
Tadi pagi sebetulnya Leonna sempat membaca ramalan cuaca hari ini. Jujur. Ia tidak pernah begitu khawatir entah cuaca akan cerah, mendung, bahkan hujan deras sekalipun. Tetapi, itu dulu ketika ia masih tinggal di Rusia. Sopir, asisten pribadi dan pengawalnya pasti sudah siap sedia tanpa diberitahu. Tentu. Tidak dengan sekarang.
“Apa perlu aku terobos saja? Tapi—baiklah, kita akan tunggu sebentar. Siapa tahu hujannya berhenti.”
Perkiraan Leonna ternyata salah besar. Sepuluh menit berlalu. Tetapi, bukannya hujan mereda yang ada malah semakin deras dan kini sampai berangin. Beruntung, ia masih berada di pelataran bangunan sekolah. Namun, ada sesuatu yang janggal semenjak bel pulang sekolah berdering.
“Kenapa sejak tadi sepi ya? Apa semua orang ikut ekstrakurikuler? Atau jangan-jangan, memang hanya aku yang masih belum pulang?”
Bangunan sekolah tampak sunyi senyap. Leonna tidak penakut atau apa. Tetapi, dari tadi ia belum melihat satu siswa-siswi pun lewat dan atau keluar dari bangunan utama sekolah. Padahal, ia duduk di bangku teras paling strategis di mana biasanya guru-guru piket mengawasi tiap bel pergantian mata pelajaran berbunyi.
Memang, masih ada Pak Sekuriti yang sempat bolak-bolak. Hanya saja, ia yakin betul saat bel pulang berdering tadi masih banyak orang. Itu juga keadaan di luar sudah hujan lebat. Jadi, bagaimana bisa sebegitu kilat langsung sepi?
“Benar-benar aneh. Tapi, masa bodohlah. Mungkin memang sudah pada pulang atau masih sama-sama menunggu hujan reda di dalam kelas. Lagi pula, ehm, aku masih kesal dengan Reid. Kenapa bisa-bisanya ia berucap seperti itu.”
Kecemasan Leonna kini berubah menjadi perasaan dongkol. Ia tiba-tiba teringat dengan kalimat sarkas Reid ketika jam istirahat pertama mereka pagi tadi.
Meski begitu, tetap tidak bisa dipungkiri. Ia juga diam-diam agak malu dengan kondisi hatinya yang sempat berbunga-bunga.
Tentu. Awal pertemuan mereka saja tidak bisa dikatakan baik. Mereka juga baru saling berbicara beberapa kali. Bagaimana mungkin Reid tiba-tiba menyukainya? Andai pun iya, paling-paling Reid hanya akan menganggap dirinya sebagai teman. Itu pula kalau Reid benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.
“Menyebalkan.”
...~Kilas balik jam istirahat pertama di atap sekolah.~...
Sudut-sudut bibir Leonna tertarik kaku. Ia yakin senyumnya sekarang betul-betul aneh di mata Reid. Namun, salah Reid juga. Kenapa tiba-tiba cowok itu bersikap sok khawatir begitu kepadanya? Sungguh. Detak jantungnya kini sudah kelewat berisik.
“Kau yakin?” Sebelah alis Reid terangkat memastikan.
“Ya.” Ujar Leonna tanpa pikir dua kali. Ia semakin berbunga-bunga saja berkat pertanyaan bernada agak cemas ke sekian Reid.
__ADS_1
“Baik, kalau begitu—aku hanya tidak ingin rekan kerja kelompokku sakit dan berakhir jadi aku yang mengerjakan semuanya sendiri. Jadi, lebih baik kau jangan sampai sakit. Akan sangat merugikan untukku,”
Reid berhenti sejenak.
Ia kemudian membalikkan badan dan beralih mengambil buku tulisnya yang terselip di antara tembok. Maklum, bangunan SMA Stuyvesant bisa dibilang sangat artistik. Bentuk tembok mereka dibentuk sedemikian rupa indahnya.
Meski pada akhirnya, hampir tidak ada yang pernah kemari, kecuali anak-anak yang berniat bolos atau seperti Reid. Hanya ingin mencari kedamaian, menjauh dari kerumunan ketika jam istirahat, sembari sekadar menikmati belaian angin dan segarnya udara.
“Oh, kecuali kalau hanya aku yang mendapat nilai. Aku tentu tidak akan masalah, jika kau sakit dan tidak bisa hadir seribu kali pun untuk mengerjakan tugas ini.”
Bukan itu yang sebenarnya ingin Reid katakan. Tapi, ia hanya tidak ingin Leonna salah paham dan yang ada malah menganggap kalau dirinya sedang mencoba mendekati gadis bermata biru safir itu.
