
Bebi atau masa bodohlah siapa namanya, lantas mengerjap tidak mengerti. Gonggongan dan rutukan jengah mendadak meramaikan hebat isi kepala Reid. Hati dan tubuhnya sekarang telah amat gerah, walaupun di dalam toko ini ada dua pendingin ruangan yang terpasang.
‘Ini benar-benar membuatku gila. Dan sial! Hanya terisa tujuh menit lagi sebelum istirahat berakhir. Apa perlu aku telepon Noah berengsek itu? Atau Kak Yin saja?’
Batin Reid setelah melihat jam dinding yang terpasang di tengah-tengah ruangan.
Indra penglihatannya pun refleks berkeliaran lagi, mencari-cari entah apa. Ia juga tidak ada ide. Namun, tepat di saat Bebi sudah kembali buka mulut. Iris gelapnya mendadak bertubrukan dengan pakaian dalam berwarna polos dan benar-benar normal. Atau sederhananya, bersih tanpa ada secuil pun pernak-pernik dan kreativitas berlebih para desainer.
“Tuan Tampan bisa—”
Ucapan Bebi terpotong. Reid yang secepat kilat telah menyabet dalaman bernuansa merah jambu, lantas langsung meletakkan si CD di atas meja kasir. Ia pun tanpa babibu. Kemudian mengeluarkan kartu ATM dari dalam dompet cokelat tua usang dan merupakan satu-satunya yang ia punya.
“Baik, ini saja. Bisa kubayar menggunakan kartu?”
Air muka sosok di balik meja kasir sontak berubah cemberut. Ia yang ditatap begitu mengintimidasi dan seolah tengah diteriakkan bejibun kata ‘cepatlah!’ terpaksa harus mengalah. Aktivitas menggodanya pun mendadak jadi hambar setelah melihat model dompet jelek dan kartu ATM ‘biasa’ milik sang Tuan Tampan.
Tetapi, meski begitu. Rahang tegas, bibir proporsional dan menggoda, mata setajam elang, serta tubuh tinggi menjulang nan atletis. Sepertinya, tidak buruk juga untuk ia dijadikan simpanan. Jadi, tepat sekali. Ia tidak boleh begitu saja langsung patah semangat.
Karena siapa tahu kan, pemuda di depannya ini ternyata oh ternyata adalah seorang milyarder? Atau bahkan, trilyuner?!
“Tuan Tampan buru-buru sekali. Tapi, boleh Bebi minta nomor kontak tuan? Bebi tidak berniat menggoda atau apa. Hanya saja jika Tuan Tampan bosan atau mungkin hubungan dengan kekasih tuan sedang kusut. Bebi bisa—”
Barang yang sedang dimasukkan dengan amat lelet ke dalam kantong belanjaan oleh si Bebi, tiba-tiba saja ditarik paksa. Kartu ATM yang tengah terbaring menggigil di atas meja juga, kini sudah kembali berada di tangan empunya. Reid kemudian menatap tidak bersahabat Bebi.
“Terima kasih banyak. Dan untuk sarannya, mohon maaf. Kami belum berpacaran.” Ujar Reid seraya dengan tergesa-gesa, berlari keluar dari toko OLC.
__ADS_1
Bebi melongok bak kambing congek. Ia yang baru selesai memproses ucapan Reid saat konsumen gantengnya itu benar-benar sudah menghilang dari pandangan. Lalu mengentakkan kasar kaki beralaskan sepatu ber-hak tingginya.
“Belum? Apa itu artinya Tuan Tampan dan siapalah itu akan berpacaran? Tsk! Menyebalkan. Padahal baru saja aku mendapat ikan baru. Tetapi, biarlah. Toh, masih banyak cowok, ehm, ikan di laut.”
Komentar Bebi antara sebal dan senang.
Sementara di lain tempat. Reid yang sedang berlari dengan kecepatan cukup untuk membuat dirinya ditilang polisi dan polisi tidur, kalau tidak hati-hati. Tanpa ia sadari. Gerak-gerik penuh misterinya semenjak keluar dari Oui! Lil' Chic, ternyata tidak hanya menjadi Tuhan, dirinya sendiri, dan Bebi yang tahu.
Di barisan paling depan mobil-mobil dan kendaraan lain yang tengah berjajar menunggu hijaunya lampu merah. Dua insan yang merupakan pelajar setingkat dengan Reid di Stuyvesant, tidak sengaja menangkap siluet pemuda super tampan itu dengan dahi berkerut penasaran.
