HTTP 404

HTTP 404
Bab #39


__ADS_3

Oke. Leonna seharusnya tidak pernah mengajukan pertanyaan bodoh itu. Raut wajah Reid yang datar, semakin hambar dan tidak mengenakkan saja dari sebelum-sebelumnya. Sedangkan Reid yang diberi pertanyaan kelewat—menggelikan, sebetulnya hanya terlalu terkejut, hingga tidak dapat langsung memberikan respons.


Reid perlahan merilekskan degup jantungnya yang ribut kronis. Ia lalu sebisa mungkin melayangkan senyum natural, seraya menjawab hangat pertanyaan ‘penuh perhatian’ Leonna.


“Air dingin, jika ada.”


“Oke.”


Satu rahasia lagi—spesial untuk para pembaca. Reid memang sedang ingin minum yang dingin-dingin. Berhubung pula, botol berembun khas baru dikeluarkan dari dalam kulkas itu berada tepat di atas meja bar. Reid spontan saja menjawab ingin air dingin.


Kasihan juga kan? Leonna yang sudah dengan baik hatinya bertanya kepada Reid ‘ingin air mineral jenis apa?’


Padahal, Reid sudah bisa duduk di atas sofa kelewat empuk, menikmati nyaman tempat berpendingin ruangan, dan jelas ‘mewah’ saja, jujur, merasa mujurnya bukan main. Ditambah, ia dapat minuman gratis dan dingin, pula. Kurang nikmat apa coba sensasi nongkrong di apartemen Leonna?


“Ini. Silakan diminum.”


“Terima kasih.”


Sunyi. Hening. Sepi. Lagi-lagi atmosfer sarat kecanggungan mengukung kedua insan muda yang hanya ‘berduaan’ saja di ruangan luas dan megah di salah satu apartemen, di kompleks mahal The Beliquent Rozz.


Tindak-tanduk Leonna yang dengan begitu santainya mengikuti setiap gerak-gerik Reid pun, yang ada malah semakin menjadikan tamunya itu tidak bisa berkata-kata. Reid gelisah dan gundah gulana.


Memang, Reid pada dasarnya merupakan tipe orang yang tidak banyak bicara. Dan bukan karena ia ingin terlihat keren atau sok kegantengan. Tetapi, ia hanya selalu bingung bagaimana langkah memulai percakapan yang baik, benar, dan tidak membosankan tentunya.


Reid bahkan, di momen menegangkan seperti ini. Tiba-tiba saja ia jadi teringat saran sarkas dan luber penekanan Bu Leah saat giliran konsultasinya beberapa bulan lalu. Masukan yang awalnya ia kira tidak penting, kini malah berakhir menjadi bumerang dan naas, berhasil menyulut rasa frustrasi itu untuk kembali datang menginvasinya.


‘Jadi, ini pentingnya membeli dan mempelajari buku Seni Berkomunikasi? Menyebalkan. Jikalau dari dahulu aku tahu kejadian canggung dan tidak mengenakkan seperti ini bisa terjadi sewaktu-waktu, pasti sudah lama aku menghamburkan sedikit uang untuk pergi ke toko buku!’

__ADS_1


Gerutu Reid dalam hati.


Ia lalu melirik sedikit dari ekor matanya. Benar saja. Leonna kelihatan masih setia memandangi lekat-lekat dirinya. Padahal, pertunjukkan minum ‘air mineral dinginnya’ tadi sudah sedari tiga detik lalu usai. Jadi, apa lagi yang Leonna perhatikan? Apa ada yang salah dengan tata kramanya ketika minum tadi?


‘Aku ingin mati saja rasanya.’


Reid dengan keki akhirnya berdeham pelan. Ia lantas menaruh gelas yang jika ia tidak tahu sopan santun, pasti telah berkomentar, bahwa gelas minum Leonna ini mirip sekali dengan gelas-gelas kaca berukiran rumit dan tebal yang biasa digunakan untuk menyediakan minuman beralkohol di tempat kerja para barista.


“Dingin.”


Jika Reid sedang dalam kelas literatur, dijamin, pengajarnya hari itu bukan tidak mungkin akan memberikannya nilai minus. Tentu. Ia semestinya tadi berkata ‘segar’ dan bukan ‘dingin’. Tetapi, melihat ekspresi wajah Leonna yang tidak tahu mengapa tampak begitu lega. Ia jadi ikut lega dan agak—senang.


