
Atmosfer kafetaria sekolah hari ini, tampak lebih ramai dan sesak dari biasanya. Bisik-bisik, jeritan, dan tidak jarang umpatan kasar dari mayoritas pelajar perempuan. Bahkan, sampai pula membuat terpuruk para makhluk berjenis kelamin laki-laki yang juga tengah mencoba menikmati makan siang mereka.
Memang, bukan kali pertama fenomena menjengkelkan seperti ini terjadi. Tetapi, obsesi serta agresivitas para betina—menurut sudut pandang golongan lanang—dijamin bisa mengakhiri hidup mereka yang sebagian besar masuk dalam kategori jomlo akut.
Atau lebih terkenal dengan sebutan ‘Jomlo Hingga Lulus’. Berkat popularitas mereka yang tidak pernah naik, bahkan untuk sekadar naik daun, gara-gara tiga makhluk super tampan lagi berpengaruh di sekolah elite mereka, TTS alias ‘Trio Tampan Stuyvesant’.
Namun, menurut firasat mereka—para pejantan—akan ada demo besar-besaran dari para penggemar TTS. Sebab, tidak tahu angin dari mana. Personil TTS hari ini tidak hanya bertiga.
Seorang gadis cantik bermata biru safir dengan rambut kuning keemasan, tampak tengah berdiri di antara impitan tubuh dua anggota TTS. Di kiri—si poacher tampan oriental Asia, Irvine Wu dan di kanan—si pemilik suara seksi dari band musik sekolah, sekaligus Ketua OSIS kecintaan para betina, Axle Bru.
Sementara figur paling menawan, ramah dan paling dibenci, dalam diam tentunya, oleh para pejantan lain, bernama Angus Lawton. Yang semakin perfeksionis saja, karena juga merupakan calon pewaris utama Lawton Corp. itu, secara blak-blakan berulang kali melirik ‘si gadis beruntung’ dengan binar, yang orang idiot pun tahu. Itu adalah binar merah muda penuh romansa.
“Siapa cewek itu?” Penggemar TTS level 1 {fans bulu; baru niat ta'aruf}.
“Berani-beraninya dia bersanding dengan TTS tercinta kita!” Penggemar TTS level 3 {fans berat; pendorong popularitas}.
“Benar, apa dia pacar Angus? Tetapi, Irvine-ku sayang juga mengalungkan lengannya di pundak cewek itu?!” Penggemar TTS level 2 {fans medium; cucu wikipedia}.
“Apa mungkin dia rekrutan baru TTS? Atau malah jangan-jangan, dia satu dari jutaan makhluk centil lainnya?! Ugh, tidak bisa dibiarkan kalau begini.” Penggemar TTS level 4 {fans kronis akut; perlu dirukiah}.
Celotehan demi celotehan terus membumbung dari berbagai macam tingkatan penggemar TTS.
Namun, agak gawat sebenarnya. Karena popularitas gadis misterius berlesung pipit itu juga ikut membeludak. Meski dalam hal negatif dan lebih memanas-manasi hati para fans TTS setelah kian terus diamati.
Aura yang menguar dari gerak-gerik si gadis kelihatan sangat polos dan suci. Bak bayi malaikat yang baru lahir. Itu pun, kalau malaikat memang memiliki hasrat untuk menghasilkan keturunan.
“Kenapa berisik sekali? Apa yang sedang mereka bicarakan hingga seheboh ini?”
Seorang gadis berpakaian kurang bahan dengan dandanan terlalu menor, menurut sudut pandang pelajar betina lain, yang baru saja kembali dari toilet tiba-tiba buka suara. Agak penasaran sebenarnya ia. Sebab baru saja ditinggal sebentar, suasana kafetaria mendadak sudah berubah menjadi panas dan suram.
“Itu, Quinn, di sebelah sana...”
__ADS_1
Salah satu kawannya yang duduk tepat di sebelah sosok bernama Quinn itu, menunjuk ke arah pintu masuk kafetaria. Quinn yang awalnya tidak ingin terlalu memedulikan serta merta terbeliak lebar.
Cengkeraman tangan Quinn pada alat makan yang baru saja diambilnya pun sontak mengerat dan mungkin, jika sendok garpu itu bisa berbicara. Mereka pasti sudah berteriak-teriak kesetanan saking sesaknya.
“Leonna? Cih, kenapa di mana-mana dia selalu saja menyebalkan. Awas saja kau, Leonna!”
...🐣🐣🐣...
Keempat makhluk bertampang rupawan, yang tiga di antaranya adalah laki-laki, melangkah santai memasuki kafetaria dan seperti biasa bagi ketiga remaja lelaki itu. Berbagai macam tatapan serta merta tertuju ke arah mereka. Namun, lain halnya dengan yang dirasakan satu makhluk ‘baru’ di tengah-tengah mereka.
