HTTP 404

HTTP 404
Bab #50


__ADS_3

Otak kiri dan kanan Reid sepertinya sedang bermasalah. Juga, kalaupun ia ingin berkata ‘tidak jadi’ dan atau ‘jangan dipikirkan’, agaknya malah akan bertambah tidak jelas dan sangat tidak keren di mata Leonna. Hm, kenapa juga ia harus sibuk-sibuk memikirkan kesan dan pandangan gadis itu terhadapnya?


“Itu, aku, aku kelas geografi di ruang kelas C-2, lantai satu.” Ujar Leonna super gugup.


Reid yang mendengar kata lantai satu pun diam-diam merasa lega. Ia tanpa pikir panjang kemudian berkata, “Oke. Aku akan mengantarmu lebih dulu kalau begitu.”


“Eh, apa? Tidak, tidak. Kau tidak perlu mengantarku. Sungguh. Aku sudah banyak merepotkanmu. Jadi, serius. Kau benar-benar tidak perlu, Reid!”


Mendengar penolakan keras Leonna, Reid yang ada malah kembali sebal. Ia lalu refleks melayangkan lagi tatapan tidak senang dan teramat tidak ramahnya kepada Leonna. Gadis di hadapannya itu lantas membisu dan menunduk ngeri.


“Tadi itu pernyataan, bukan pertanyaan.” Bisik Reid tepat di telinga Leonna.


Ucapan dingin dan hawa panas yang menerpa daun telinga Leonna, suka tidak suka, membawa percakapan dua insan muda itu menuju garis final. Reid tanpa banyak cek-cok lagi kemudian melangkah cepat mendahului Leonna. Sementara Leonna sendiri, sebagai subjek perubahan jelek perasaan Reid, lantas buru-buru mengekori langkah panjang-panjang cowok bersurai hitam itu.


‘Ada apa denganku sekarang? Sungguh. Jika bisa memutar waktu. Aku pasti tidak akan berkelakuan seperti—tidak! Aku pasti akan datang telat saja hari itu! Jadi, bagaimana setelah ini? Apa tidak ada cara lain untuk membumihanguskan seluruh perasaan konyol ini?! Oh, Tuhan! Habis sudah kehidupan normalku.’ Gerutu Reid dalam hati.


...🐣🐣🐣...


SMA Stuyvesant amatlah terkenal dengan tingkat kehadiran pelajarnya yang tinggi. Namun, kesuksesan tersebut bukanlah semata-mata karena peserta didik mereka yang takut dengan peraturan di sekolah elite mereka itu atau mungkin, memang murid mereka saja yang malas melanggar.


Tetapi, meski begitu hebatnya penjelasan di atas. Usia SMA Stuyvesant yang jelas sudah memasuki masa tua, sehingga mau tidak mau akan rentan sekali terkena serangan penyakit, bakteri, virus, jamur, dan seterusnya. Tentu. Kemunculan pelajar nakal dari lahir, ikut-ikutan nakal, iseng-iseng nakal, dan terpaksa nakal. Pastilah akan bermunculan walau persentase mereka tidak sampai satu persen.


Contohnya, dua pelajar ini.


“Quinn apa kau masih lama? Maksudku, tidak apa jika kau lama. Tapi, nasib absensi kita akan amat bermasalah, jika tidak masuk di kelas si Chatty Báthory itu!”


Raleigh Palomi berujar tidak nyaman. Ia seharusnya tadi mengikuti saja nasehat gadis rada idiot itu. Toh, tidak ada ruginya juga iya. Ditambah, ia pasti tidak akan terjebak di situasi tidak berfaedah dan rawan sekali berujung merugikan dengan sosok yang katanya primadona angkatan mereka ini.

__ADS_1


“Berani sekali kau menceramahiku! Kau pikir aku tidak tahu. Ya sudahlah. Ayo! Membosankan sekali kau ini!”


Puntung rokok, entah ke empat atau ke lima Quinn Delaney pagi ini, empunya lempar dengan kasar ke atas tanah. Ia lalu menginjak-injak tanpa moral batang nikotin yang baru sedikit terbakar itu. Ia pun setelah puas menyiksa si tuan rokok, lantas beranjak cepat dari tempat mereka berdiri.


“Quinn, tunggu, tunggu.”


Langkah Quinn Delaney yang bahkan belum menginjak tiga hitungan, sontak terhenti. Kedua alis kreasi Quinn lantas mengerut tidak senang. “Apa masalahnya lagi sekarang? Bukankah tadi kau yang bilang kita harus segera kembali ke kelas?! Kenapa kau malah—”


“Tidak, Quinn, maafkan aku, tapi, lihat di sana!”


Telunjuk berhiaskan cincin perak berukuran besar Raleigh Palomi menunjuk ribut ke arah bangunan di sebelah timur mereka. Tampak, seorang pria yang dapat dikenali meski dengan mata tertutup oleh Quinn, baru saja keluar dari pintu utama si gedung.


