HTTP 404

HTTP 404
Bab #18


__ADS_3

Langkah Leonna terhenti. Ia belum ada dua meter keluar dari tempat penyimpanan barang. Kedua netra birunya kemudian iseng berbalik menatap Reid yang hanya menampilkan raut bingung. Ucapan Bibi Smith barusan agaknya masih dalam perjalanan menuju bank sel-sel otak Reid.


“Tidak perlu, Bibi Smith. Aku bisa pulang sendiri.”


Sudut-sudut bibir Leonna menekuk hambar. Ia tidak ingin membebani Reid. Lagi pula Reid juga tadi bilang, jam kerjanya di swalayan baru akan selesai pada pukul enam atau paling telat setengah tujuh malam.


Leonna lalu tanpa banyak cek-cok lagi berjalan cepat menuju pintu depan swalayan. Sedangkan Reid yang sepertinya sudah selesai mengolah dan menerjemahkan informasi dari Bibi Smith hanya menatap kepergian Leonna dengan binar kosong. Bibi Smith yang mendapati Reid malah hanya diam saja refleks menepuk lumayan kencang bahu lebar Reid.


“Kenapa hanya diam saja? Cepat temani Leonna!”


“Tapi, Bibi Smith—”


“Tidak apa Reid. Lagi pula keadaan swalayan tidak terlalu ramai. Paman Smith juga bilang akan kembali cepat hari ini. Jadi, segera kejar Leonna! Jangan biarkan gadis itu pulang sendirian. Nanti kalau ada hal yang tidak menyenangkan terjadi pada Leonna, bagaimana?”


Air muka Reid berubah tidak enak. Teriakan Bibi Smith sebelumnya, tidak ia sangka ternyata hanya awal dari rentetan omelannya kepada pemuda kelahiran Desember itu.


Tidak perlu lama-lama pula bagi Reid untuk menelaah ucapan luas kali keliling dan penuh kecemasan Bibi Smith barusan. Tentu, Bibi Smith sebagai seorang ibu pasti akan teramat khawatir kalau seorang gadis ehm, rupawan, macam Leonna jalan sendirian di bawah yang kian larut dan gelap tiap detik menitnya.


“Baik, kalau begitu Reid pulang duluan! Dan payung—Bibi Smith aku pinjam payung!”


Dilema yang menyelimuti Reid akhirnya menguap juga. Ia yang telah tertinggal lebih dari lima menit di belakang, dengan tergesa-gesa berlari mengejar langkah kaki jenjang Leonna. Jari-jemarinya tidak lupa menyabet sebuah payung yang memang selalu tersedia di samping pintu masuk swalayan.


Bibi Smith tersenyum mesem-mesem. Cinta anak muda memang terlalu manis. Ia jadi kangen bagaimana masa mudanya dulu ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


Benar pula apa kata pepatah. Masa-masa sekolah ketika duduk di bangku senior sebelum menuju pendidikan perkuliahan memang adalah yang paling indah. Ya. Periode ‘rollercoaster’ dalam kehidupan asmaranya dengan Paman Smith, ehm!


“Bisa saya bantu?”


Lamunan Bibi Smith terhenti setelah melihat figur bertubuh agak lebih pendek sedikit dari Reid telah berdiri di depan meja kasir. Ia lalu buru-buru menghampiri tempat kasir. Kedua mata tuanya melirik diam-diam rupa sosok yang perawakannya jelas adalah seorang laki-laki.

__ADS_1


“Apa gadis itu keluar dari sini?”


“Ya?”


Sosok dengan tudung jaket, poni rambut terurai cukup panjang dan masker hitam menutupi sebagian wajahnya berucap dengan nada datar. Bulu kuduk Bibi Smith entah kenapa tiba-tiba meremang ngeri. Ia seorang diri sekarang di swalayan. Jika ada sesuatu yang buruk terjadi, maka bisa jadi tidak akan ada satu orang pun yang tahu, syukur-syukur menyelamatkannya.


“Tunggu, uang kembalian—”


Bibi Smith melotot mendapati selembar uang kertas dengan nominal seratus dolar. Lebih mengejutkan lagi karena barang yang dibeli oleh sosok beraura misterius itu hanyalah tiga buah permen berbungkus merah, kuning dan hijau.


Tentu, uang tip yang Bibi Smith terima pasti bukan main banyaknya. Mengingat untuk satu bungkus permen yang jarang dibeli karena rasanya yang terlalu asam dan kuno di kalangan para pecinta permen itu tidak sampai seperempat dolar per buah.


