
Sorak-sorak ramai menggema di gedung olahraga utama SMA Stuyvesant. Tampak di tengah-tengah lapangan basket. Lima orang remaja berkaos biru oblong dengan garis-garis merah dan seorang remaja dengan setelan kaos hitam dan celana pendek hitam sedang saling berhadap-hadapan satu sama lain.
Lima personil tim basket inti sekolah yang diketuai oleh Noah Thatcher kelihatan begitu antusias. Kontras sekali dengan seorang pemuda tampan sekaligus seksi secara bersamaan yang sejak tadi hanya memandang lawan mainnya dengan tanpa ekspresi.
Pertandingan basket dadakan dan jelas tidak adil itu bahkan belum dimulai. Tetapi, gadis-gadis yang berada di sisi luar lapangan sudah sibuk meneriakkan nama jagoan mereka.
Satu nama yang paling terdengar meski dari luar gedung olahraga. Nama dari pemilik tubuh teramat atletik walau tidak pernah mengikuti kegiatan olahraga apa pun, kecuali jika benar-benar terpaksa. Remaja menawan itu tidak lain dan tidak bukan ialah Pangeran Es Stuyvesant, Reid Cutler!
“Jadi, kau menerima kesepakatannya kan? Jika kau menang, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tetapi, jika kau kalah, maka terpaksa kau harus berpartisipasi dalam seluruh babak ajang turnamen Nasional tahun ini.”
Cowok berambut gondrong yang dikucir satu bertanya lagi. Ia beruntung bisa memojokkan Reid kali ini. Tentu. Ia memang menjabat sebagai kapten tim basket. Tapi, kalau melihat ke belakang. Kemampuannya bahkan masih kalah jauh dengan Reid.
Jujur. Ia sangat cemburu. Namun, hasrat untuk bermain satu tim dengan Reid tidak bisa ia indahkan begitu saja. Ia penasaran sekaligus kangen dengan sensasi menggebu-gebu dua tahun lalu.
Sementara Reid yang realitasnya amat layak untuk mendapat predikat atlet sejati malah menolak dan tidak secuil pun tertarik. Para pelajar dari berbagai cabang olahraga di Stuyvesant saja sampai sama iri dan gemasnya setiap ada penilaian dari guru-guru penjaskes.
Renang, Reid bisa. Lari maraton, jangan ditanya. Sepak bola, bola basket, bola voli dan bola-bola lainnya, Reid juga sudah master. Lebih mengejutkan lagi, karena Reid juga dirumorkan jago masak.
Namun, dari semua cabang, baik olahraga maupun akademik. Satu yang paling sering jadi topik hangat para betina Stuyvesant setiap kali datang musim perlombaan adalah gosip seorang Reid Cutler sebagai pemusik. Mau itu solois, gitaris, dan berbagai macam ‘is-is’ lain. Reid diprediksi tidak mungkin, tidak akan tidak bagus.
Tapi, cerita tentang Reid si perfeksionis agaknya harus dilompat dulu. Sekarang adalah momen yang paling Noah nantikan. Jadi, kali ini ia harus sukses. Ia juga sudah memilih orang-orang terbaik yang bisa diajak berkompromi. Baik dari pemain, hingga wasitnya.
“Sudah selesai?”
Mata elang Reid tampil begitu dingin. Namun, bukan perasaan berdebar-debar seperti yang dilontarkan para penggemar Reid. Kelima pebasket Stuyvesant itu yang ada malah diam-diam menenggak air ludah mereka kasar.
“Tsk, tidak sabaran sekali. Baiklah. Mari kita mulai pertandingannya!”
Noah Thatcher serta merta memberi aba-aba pada tiga orang pemuda yang bertugas sebagai wasit. Pertandingan basket pun dimulai. Noah dan kawan-kawannya mendapat giliran pertama bermain. Mereka dengan gerakan kilat sudah membentuk formasi untuk mendesak dan menghalangi pergerakan Reid.
__ADS_1
Tetapi, sepertinya mereka terlalu fokus untuk menghadang ketimbang mencetak poin. Di menit-menit pertama permainan, tim Noah Thatcher memimpin. Namun, ketika melewati lima menit dari sesi pertama permainan. Poin yang dicetak Reid seorang diri ternyata sudah mengungguli mereka.
Dari perbedaan dua poin, menjadi empat. Kemudian delapan dan tiba-tiba sudah enam belas poin tim Noah tertinggal. Kelima pemain itu bahkan sampai tidak ingat bagaimana yang benarnya teknik bermain bola basket.
Posisi mereka masing-masing yang telah direncanakan dengan matang juga sekarang betul-betul berantakan. Mereka kalang kabut dan mengejar secara acak si pemain tanpa nomor punggung.
“Ramai sekali. Jadi, memang benar-benar ada pertandingan hari ini? Tapi, kenapa tadi tidak ada pengumuman?”
