
Reid tidak gila kerja. Ia hanya terlalu sibuk mencari uang hingga lupa untuk sekadar merasakan yang namanya punya pacar. Tentu, bagaimana bisa ia berpacaran kalau teman saja ia tidak punya.
Jadwal Reid tanpa pacaran saja sudah super padat. Setiap malam tanpa ada hari libur, ia habiskan untuk kerja di bar. Sore hari dari Senin sampai Jumat, ia juga bekerja paruh waktu di swalayan.
Sementara untuk Sabtu dan Minggu, jika memang ia tidak ada halangan, mulai dari terbit mentari hingga jam makan siang berakhir, ia bekerja menjadi tukang bangunan. Siang harinya pukul dua hingga sebelum pukul delapan malam, ia kembali berganti profesi.
Kadang ia bekerja jadi tukang cuci piring di restoran Jepang, sesekali ia menjadi pemberi selebaran di pinggir jalan. Tetapi, kalau ia sedang kurang mujur, ia hanya bekerja sebagai badut dan atau pemegang tiket di taman bermain pusat kota New York. Sedangkan untuk malamnya seperti biasa. Ia hanya akan bekerja di pub (kepanjangan; public house) hingga dini hari.
Tidak jarang ia juga penasaran, kapan ia akan sekadar punya waktu untuk tidur nyenyak. Setiap hari ia selalu diburu-buru waktu dan hanya dapat tidur tidak lebih dari empat jam. Kecuali kalau ia terkena demam dan memang sudah parah. Ia akan punya kesempatan tidur paling tidak delapan jam dan tiga kali makan bubur, jika sedang beruntung.
Tapi, untuk hari ini, jadwal Reid agak sedikit berbeda. Ia ada kerja kelompok dengan gadis Rusia itu, Leonna Mileková dan kemarin sebetulnya, ia sudah memberikan teks untuk pertunjukan teater komedi kecil-kecilan mereka.
Namun, gadis bermata biru itu menolak mentah-mentah naskah yang ia berikan. Kata Leonna hasil karyanya itu terlalu membosankan dan atau entahlah, yang jelas cewek itu memaksa untuk membuat naskah baru.
Tetapi, jujur. Telah lama sekali ia mendapat tugas kelompok yang mengharuskan ia mengerjakannya dengan tatap muka. Biasanya kalau pun ada tugas semacam ini, rekan kerjanya pasti sudah lebih dulu mengeklaim kalau ia itu orang sibuk dan memutuskan untuk berkomunikasi saja lewat surel atau panggilan telepon.
Ia tentu tidak keberatan. Malah sebenarnya ia amat lega karena mereka tidak banyak cek-cok dan berakhir menjadikan kesibukan hariannya tumpang tindih.
“Bibi Smith, hari ini aku ada kerja kelompok. Apa aku boleh...”
“Ya, tentu saja. Pendidikan kamu lebih penting dan lagi pula ini sudah lewat jam makan siang. Toko tidak akan terlalu ramai nanti, jadi kamu bisa menggunakan ruang di belakang untuk belajar.”
Bibi Smith tersenyum pengertian. Ia yang memang sedang berada tepat di sebelah Reid kemudian mengusap lembut pucuk kepala Reid. Sementara yang diusap hanya balas tersenyum. Tidak tahu bagaimana lagi ia akan membalas kebaikan pasangan Smith ini.
“Terima kasih Bibi Smith.” Ujar Reid tulus.
__ADS_1
“Tidak masalah. Ya sudah kalau begitu, bibi ingin mengorganisir barang-barang di rak dulu. Kamu bisa menjaga kasir seperti biasa.”
Tepukan hangat mendarat kilat di pundak lebar Reid. Bibi Smith lalu menghilang di balik pintu gudang. Tidak lama, seorang paman yang amat dikenal Reid datang memasuki swalayan. Ia seperti biasa, hanya membeli beberapa bungkus rokok L&M merah dan kadang dua atau tiga botol minuman keras.
“Tiga bungkus seperti biasa. Oh, dan ini.” Reid melongo bingung. Dua lembar kertas dengan tulisan Regal Cinema tiba-tiba disodorkan Paman Cort.
Reid tentu tidak bodoh. Ia memang tidak pernah sekali pun memanfaatkan waktunya selain untuk kerja, sekolah, makan, tidur dan buang hajat. Lebih lagi, ia hanya untuk makan sesuai anjuran tiga kali sehari saja sudah sangat sulit, apalagi untuk bersenang-senang.
