
Semua pelajar di dalam kelas lantas semakin asyik tengok kanan-kiri, depan-belakang. Awalnya mereka tentu tidak peduli jika ada satu dua murid yang membolos. Tapi, masalahnya. Sosok yang tidak hadir di kelas sekarang ini, sejak kedatangannya menjadi pelajar baru di Stuyvesant, selalu saja menuai kontroversi.
Kabar-kabar gosip yang terakhir ramai bercuit adalah si A (anonim) dan Pangeran Es Stuyvesant, alias Reid Cutler, dalam tragedi Jum’at lalu di gedung olahraga. Para pejantan yang biasanya tidak peduli dan jarang sekali ikut-ikutan bergosip, bahkan sampai tahu dan kenal dengan pelajar kontroversial itu.
Namun, bukan mereka kepo atau apa. Sebab, bohong sekali kalau mereka tidak penasaran setelah membaca judul klip video ‘Jatuh Di Atas Dada Bidang-Nya!!!’ yang sejak malam Sabtu kemarin beredar dan terus ‘dibagikan’ (baca; share) dari grup Ka-Talk Angkatan 53.
“Hei, jadi Leonna benar-benar tidak datang? Ada apa dengannya? Apa dia sakit?”
Dave yang sama ingin tahunya dengan para pelajar lain, lantas berbisik amat pelan kepada Pretha. Sementara Pretha yang ditanya, jelas masih terlalu sukar setelah mengingat-ingat kembali ekspresi terakhir Leonna dan Reid tadi. Ia pun yang sebetulnya diawal, tidak ingin repot-repot mengkhawatirkan Leonna, gara-gara pertanyaan Dave ini, mau tidak mau jadi ikut terpancing.
“Aku juga tidak tahu.” Tukas Pretha lesu.
“Kau juga tidak tahu? Kalau begitu, kenapa kau tadi dengan pasrahnya memberikan bangku Leonna kepadaku? Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan, benar kan?”
Pertemanan Dave dan Pretha tidaklah hanya satu dua hari. Mereka ini sudah saling kenal dan berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ditambah, perasaan ‘cinta yang bersemi kembali’ Dave kepada Pretha, menjadikan cowok itu tanpa sadar selalu memperhatikan, bahkan mempelajari semua mimik dan bahasa tubuh Pretha.
Jadi, seperti saat ini. Dave sangat yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres antara Pretha dan Leonna.
Dan oleh sebab itulah. Ia sebagai si pejuang cinta, perlu sekali untuk mengulik-ulik isi pikiran Pretha pujaan hatinya ini. Tidak peduli sedalam apa kotak rahasia gadis itu berada. Ia wajib, fardu menemukan dan mengetahui isinya. Atau minimal, mendapatkan seunyil kepingan-kepingan petunjuk untuk membuka gemboknya.
“Aku bilang, aku tidak tahu. Aku tadi hanya melihat Leonna dan Reid turun dari lantai dua ke lantai satu sesaat setelah bel masuk berdering. Dan lagi pula, bukannya aku pasrah, tapi kau yang memaksa McGary!”
Pretha mendengus sebal. Tetapi, meski begitu keadaannya. Atmosfer sang pengajar berumur di depan kelas, agaknya jauh lebih tidak senang daripada dirinya sendiri.
“Baiklah, tidak ada yang menjawab, berarti—”
__ADS_1
PING!
Bunyi notifikasi yang sengaja dipasang khusus, terdengar dari ponsel pintar dari atas meja guru. Ya. Benda persegi itu merupakan milik sang pengajar geografi. Wanita yang berpakaian semi formal itu lantas berhenti berucap. Namun, kedua kelopak matanya tidak lama kemudian, spontan langsung terbuka lebar-lebar, begitu membuka aplikasi Ka-Talk miliknya.
...[ 1 Pesan baru dari grup: Guru Piket ]...
...Diberitahukan kepada seluruh pengajar, bahwasanya salah seorang siswi bernama Leonna Mileková telah dikonfirmasi mendapatkan perijinan absensi sakit. Dan satu siswa lain bernama Reid Cutler, sebagai pelapor, akan sedikit telat memasuki pelajaran ke tiga. Oleh karena itu, dimohon sekali kepada para pengajar, agar mencantumkan absensi sakit pada Leonna Mileková dan keringanan datang terlambat di mata pelajaran ke tiga kepada Reid Cutler....