Lebih lagi, benar pula kecemasan Reid. Mana ada orang yang tidak kesal ketika mendengar alasan seperti yang ia lontarkan barusan?
Senyum di wajah Leonna mendadak sudah lenyap tak bersisa. Predikat pangeran es yang sering kali empunya sendiri langsung dengar dari mulut gadis-gadis obsesif itu, agaknya tidak keliru. Reid tiba-tiba jadi merasa tidak enak hati dengan Leonna.
“Aku tidak selemah itu, tahu!”
Buku dengan tulisan tangan rapi disodorkan Reid tepat di hadapan Leonna. Ia tadi karena terlalu kesal dengan kalimat yang dilontarkan cowok itu langsung duduk begitu saja. Masa bodoh dengan nasib roti yang tadi sempat ingin ia terima. Ia sudah keburu tidak nafsu.
Tetapi, ya sudahlah. Atmosfer penuh gulali yang melingkupi dirinya dan Reid juga telah berubah drastis. Mereka berdua kini lebih mirip dengan karakter dari animasi anak-anak Tom dan Jerry. Entah, siapa yang berperan menjadi si licik Jerry dan si bodoh Tom.
“Tunggu. Ini—apa tidak ada naskah lain?”
“Memangnya kau punya? Lagi pula, dialog ini juga lebih baik dari yang kemarin. Bisa kau lihat. Ini! Bagian ini, bukankah bagus?”
“Bagus? Dari sisi mananya yang bagus. Ini memang kelihatan sangat terstruktur dari segi penulisan. Tapi—jalan ceritanya lagi-lagi terlalu hambar! Apa kau yakin kita akan mendapat nilai bagus dengan teks seperti ini. Maksudku, coba lihat. Ini! Apa~”
Sepuluh menit berlalu. Jam istirahat juga dua menit lagi akan kembali berdering. Namun, memang sepertinya tidak bisa bagi Leonna dan Reid untuk berdiskusi super kilat. Mereka yang ada malah terus berdebat.
__ADS_1
Topik argumentasi mereka juga tidak jauh-jauh karena teks yang dibuat Reid. Naskah cowok itu lagi-lagi terlalu tidak menyenangkan di mata Leonna.
Sementara Reid juga sama halnya seperti ketika diskusi pertama kalinya dengan Leonna. Ia terlalu keras kepala dan kukuh membela teks dialog yang jelas-jelas ia buat tanpa secuil hati pun perasaan.
PING!
Argumen berapi-api Leonna dan Reid sontak terhenti. Sebuah notifikasi dari ponsel di genggaman Leonna menginterupsi ketegangan keduanya.
Reid yang memang telah lelah beradu mulut dengan Leonna, refleks memberi sinyal agar gadis itu beranjak untuk segera memeriksa si ponsel pintar.
Leonna sontak menghela nafas sebentar.
Gadis berdarah biru itu sebetulnya masih ingin melanjutkan perang mulutnya dengan Reid. Tetapi, ia tiba-tiba teringat dengan pesan yang semalam belum dibalas oleh Leo. Bisa jadi kan bunyi ‘ping’ dari ponselnya itu kali ini memang benar adalah balasan pesan dari Leo.
Ia pun berjalan agak sedikit menjauh dari Reid. Ia kemudian beralih untuk menyalakan ponsel. Dan benar saja. Nama kakak kembarnya itu sudah tertera di atas layar kunci. Telunjuk lentiknya lalu buru-buru membuka aplikasi pesan.
...[ 5 Pesan masuk dari: Kak Leo ]...
...Leonna adikku sayang, maaf kakak tampan kamu ini baru bisa membalas. Terima kasih juga atas ucapan selamat kemarin. Lalu untuk perihal masalah akun GCD! kamu, kakak masih mengurusnya....
...Kemungkinan terburuk pelakunya baru bisa ditemukan lima hari ke depan. Jadi, untuk sementara waktu. Akun GCD! Lion.Me kamu akan dimonitor ketat dan mungkin tidak akan bisa digunakan sampai pengawasannya selesai....
...Oh! Untuk tema dan dialog skit yang kamu minta kemarin-kemarin, sudah kakak kirimkan dalam bentuk pdf....
...Ya sudah, belajarlah yang rajin. Teruskan berhati-hati juga. Jangan pernah keluar malam-malam kalau tidak terlalu penting. Berusaha juga untuk mengambil rute jalan yang ramai, oke? Baiklah, nanti akan kakak hubungi lagi. Bye-bye!...
...Salam juga untuk cowok yang kamu ceritakan waktu itu. Nyonya Cutler!...
.
__ADS_1
.
Bersambung...