
Leonna bengong untuk beberapa detik. Pergelangan tangannya tiba-tiba sudah ditarik oleh figur tinggi bersetelan serba hitam yang melangkah santai dengan satu tangan mendorong setang sepeda berwarna merah hitam di sebelah kanannya. Sosok berambut gelap dengan wajah masih setengah mengantuk itu menyeret paksa Leonna ke arah berlawanan dari lokasi sekolah mereka berada.
Mata Leonna yang sejak tadi menatap kosong kemudian terbelalak lebar saat sadar kalau makhluk tampan di depannya ternyata adalah Reid. Meski air muka Reid kelihatan tidak segar, tetapi melihat genggaman yang dengan seenaknya melingkar di pergelangan tangan ramping Leonna, membuat si empunya jadi deg-degan sendiri dan berkat irama berdesir-desir di balik relung dadanya, Leonna dengan wajah bersemi merah muda instingtif mencoba menghempas kasar cengkeraman tangan Reid.
Namun dapat ditebak, Leonna gagal. Mengingat ukuran tubuh Leonna yang terpaut jauh lebih kecil dari Reid, jelas tenaga Reid akan berkali lipat lebih besar dibandingkan tenaga Leonna.
“Berhenti! Hei, kau! Apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan! Lepaskan aku!”
“Kau ini berisik sekali!”
Reid membentak Leonna cukup kencang. Leonna refleks tergugu takut. Bulu kuduknya ikut meremang tegang, lebih lagi setelah melirik kecil ke kanan dan ke kiri. Hanya ada deru bisik-bisik dari rimbun pepohonan, begitu sepi dan tidak tahu dari mana berhasil membuat Leonna berpikiran macam-macam.
‘Apa Reid berniat membalaskan dendam dan meminta ganti rugi karena peristiwa tidak mengenakkan pagi kemarin? Tapi kalau begitu, mana mungkin juga Reid mau berbaik hati membantuku dari tabrakan pengendara sepeda motor pada jam pulang sekolah setelahnya?’
“Cepat! Apa kau mau seharian berdiri di sana?!”
Leonna sontak berhenti melamun. Mulutnya menganga lebar, amat terkejut dengan pemandangan anti-mainstream beberapa meter dari jaraknya berdiri. Tampak Reid dengan kalem maksimal sudah berjongkok di atas tembok tanpa cat alias murni hanya dalam balutan semen kasar dan kelihatan begitu usang lagi jelek, setinggi hampir atau bisa jadi lebih dari tiga meter.
Tidak jelas pula sejak kapan dan bagaimana Reid sudah berada di atas sana. Tapi lebih membuat Leonna heran, karena tidak ada setitik pun bulir keringat yang sekedar bertengger apalagi sibuk-sibuk berseluncur turun dari pelipis Reid.
Apa mungkin akan masuk akal kalau makhluk bernama Reid ini ternyata memiliki sebuah kekuatan super? Semacam jaring laba-laba Peter Parker dalam film fiktif dari Marvel, Spider-Man? Atau lebih realistis, para traceur dan traceuse—praktisi parkur generasi pertama? Yah intinya, Leonna benar-benar tidak habis pikir dengan metode Reid bisa sampai di atas dinding sana.
“Apa yang sedang kau lakukan?! Apa kau sudah bosan hidup?!”
Leonna berteriak cemas. Horor sekali dalam bayangannya kalau harus sampai-sampai menjadi satu-satunya saksi mata dari tragedi mati konyol seorang siswa kelas dua belas yang harus meregang nyawa gara-gara terjatuh dari atap tembok dan semakin memalukan, karena di latar belakangi kelalaiannya sendiri yang datang terlambat ke sekolah dan tetap memaksa ingin masuk, meski dengan cara tidak lazim pun tidak dianjurkan demi keselamatan jiwa serta terutama, bagi reputasi emas institusi pendidikan mereka.
“Terserah kau mau ikut atau tidak, tidak ada ruginya juga kalau kau tidak ikut.”
“W-woah! Kau menyuruhku untuk ikut memanjat tembok ini?! Apa kau pikir aku ini juga siluman cecak sepertimu?”