“Ehm. Jadi, untuk tema dan dialog skit kita. Referensi dari pdf yang kemarin kau kirim, aku rasa cukup layak untuk digunakan. Mungkin, memang ada beberapa kata yang perlu diubah agar terdengar lebih natural.”


Leonna diam-diam terkesiap. Ia yang sejak tadi tidak sadar duduk menopang dagu, lantas membenarkan posisi duduknya. Ia kemudian memajukan sedikit punggungnya ketika Reid dengan kilat sudah membuka pdf yang beberapa hari lalu Leo kirim.


Penjelasan Leonna diangguki mantap oleh Reid. Sebelumnya, pemuda itu pikir, gadis Rusia di depannya ini hanyalah pandai berkomentar. Tapi, setelah mendengar deretan kalimat berbobot Leonna barusan, ia tiba-tiba saja merasa begitu kompatibel.


Bagaikan sebuah ponsel pintar dan alat pengisi daya yang diproduksi satu paket oleh produsen yang sama. Diskusi antara Leonna dan Reid perlahan mulai mengalir lancar dan sedikit sekali terjadi argumen pun pertikaian tak berarti.


“Sebentar, aku akan mencatatnya. Eh, dan ini juga—apa menurutmu perlu diganti? Agak sedikit eksplisit kalau menurut sudut pandangku.”


Pandangan Leonna beralih menuju tulisan yang ditunjuk Reid. Ia sebetulnya ingin sekali mengeluarkan ponsel pintar dan ikut mencatat. Tetapi, mendapati cowok bersurai gelap yang begitu sibuk mencoret-coret di atas kertas. Ia tentu jadi tidak enak hati. Bisa jadi kan, kalau kesannya nanti ia seolah tengah pamer ponsel mahal?


“Aku tidak memperhatikannya tadi. Tapi, betul. Ini sepertinya harus diganti. Kata apa menurutmu yang cocok? Hm, bagian ini—kekeke~”


“No te preocupes, sólo estaba tomando el pelo. Membaca dialog ini dengan wajah datar pasti akan sangat menggelitik perut yang mendengarnya.”

__ADS_1


Adegan berceletuk dengan kalimat yang jika diartikan adalah ‘jangan khawatir, aku hanya bercanda’ dapat dipastikan, akan sukses besar membuat para penonton skit Leonna dan Reid tertawa terpingkal-pingkal.


Bagaimana tidak lucu? Dialog yang jauh lebih simpel, kiriman kembaran terkasih Leonna itu, bercerita tentang dua orang, yang di mana peran A berbicara terlampau fasih dengan gaya bahasa gaul. Sementara peran B, berbicara dengan bahasa terlalu formal hingga terkesan amat kaku.


Lebih detailnya, bagian yang tadi disebutkan Reid, merupakan adegan klim*ks ketika sang pembicara dengan bahasa formal, tiba-tiba saja mengopi tempel ocehan dari peran A.


Tentu. Dapat diperkirakan, bagaimana peran B yang sudah begitu jengah dengan cara berbicara A yang terlalu banyak penyingkatan kata dan candaan garing, akhirnya balas berucap dengan gaya bahasa informal.


“Eh, itu—ehm, kau cocok sekali untuk peran ini.”


Mata Reid sontak membulat. Telunjuk Leonna jelas-jelas menunjuk pada dialog milik peran B, yang sejak awal terdengar amat tidak banyak berekspresi dan super membosankan. Ia tentu tidak terima. Bagaimana bisa ia disamakan dengan orang dengan karakter mirip robot seperti peran B?


“Apa? Kau mengejekku?” Reid melirik tidak suka.


“Bu—bukan. Maksudku, ekspresinya ini terlalu datar dan suram. Jadi, dialog peran B sangat cocok untukmu. Dan lagi pula, peran A ini lebih ceria dan tipikal sekali ucapan remaja yang senang bercanda. Jadi, akan cocok sekali untukku. Benar kan?”


Sungguh sial. Perasaan senang satu per satu roboh dan tenggelam di lubuk terdalam rasionalitas Reid. Pernyataan Leonna barusan tidak dapat dielakkan, menohok tepat lubuk hatinya. Reid sendiri, bahkan sampai diam-diam setuju. Kalau personalitasnya ini memang terlahir begitu kurang pencahayaan dan keinginan untuk bersosialisasi, termasuk menjalin simbiosis A maupun Z.


“Tipikal berandal maksudmu?” Tanya Reid menatap jail Leonna.


“Hei, kau ini! Hahaha~”


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2