“Baik,”
Seluruh pasang mata menunggu kelanjutan ucapan sang guru dengan tidak nyaman. Terlepas dari usia pengajar mereka ini yang sudah tidak lagi muda. Memang, seharusnya mereka bisa lebih superior daripada si pengajar. Namun, berkat umur si guru pula lah, pengaruhnya dimata para petinggi Stuyvesant akan jauh lebih besar.
Jadi, pertanyaannya sekarang adalah, pesan apa yang sampai membuat raut wajah pendidik kolot itu begitu masam?
“Leonna sakit.”
“Apa? Hanya itu saja? Leonna sakit?”
Dave dengan suara rendah, menyuarakan sewot kegundahannya yang diam-diam tidak jauh beda dengan Pretha. Gadis berkulit tan itu yang mendengar jelas ucapan Dave refleks hanya menggeleng pelan. Ia berani bertaruh kalau sesuatu memang benar-benar akan atau malah telah terjadi kepada Leonna.
Tapi, ia harus tetap mencoba berpikiran positif. Siapa tahu itu hanya tebakan penuh imajinasinya saja. Benar, kan? Siapa tahu...
...🐣🐣🐣...
Seperti terkaan Reid. Gedung olahraga betul-betul kosong melompong. Tidak ada satu pun pelajar yang terlihat, bahkan di area luar bangunan. Begitu pintu masuk gedung dibuka pun, hanya ada gelap dan sunyi yang tampak.
__ADS_1
“Apa tidak apa-apa kau membolos Reid? Maksudku, kau tahu, absensi ketidakhadiran untuk kelas tiga kan tidak boleh lebih dari sepuluh persen dari daftar kehadiran. Kau juga kan termasuk dalam deretan pelajar teladan. Jadi, kalau kau tertangkap basah membolos di sini bersamaku, nama baikmu pasti akan tercoreng!”
Ujar Leonna.
Netranya kelihatan berkaca-kaca. Ia tidak bohong dan begitu tidak nyaman dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi kepada dirinya dan terutama Reid. Tentu. Jika ia yang dicap nakal atau apa, ia tidak akan mau untuk repot-repot ambil pusing. Tetapi, kalau subjeknya adalah Reid. Masa iya, ia bisa tenang-tenang saja membolos dan berduaan dengan cowok itu di sini?
“Benar. Kau dapat merampungkan sebuah novel dengan plot cerita seperti itu.” Reid berucap gemas.
Ia dan Leonna padahal sudah tidak jauh dari pintu masuk ruang ganti. Namun, berkat gadis itu yang berceloteh macam-macam, tiga menit waktu ijinnya terpaksa pula harus terbuang sia-sia.
“Apa?” Tanya Leonna tidak paham dengan tanggapan Reid tadi.
Reid kemudian menarik nafas panjang. Ia memandang lekat-lekat ke dalam dua iris biru safir cewek di hadapannya. Ia lalu berucap teramat santai.
“Khayalanmu terlalu tinggi Leonna. Ditambah, jikalau pun hal mengerikan itu terjadi, aku tetap akan baik-baik saja. Toh, kita sudah kelas dua belas. Jadi, tidak akan sampai satu tahun penuh juga, aku harus berkutat menjadi siswa panutan di sini.”
Pipi Leonna spontan merah merona. Ia tiba-tiba saja merasa begitu malu. Tapi, anehnya. Ia bukanlah malu hingga tersipu-sipu seperti ini karena kata-kata Reid. Melainkan akibat tatapan cowok serupa galah ini yang menatapnya kelewat intens.
Dan sungguh. Kalau saja ia punya kemampuan membaca pikiran, ia pasti tahu pikiran macam apa yang tengah menyelimuti kepala Reid ketika memandanginya begitu.
“Tapi, aku serius! Masa depan tidak dapat kita prediksi. Namun, jelas kita masih diperkenankan untuk mencegahnya kan? Jadi, sebagai antisipasi saja. Aku rasa, akan lebih baik jika kau kembali ke kelas sekarang. Aku—”
Leonna berhenti sejenak. Ia kemudian menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan ucapannya tanpa memandang wajah Reid. “—bisa sendiri. Jadi, kau hanya perlu sedikit menunjukkan kamar mandinya di mana dan setelah itu kau bisa langsung kembali ke kelas. Terima kasih dan maaf juga sebelumnya.”
.
__ADS_1
.
Bersambung...