Di lain tempat. Leonna yang masih diseret Pretha memperhatikan lamat-lamat keadaan dalam gedung olahraga. Saking berisiknya teriakan para suporter, hujan deras dan berangin di luar bahkan sampai tidak sedikit pun kedengaran.
“REID!!!!! YAK! REID GANTENG! SEMANGAT!!!!! AKU CINTA KAMU!!!!”
Teriakan nyaring dengan suara cempreng sontak menggempur tidak manusiawi gendang telinga Pretha dan Leonna. Kedua gadis ini sekarang sedang berjuang untuk membelah kerumunan. Cengkeraman pada pergelangan tangan Leonna sekarang pun menjadi berkali-kali lipat menyakitkan.
Namun, boro-boro untuk Leonna sekadar berseru memberitahu, atau langsung menghempaskan begitu saja cekalan Pretha. Gadis dengan ikat rambut cepol yang sudah awut-awutan itu bahkan kini lebih kesusahan dibandingkan Leonna. Maklum, ia yang menyeret Leonna tanpa permisi untuk datang menonton pertandingan Reid. Jadi, mau bagaimana pun caranya, ia dan Leonna harus bisa berada di posisi paling depan.
“Tsk! KAU!”
Jika bukan karena situasi penonton yang mirip sekali dengan keadaan pada konser musik, pasti cewek ‘tidak dikenal itu’ sudah saling adu mulut hingga mungkin adu bacok dengan Pretha. Beruntung sekali mereka berdua kalau begitu. Tapi, siapa sangka. Kejadian berikutnya ternyata akan membuat penghujung Kamis Leonna menjadi lebih pedas manis dari hari-hari biasa.
“Apa kita perlu melakukannya?”
“Ya. Tidak ada pilihan lain.”
Pertandingan basket mendadak menjadi lebih panas dari sesi sebelumnya. Memang, jika berpedoman dengan aturan Federasi Bola Basket Internasional, durasi permainan adalah 4 x 10 menit. Di antara babak 1 dan 2 serta 3 dan 4 terdapat waktu istirahat 2 menit. Ada juga waktu istirahat 15 menit antara babak 2 dan 3.
Tetapi, karena pertandingan mereka terbilang kurang sehat dalam segi jumlah pemain. Jadi, durasi permainan hanya 2 x 10 menit. Waktu istirahat juga hanya diberikan 2 menit antara babak 1 dan 2. Sebagai lanjutan, kalau seumpama poin kedua tim seri. Maka akan ada pertandingan tambahan dengan durasi permainan 1 x 5 menit.
“REID!!! SEMANGAT!!!”
__ADS_1
“JANGAN SAMPAI KALAH, DARLING!!!”
“KAU YANG TERBAIK REID!!! I PURPLE YOU~!”
Teriakan para pendukung Reid sekarang menjadi tiga kali lipat lebih brutal. Wasit ke dua yang bertugas mengawasi langsung dari dalam lapangan juga sepertinya mulai lelah. Sementara wasit utama yang bertugas mengamati kejadian-kejadian di bawah ring pun tampak lebih serius daripada ketika di babak pertama.
Namun, tidak berselang lama semenjak awal babak ke dua dimulai. Satu per satu penonton seketika mulai merasa tidak senang.
Noah Thatcher dan kawan-kawannya entah sudah berapa kali melakukan serangan fisik cukup berarti kepada Reid. Cowok ganteng itu bahkan sempat tertangkap meringis beberapa kali di tiga menit pertama babak ke dua.
Bisik-bisik kesal pun tidak lama mulai ramai di lautan sesak para penonton.
Dua pemuda yang bertugas sebagai wasit satu dan dua juga sebetulnya telah lama mewanti-wanti. Tetapi, mereka bertiga, termasuk dengan wasit pencatat skor sudah terlanjur disogok Noah sebelum permainan. Jadi, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan keinginan kapten basket Stuyvesant itu.
Selama Reid masih dapat berdiri tegap di arena, kata Noah, mereka bertiga akan tetap aman, sehat dan sejahtera. Ya. Semoga saja begitu.
“Maaf kawan. Aku tidak sengaja.”
Waktu permainan sekarang hanya tersisa kurang dari lima menit. Keadaan dua tim di tengah lapangan kini sudah benar-benar kacau balau. Para penggemar pun telah sangat murka. Mereka memang tidak terlalu paham dan bisa jadi benar-benar buta dengan pedoman aturan main bola basket. Tetapi, sudah jelas lima pemain yang diketuai cowok bermarga Thatcher itu bermain curang.
“Akhirnya kita sampai juga di barisan paling depan. Aku serius bisa mati konyol, jika satu menit saja masih berkutat di dalam sana. Ya kan, Leonna? Tapi ngomong-ngomong kau—TIDAK! LEONNA AWAS!!!”
BAM!
BRUK!
“Leonna?!”
.
__ADS_1
.
Bersambung...