Reid menguap lebar. Jelas tidak sama sekali tertarik, bahkan untuk sibuk-sibuk sekedar memberi secuil ulasan terhadap analisis tanpa bukti Leonna yang menyebutnya sebagai siluman cecak. Namun agak aneh di mata Reid, jika dia tidak salah lihat, Leonna dengan wajah super padam hingga kedua daun telinganya kini malah memalingkan pandangan ke arah ujung-ujung alas kakinya.
Entah, pikiran macam apa yang tengah berseliweran di balik tumpukan helai-helai rambut keemasan Leonna dan sangat gila, sebab Reid masih sempat berpikir kalau perilaku Leonna itu menggemaskan.
Reid tiba-tiba menghela nafas panjang. Rasionalitasnya seperti habis tersambar petir dan kian abnormal ketika ia sadar rasa kantuknya mendadak lenyap tak bersisa. “Kemari dan julurkan tanganmu.”
“Apa?”
__ADS_1
Leonna melongok bingung ke arah uluran jari-jemari panjang Reid dan bisa diprediksi, bahkan dua menit sudah, Reid menekuk se-ekstrem mungkin agar Leonna tidak perlu susah payah meloncat-meloncat untuk menggapai jemarinya. Tapi, Leonna hanya terus diam. Membeku layaknya manekin di belakang deretan kaca jernih toko-toko busana.
“Tiga, dua, sat-...”
“Baik, tapi... WAHHH! J-jantungku.”
Kedua mata biru Leonna membelalak ngeri. Tenggorokannya ikut sakit setelah berteriak beberapa detik lalu, sebab siapa yang dapat menyangka, hanya dalam satu tarikan dan dirinya kini sudah berada di atas tembok, di sebelah Reid dengan jemari dingin yang terselip di antara lapisan epidermis kasar telapak tangan mayor Reid.
“Lompat. Cepat lompat! Apa yang kau lakukan, hei! Apa kau tuli?!”
Detak memekakkan, sensasi panas dan kejutan listrik pada aliran darah juga syaraf-syaraf Leonna saking ributnya hingga menjadikan fokusnya buntu dan baru sadar setelah kata tuli keluar dari mulut setajam silet Reid.
“E-eh? Aku? Lompat? Tidak mungkin aku...”
Leonna menggeleng-geleng enggan dengan kedua lengan memeluk erat-erat kaki mulus tidak berbulunya sembari menenggelamkan grogi setengah wajahnya di balik tempurung lutut yang agak lengket keringat akibat terik matahari yang semakin panas mengudara di angkasa bersih tanpa kabut gelap dan hanya sedikit dihiasi gumpalan awan putih tipis di sana-sini.
“Cepat! Aku akan menangkapmu!”
Reid memosisikan lengannya, bersiap untuk menangkap Leonna. Kedua mata hitam Reid memandang mantap tepat pada iris-iris biru gugup Leonna dan setelah beberapa kali menarik menghembuskan nafas, Leonna dengan keberanian sekecil ikan teri pun melompat dan yup! Leonna dengan mulus, berhasil mendarat ke dalam tangkapan Reid yang tidak bisa disanggah, begitu romantis ala-ala gendongan pengantin baru.
“T-terima kasih.”
Beruntung Leonna memang sama kekinya, jadi dia juga tidak banyak komentar seperti sebelum-sebelumnya dan malah masih sanggup mengucapkan sepotong rasa terima kasihnya. Meski ketika Leonna mendengak untuk melirik wajah menawan Reid, ia serta merta harus tersenyum hambar, mendapati punggung Reid yang telah lama menjauh dari pandangan.
Tetapi berhubung Leonna tidak tahu harus bagaimana, walau ia kini sudah sukses menapaki area belakang bangunan sekolah SMA Stuyvesant, mau tidak mau Leonna pun berlari-lari kecil mengejar langkah panjang-panjang Reid. Sekitar lima tujuh menit dan Leonna telah berada kurang dari dua meter di belakang Reid. Nafasnya agak tersengal-sengal dan setelah melewati sekian banyak belokan juga lorong-lorong besar kecil, kedua mata Leonna membulat ganjil.
“Hm, bukannya ini jalan menuju... kafetaria?”
“Oh, Reid!”
Seorang wanita pada fase usia kepala empat dengan tahi lalat atau bisa dikatakan lebih mirip dengan kutil pada sisi kiri dekat garis hidung bangirnya berseru menyebut nama Reid. Aktivitas jari-jemari berlemak miliknya mengelap permukaan meja kasir pun ikut terhenti dan langsung berkacak pinggang sembari menatap garang ke arah figur tinggi menjulang yang sekejap sudah berdiri empat setengah ubin di hadapannya.