Satu yang berpakaian paling modis lantas bergeming. Setir kemudi mobil di depannya, berhenti ia ketuk-ketuk. Jari telunjuk tangan kanannya kemudian ia arahkan tidak sabar ke arah wujud Reid yang berlari bak sedang mengendarai angin.
“Hm, bukankah itu Reid Cutler? Tapi, apa yang sedang dia lakukan di luar sekolah pada jam istirahat begini? Dan lagi, toko busana? Oui! Lil' Chic?”
Alasan mereka berada di luar sekolah sekarang, sebetulnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena paksaan Supervisi OSIS. Ia sebagai Ketua OSIS yang dipilih tanpa banyak percekcokan. Tentu. Itu pula karena bakat menyanyi, penampilan, kepintaran, dan latar belakang keluarganya yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Bukan sekadar toko busana biasa.”
Figur dengan setelan semi formal yang duduk di sebelah kursi pengemudi akhirnya buka suara. Kawannya ini yang menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS, sekaligus Presiden Angkatan Kelas 12 itu berucap dengan tanpa ekspresi.
“Apa?”
Lampu yang sudah lebih dahulu menghijau, menjadikan fokus si pemilik mobil, pula sebagai orang yang menyetir, jadi mendengar kurang jelas ucapan si penumpangnya tadi. Ia lantas menengok sedikit begitu mobil mulai melaju di jalanan yang lebih lengang.
“Oui! Lil' Chic. Simpelnya OLC. Brand yang terkenal dengan penjualan pakaian dalam sensual dan juga BDSM. Ditambah, kantong belanjaannya itu. Terdapat satu bungkus sedang pembalut Always.”
__ADS_1
Rasa penasaran si sopir yang ada bukannya terselesaikan, atau setidaknya terminimalisir, malah sontak melambung kelewat tinggi.“Pembalut? Always? Tindakan ilegal apa yang sebenarnya tengah ia lakukan?”
Decak tidak senang meluncur dengan tanpa alasan dari bibir sang pemuda keturunan Spanyol-Inggris. Beruntung, perjalanan mobil Audy keluaran terbarunya hanya tersisa beberapa blok lagi dari lokasi SMA Stuyvesant berada. Ia kemudian semakin mempercepat jalan mobil.
“Betina, mungkin.”
Gerbang utama SMA Stuyvesant terbuka begitu mobil Audy mewah si sopir hanya berjarak kurang dari lima enam meter. Kalimat yang terdengar lebih seperti racauan kecil orang yang tengah tertidur, samar-samar berhasil ditangkap oleh cowok yang kini tengah memarkirkan kendaraan mahalnya di parkiran elite sekolah.
Ia lalu tiba-tiba saja terkekeh. Kemudian mengangguk-angguk kecil seraya berujar dengan aura dingin dan sedikit membuat bergidik si penumpang. “Betina, ya? Mengesankan.”
...🐣🐣🐣...
Nada bicara di seberang telepon betul-betul terdengar begitu menyebalkan di telinga Reid. Ia jikalau karena bukan mepet waktu, pasti tidak akan mau menelepon, apalagi melakukan kontak apa pun itu dengan ketua tim basket berkepribadian kurang nutrisi pil kewarasan ini.
^^^[ Woah! Aku merasa sangat terhormat mendengar dering teleponmu. Jadi, kau sudah menerima dengan lapang dada kekalahanmu kemarin itu, kan? Tidak masalah juga sebetulnya kalau kau tidak menerima. Aku juga— ]^^^
“Bisa kau datang ke guru piket sekarang?”
Reid memotong geram kalimat Noah. Ia sejatinya karena memang tidak memiliki teman, syukur-syukur kenalan, kini dengan terpaksa bertukar kata dengan pebasket rubah itu. Padahal masih belum reda seratus persen kemarahannya waktu itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia tidak punya rencana B, apalagi C.
^^^[ Apa ini? Kau menyuruhku untuk mendatangi guru piket? Pantas saja ada yang ganjil. Kau ternyata tiba-tiba saja meneleponku hanya untuk mencoba balas dendam, ya? Memang kau pikir aku tidak tahu-menahu siapa yang siang ini jaga piket dan absensi kelas! ]^^^
.
.
__ADS_1
Bersambung...