Sosok baru itu, seorang gadis berbulu mata lentik dengan hiasan iris biru safir, perlahan menelan air ludahnya canggung ketika sadar kedatangan dirinya bersama tiga orang pemuda di sebelah kanan dan kiri, benar-benar begitu menarik perhatian.
Jangan tanya bagaimana ia bisa tahu. Sebab, akan sangat tidak waras jika ia tidak tahu, padahal sudah sebegini intensnya tatapan dari para penghuni kafetaria.
“Kalian duluan saja. Aku dan Leonna yang akan mencari tempat duduk.”
Yang dipanggil Leonna refleks mengangguk-angguk setuju, saat mendengar suara riang dan tanpa beban dari sosok yang sepanjang perjalanan mereka berempat menuju kafetaria. Tidak pernah barang sedetik pun melepaskan rangkulan tanpa permisinya dari bahu Leonna.
“Eh, itu. Aku paket—paket satu saja.”
Leonna menjawab patah-patah ocehan pedas figur berpakaian paling modis di antara ketiga pemuda di depannya, Axle. Sementara Irvine, objek marah-marah Axle dengan malas melepaskan rangkulan posesifnya dari bahu sempit Leonna.
Namun, bukannya ia langsung pergi. Ia malah berpura-pura sibuk mengorek-ngorek jorok lubang salah satu telinganya yang bertindik tiga.
“Irvine, kau dengar kan? Jadi sana, cepat pergi sebelum kehabisan!”
“Tsk! Sejak kapan kita pernah kehabisan makanan?”
Decak kesal meluncur bebas dari bibir Irvine. Tetapi, belum sempat Axle kembali angkat bicara. Ia sudah lebih dulu berlari ke arah antrean panjang siswa-siswi yang sontak membuat Leonna terpukau. Karena tiba-tiba, baris antrean terbuka dan Irvine dengan senyum menawannya sudah berdiri tepat di depan meja kasir.
Leonna kemudian menghembuskan nafas lelah. Agak merasa déjà vu dengan keajaiban Irvine. Tapi, beruntung. Saat Leonna menengok ke arah deretan meja-meja kafetaria, sekelompok besar remaja laki-laki di meja paling ujung ruangan, tengah beranjak satu-satu dari duduknya.
__ADS_1
“Oh, meja di sebelah sana sudah kosong. Aku akan—WAHHH!”
Entah, Leonna harus bersyukur atau tidak. Jari-jemari dengan urat-urat mencuat kelewat pas mengukir kulit pucat milik sosok dengan wangi khas sabun mandi, sontak dengan sigap menangkap tubuhnya yang tiba-tiba limbung, akibat ujung sepatu ketsnya yang terbentur sesuatu berbahan keras.
Tidak jelas apa itu. Namun, jika Leonna tidak salah lihat, benda berwarna oranye itu mirip sekali dengan sebuah...‘W-wedges?’
Leonna membeku. Tetapi, bukannya Leonna tidak peduli tentang milik siapa dan atau, benar atau tidak kemungkinan adanya ‘makhluk’ yang memang sengaja bermaksud jahat kepada dirinya.
Hanya saja, jantung Leonna telah lebih dulu berdebar-debar dan hampir saja meledak setelah mendengar bisik serak-serak basah dibarengi terpaan hangat dari nafas sosok super hero yang ia tahu tanpa perlu melihat. Itu jelas sekali adalah Reid Cutler.
“Hati-hati.” Ujar Reid di cuping kiri Leonna.
“R-Reid, t-terima ka-...” Pelukan Reid terlepas, Leonna dengan dibantu Reid, berdiri kembali dengan normal.
Namun, mungkin Reid memang tidak begitu senang mendengar kalimat maaf, begitu pula ucapan terima kasih.
Ia bagaikan seorang shinobi yang menggunakan jurus Shunshin no Jutsu. Atau mungkin, perapal mantra Harry Potter apparate dan disapparate, master teleportasi, makhluk astral, dan atau tidak penting apa nama tepatnya. Tapi, yang jelas. Reid tiba-tiba saja sudah menghilang dari pandangan Leonna.
“...sih.”
“Tsk! Berengsek!”
Di lain tempat, sementara roh Leonna masih dalam proses menyatu kembali dengan raga empunya. Gadis pemilik wedges oranye yang sekilas dilihat Leonna, serta merta mendengus kesal. Ia kemudian dengan tergesa-gesa berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan kafetaria.
“Leonna, apa kamu baik-baik saja?”
.
.
Bersambung...
__ADS_1