“Pagi, Bu Wira.”
“Kamu ini Reid, kebiasaan telat terus. Pasti belum sarapan lagi kan? Ya sudah masuk dulu, tapi ehm! Tumben kamu bawa pacar! Plus, selera kamu memang benar-benar Reid... Dari mana pula kamu dapat gadis cantik begini? Hm? Siapa namanya, katakan pada ibu.”
Bu Wira, madam penjaga kafetaria sekolah tersenyum mesem-mesem. Kedua netra tuanya bahkan sampai hanya menyisakan segaris melengkung panjang dihiasi kerut-kerut tanda penuaan di sekitar sudut-sudut matanya. Leonna balas melontarkan senyum kikuk, lain sekali dengan Reid yang memutar bola matanya malas.
__ADS_1
“Ayo, katakan pada ibu. Siapa nama gadis jelita ini, hm?”
“Leonna.”
“Bukan.”
Tanda tanya tercetak serentak pada wajah Bu Wira dan juga Leonna. Reid sebagai subjek kebingungan mereka kemudian menghembuskan nafas jengah dan tanpa sopan santun melangkah santai dengan jari-jemari diselipkan sok keren di saku celana melewati Bu Wira. “Bukan?”
“Bukan pacar. Dia orang asing.”
“Reid, kamu ini bicaranya! Mana mungkin kamu bawa orang asing, teman saja ibu tidak pernah lihat. Sudah, akui saja. Gadis cantik ini pacar kamu kan?! Berani bohong-bohong lagi sama ibu. Mana mungkin juga ada gadis yang tidak tertarik sama wajah tampanmu Reid. Ya, kan? Siapa tadi nama kamu, nak?”
Bu Wira mendadak menyambar jemari selembut kapas Leonna dan dengan ceria mengelus-elus sembari meremet-remet gemas seolah Leonna adalah mainan squishy atau boleh jadi sebuah boneka panda hidup dan gerakannya semakin semangat ketika Leonna dengan agak patah-patah menjawab rasa penasaran Bu Wira.
“L-Leonna, madam.”
“Kan, dari namanya saja sudah cantik. Kamu ini Reid, kalau hanya tersisa satu wanita secantik nak Leonna ini juga kamu tidak akan menolak. Ya, kan? Oh, dan panggil saya Bu Wira saja. Jangan madam, aneh sekali soalnya di telinga.”
Leonna ditarik cepat Bu Wira menuju pintu dapur kafetaria. Reid di dalam dengan wajah tanpa ekspresi memandang lurus ke arah permukaan berselimutkan taplak bercorak kotak-kotak hijau zaitun.
“Terserah, ibu mau bilang apa. Tapi koreksi, Reid tidak akan mau sama orang ini walau hanya tersisa satu spesies Homo sapiens betina di bumi.”
“Mulut kamu ya, Reid?! Apa lagi homo sap-sopi, apalah itu namanya? Sudah nak Leonna, tidak perlu kamu masukkan ke hati ucapan Reid. Gengsi sebenarnya Reid itu dan lebih baik, sibukkan saja mulut kamu Reid dengan makanan. Nak Leonna juga dan segera kembali ke kelas. Khawatir ibu, kalau tiba-tiba ada pengecekan dan malah ada murid di sini.”
Bu Wira berucap panjang lebar dan langsung pergi setelah menerima respon anggukan datar Reid juga senyum tawar Leonna. Atmosfer ruangan seketika menjadi berat dan tidak perlu panjang lebar lagi menjelaskan keadaan dua makhluk jelmaan, mungkin, malaikat di kehidupan sebelumnya itu, mereka berdua makan dalam diam. Begitu sunyi.
Namun, tidak tahu entah kenapa. Sesuatu dari kalimat terakhir Reid beberapa waktu lalu, seketika terlintas dan terus berputar di kepala Leonna. ‘Ah, perasaan menyesakkan ini, apa namanya?’
.
.
.
To be continue...
Bantu support author ya, terutama dengan tinggalkan like dan komentar kalian. Like dan komentar kalian itu sangat berharga bagi author. Plus, supaya author makin semangat up-nya. Thanks🙏🏻😊
__ADS_1
©Copyright 2021 - d.angelonico