“—anda.”


Bibi Smith lalu menghela nafas pasrah. Pembeli bersetelan serba tertutup tadi sudah dengan amat kilat menghilang dari balik pintu swalayan.


“Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak, ya? Pelanggan itu juga—apa dia seorang selebriti? Misterius sekali.”


Reid dan Leonna berjalan bersisian. Sebetulnya, di lima menit pertama perjalanan mereka, Leonna hanya terus melangkah di belakang Reid. Keadaan pun betul-betul sangat tidak bisa dibilang nyaman.


Tetapi sepertinya, akan teramat sangat lebih baik bagi mereka berdua, kalau Reid tadi tidak bertingkah sok jantan dan menarik Leonna untuk berdiri di sebelahnya. Mereka sekarang mirip sekali dengan dua ekor zombie yang tengah melintasi super lambat jalanan malam kota New York.


Sejuk udara bahkan tidak bisa dirasakan baik oleh Leonna maupun Reid. Awan di atas mereka memang adalah awan mendung, tetapi begitu kontras dengan kondisi hati Leonna. Keadaannya kini sangat cocok untuk didefinisikan sebagai bunga-bunga sakura yang tengah mekar-mekarnya di musim semi.


Tidak jauh beda pula dengan Reid. Debaran pada organ bernama jantung itu kian ribut saja tiap detiknya. Ia bahkan sempat berpikir untuk mengunjungi rumah sakit, jika sampai dua puluh empat jam ke depan simtom serupa palpitasi yang ia rasakan ini masih tidak berhenti.


“Tidak ada bintang.”


Leonna ingin merutuki otak udangnya yang tidak tahu angin dari mana malah tiba-tiba menyuruh untuk buka suara. Gumaman kecil dan bernada agak sedih ketika mampir di gendang telinga Reid itu sontak membuat empunya melayangkan secuil lirikan ke arah si gadis Rusia.

__ADS_1


Ia ingin tidak berkomentar. Namun, langsung tidak jadi setelah memikirkan kemungkinan ucapan Leonna tadi ialah untuk mencairkan suasana.


“Benar. Di hari-hari biasa sekalipun, meski langit sedang cerah dan tidak ada hujan sama sekali, bintang tetap tidak dapat terlihat, kecuali jika menggunakan teleskop.”


“Benarkah?”


Suara berat Reid menyapa manis indra pendengaran Leonna. Daun telinga dan tengkuk Leonna spontan ikut terasa hangat. Reid yang memang jauh lebih tinggi dari Leonna tidak sengaja menangkap semburat merah itu. Ia menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.


Di mata Reid sekarang, Leonna tidak tahu kenapa terlihat begitu menggemaskan. Gadis berkulit porselen itu bagaikan seekor—hamster? Bayi marmut? Atau kelinci? Reid tidak tahu pasti tepatnya yang mana. Tapi, gerak-gerik Leonna sekarang benar-benar membuat debaran jantung Reid sepertinya tidak bisa lagi diselamatkan.


“Ya. Aku belum pernah melihat bintang secara langsung di sini.”


Leonna menyimak dengan penuh antusias. Ia memang agak kangen dengan taburan bintang yang biasanya bisa ia lihat melalui jendela kamar.


Malah, dulu. Saking ia terobsesinya ketika baru sekali pindah ke Rublyovka. Ia pernah mencoba untuk menghitung kerlap-kerlip cantik itu. Namun, tepat sekali. Leonna sudah lebih dulu menyerah, bahkan sebelum hitungannya menginjak angka dua puluh.


“Itu—di tempatku, di Rusia. Kami bisa melihat bintang dengan mata telanjang. Apalagi ketika ada fenomena hujan bintang. Pemandangan langit kelihatan sangat indah dan biasanya kami akan membuat permintaan sampai ekor bintang jatuh itu tidak terlihat.”


“Bintang jatuh?”


“Ya. Leo bilang itu sebenarnya meteor. Oh—dan Leo itu kakakku.”


Reid tentu tahu apa itu bintang jatuh. Ia hanya, ehm, senang mendengar suara Leonna. Reid lalu refleks menepuk jidatnya pelan. Syukur, Leonna yang meski menangkap gerakan aneh Reid hanya diam saja.


Gadis itu sebenarnya ingin sekali bertanya ada apa dengan Reid. Tetapi, ia langsung tidak jadi ketika Reid tiba-tiba menghembuskan nafas kasar.


‘Apa Reid kesal karena harus repot-repot mengantarkan aku?’


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2