekuatan supranatural, pelet atau apalah itu namanya?
“M-maaf, Angus. Aku akan lebih hati-hati ke depannya dan ehm...”
Dua orang remaja lelaki di kanan kiri Angus tiba-tiba merunduk sedikit untuk melihat Leonna. Satu dari keduanya serta merta tersenyum sambil dengan tanpa permisi, mengusak lembut pucuk kepala Leonna.
“Kita bertemu lagi Leonna. Oh, jangan bilang kamu lupa denganku?”
__ADS_1
“Tentu aku tidak lupa, kau Axle kan? Axle Bru?”
Axle berseri-seri memandang Leonna dan baru saja ia ingin mengangkat satu tangannya untuk mengusak kembali pucuk kepala Leonna, cengkeraman Angus di pergelangan tangannya sudah lebih dulu menghentikan.
Sementara satu cowok lain yang bertubuh paling pendek daripada Angus dan Axle, iseng melirik bolak-balik tampang Leonna, Angus, kemudian Axle lagi. Ia lalu mempoutkan bibirnya tidak suka.
“Jadi, kalian bertiga sudah saling kenal. Kalau begitu kenalkan juga, aku, Irvine Wu. Panggil saja Irvine dan kau, Leonna?”
Figur berambut tajam-tajam dan mirip sekali dengan tokoh anime Uzumaki Naruto tiba-tiba buka suara. Jemari dengan hiasan dua cincin peraknya terjulur tepat di depan Leonna dan tidak butuh waktu lama, Leonna dengan senang hati membalas jabat tangan cowok bernama Irvine itu.
“Ya, Leonna Mileková.”
“Nama yang indah.”
Irvine berujar sok serius, sembari makin mempererat jabat tangannya dengan Leonna. Namun, tidak ada tiga detik, tepukan lumayan keras mendadak mendarat kelewat mulus di kepala belakang Irvine. Ia sontak terlonjak mundur dan tanpa sadar langsung melepaskan rematan disengajanya pada telapak tangan Leonna.
“Hentikan kegenitanmu itu Irvine dan Leonna, apa kamu juga mau ke kafetaria? Kalau memang iya, kamu bisa ikut saja dengan kami.”
Omelan pelaku pemukulan, yang adalah Angus, serta merta membuat Irvine ciut dan ajakan ramah Angus kepada Leonna setelahnya pun dengan cepat, diangguki semangat oleh kedua pemuda tanggung di depan Leonna.
Plus, berhubung keadaan lorong mulai ramai dan meski Leonna belum mengiyakan, tarikan tiba-tiba Axle yang berujung dengan Leonna berada di tengah-tengah deretan tiga manusia tampan itu, mau tidak mau, menjadikan Leonna dengan pasrah ikut bersama mereka ke kafetaria.
Tetapi, kalau waktu bisa diulang dan jika Leonna lebih percaya diri untuk berkata tidak, tentu, kehidupan satu tahunnya di kota New York pasti akan lebih damai dan tidak serumit lagi semenyedihkan, bahkan dari yang pernah ia baca dari novel-novel mengandung bawang dan tidak jarang, tamat dengan akhir super tragis dan penuh penyesalan si tokoh utama. Ya, andai waktu bisa diulang...
.
.
Bersambung...
__ADS_1