“Apa maksudmu—Reid?” Kalimat Quinn lagi-lagi terputus.


Ia terkejut bukan main melihat pujaan hatinya yang selama ini selalu sempurna dalam daftar kehadiran, tiba-tiba saja membolos. Ditambah, semakin aneh lagi, kenapa dan ada urusan apa Reid di gedung olahraga?


Tentu. Bukannya cowok ganteng itu tidak boleh berada di sana. Hanya saja, siapa pun tahu kalau Reid itu amat anti untuk menginjakkan kaki di tempat anak-anak basket di bawah pimpinan si pemuda sok keren, Noah Thatcher. Jadi, mengapa? Apa sebabnya?


Belum terjawab semua tanda tanya Quinn. Satu figur lain mendadak menyembul dari balik pintu gedung olahraga. Jari-jemari Quinn spontan mengepal erat.


Ia tahu betul tidak akan mudah untuk mendapatkan cinta dan perhatian seorang Reid Cutler. Tetapi, ia jelas amat tidak sudi, jika hati gebetannya yang ia kejar-kejar selama hampir empat tahun itu, dicuri begitu saja oleh hanya sekedar anak baru.


Mereka berdua bahkan belum terhitung sepuluh hari bertemu. Jadi, seharusnya ia lah yang lebih layak bersanding dengan Reid dan bukan Leonna Mileková!


“Berengsek! Gadis Rusia menyebalkan itu sudah betul-betul tidak sayang nyawa rupanya.”


Wajah Quinn merah padam. Amarahnya yang memang selalu naik turun tidak pandang waktu, apalagi bulu. Kini semakin meletup-letup saat dengan tiba-tiba Reid menggenggam tangan Leonna. Eksistensi gadis sok polos itu saja sudah cukup membuatnya muak, dan sekarang, digenggam tangannya oleh Reid?! Tidak bisa dibiarkan.

__ADS_1


KLIK!


“Apa yang kau lakukan?”


Suara jepretan kamera terdengar dari ponsel pintar Quinn. Raleigh Palomi pikir memang agak janggal dengan gerak-gerik kawan obsesifnya ini ketika tadi buru-buru merogoh saku celana dan mengeluarkan si ponsel pintar. Tetapi, memotret dua insan yang ia tidak ingin mengatakan sebenarnya, lumayan, atau tidak! Amat serasi di matanya.


Jelas. Reid pasti lebih memilih gadis yang tampak lugu, polos, dan mungil-mungil menggemaskan macam Leonna, daripada Quinn yang—ugh, terlalu eksplisit, obsesif, dan juga arogan. Ia sebagai teman, mungkin, seringkali dibuat risih dengan cara gadis bermarga Delaney ini bersikap. Namun, apa boleh buat. Quinn kelewat keras kepala dan keras hati.


“Memotret mereka hanya akan membuat ruang penyimpanan di ponselmu diisi sampah. Lagipula, jika kau kesal, kau bisa membalaskannya di lain waktu. Sederhana, kan?”


Raleigh Palomi berucap datar. Ia tidak ingin Quinn bertindak gila lagi. Kemarin-kemarin saja Vanya Orleans bilang, kalau cewek sok menarik ini pernah menyelengkat Leonna di kafetaria. Dan lebih buruk, saat aksi bodoh itu terjadi, Leonna ternyata oh ternyata tidak sedang sendiri. Ia tidak tahu bagaimana, dikelilingi oleh personil TTS dan bahkan, ketika hampir jatuh, Reid yang menjadi semacam pahlawan supernya.


“Balas dendam.” Ujar Quinn tiba-tiba dengan rahang mengeras akut.


“Apa?”


Suara Quinn terlalu kecil. Raleigh yang padahal berdiri di sebelah Quinn, lantas sedikit lebih mendekatkan jaraknya dengan gadis bersurai oranye merah itu.


“Aku akan menggunakan foto ini untuk balas dendam.”


Gambar yang tertampil di layar ponsel pintar Quinn, empunya itu tekan teramat kencang. Dan jika saja Raleigh tidak langsung menghentikan pelampiasan Quinn pada si ponsel bersampul merah emas, pasti layar mahalnya itu tidak butuh lama akan pecah dan berakhir menjadi barang rongsok.


“Terserah apa katamu. Tapi, jangan sampai orang tuamu nanti menyusahkan aku.” Raleigh berbisik dingin tepat di telinga Quinn. “Tenang saja. Para tetua itu tidak akan aku biarkan mengusikmu. Tapi, sebelum itu, gadis Rusia itu harus lebih dulu kuberikan pelajaran.” Jawab Quinn kemudian terkekeh menyeramkan.


“Tempramental seperti biasa.” Gumam Raleigh Palomi seraya bergeleng pasrah. Kemudian melangkah cepat mengekori jalan Quinn yang kelewat kilat.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2