Ia pun mendapat kesempatan untuk mendengarkan dan sesekali melirik tayangan acara televisi di sela-sela waktu kerjanya di restoran Jepang saja telah amat hebat. Mana mungkin ia berharap lebih. Bahkan, membuang waktu dua jam—belum terhitung pulang pergi —hanya untuk duduk dan makan jagung meletus (baca; popcorn) di bioskop.
“Terimalah.” Paman Cort berujar lagi.
“Tapi, aku tidak perlu. Aku tidak—”
Reid menyodorkan paksa tiket yang ia tebak, kurang lebih seharga tiga bungkus rokok L&M merah yang Paman Cort beli. Jelas itu tidak murah. Tapi, akan sangat disayangkan lagi, jika uang seharga empat jam kerjanya di swalayan itu habis digunakan hanya dalam waktu satu kali duduk. Itu pun belum terhitung biaya konsumsi semacam camilan dan minuman.
“Tapi—”
Paman Cort menggeleng cepat. Ia kemudian tersenyum jail dan buru-buru merogoh dompet. Ia lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh dolar. Reid memandang Paman Cort berat hati. Ia dengan wajah ditekuk, kemudian mengambil selembar uang yang Paman Cort letakkan di meja kasir.
Kedua bola mata Reid yang agak cekung sontak terbelalak. Ia lupa kalau paman musisi jalanan itu paling senang meninggalkan uang tip.
“Kembaliannya, Paman Cort!”
“Ambil saja untuk tambahan uang jajan dan kencanmu.”
__ADS_1
Reid menghela nafas panjang. Paman Cort secepat kilat sudah menghilang dari balik pintu masuk swalayan. Namun tidak lama, Madam Ashter mendadak sudah berdiri di depan meja kasir. Wanita itu seperti biasa, tampak kelihatan masih muda meski telah hampir sepuluh tahun menjabat sebagai ibu dua orang anak.
“Ini.”
Madam Ashter mengangkat keranjang belanjaannya ke atas meja. Ia sedikit melirik dua lembar tiket yang terselip di bawah mesin kasir. Sementara Reid sebagai penjaga kasir, dengan senyum seramah mungkin, mulai menghitung barang-barang belanjaan Madam Ashter.
“Paman Cort seperti biasa—sangat energetik.”
“Hahaha, anda benar Madam Ashter.”
Reid tertawa sumbang. Ia jelas enggan menerima lembaran mahal itu. Sejenak, ia bahkan sempat terlintas untuk memberikan saja tiket bioskop Regal itu ke Madam Ashter. Siapa tahu wanita bertubuh lebih tinggi sedikit dari Leonna ini tiba-tiba ingin pergi kencan di bioskop bersama suaminya.
Tapi, ehm, kenapa ia jadi bawa-bawa Leonna? Sel-sel otak Reid agaknya semakin tidak stabil. Namun, masa bodohlah. Tidak akan ada yang tahu juga ia menyamakan tinggi Leonna dengan Madam Ashter. Lebih lagi, ia tidak sengaja. Jadi, tidak akan dihitung dosa kan?
“Oh! Apa kamu yang punya janji temu dengan Reid?”
Suara nyaring Bibi Smith sontak mengalihkan perhatian Reid. Tawanya mendadak luntur ketika mendapati Leonna yang tengah berdiri dengan gaun putih sepaha. Rambut Leonna yang tergerai bebas dan hanya dihiasi jepitan bunga kecil di sudut kiri rambut pirangnya itu melambai lembut.
Reid terpaku untuk beberapa menit. Ia semakin mirip manekin saja ketika iris hitam miliknya dan iris biru safir Leonna bertubrukan. Tidak tahu apa sebabnya. Jantung Reid sontak berdebar kencang. ‘Apa aku mengalami palpitasi?’
Detak di dalam relung dada Reid bagaikan sekumpulan kuda yang sedang berlomba di arena pacuan. Ia bahkan sampai berpikir kalau dirinya itu tengah mengalami palpitasi.
Tapi tentu bisa gawat, jika jantung Reid benar-benar berdetak seratus kali dalam satu menit. Ia jelas tidak ingin mati muda. Lebih lagi mati dalam kondisi bujang dengan Leonna yang menjadi saksi matanya. ‘Aku betul-betul sudah tidak waras.’
.
__ADS_1
.
Bersambung...