HTTP 404

HTTP 404
Bab #38


__ADS_3

Bibi Smith diam-diam tersenyum genit. Ia tidak berniat berlaku tidak sopan atau tidak menghargai privasi Reid. Hanya saja, cobalah lihat bagaimana mata pemuda ganteng itu yang tiba-tiba saja berbinar-binar. Siapa pun yang melihat pasti akan sama penasaran dengan dirinya. Ia lantas berdeham cukup kencang.


“Maaf, Bibi Smith. Itu—aku. Maksudku, hari ini aku mendadak ada kerja kelompok. Jadi, aku akan pamit sekarang. Maaf, karena telah banyak merepotkan bibi.”


“Baiklah, hati-hati di jalan dan salam juga—” Reid menengok bingung. Bibi Smith mendadak cengengesan sendiri dan kemudian berdeham lagi. “—salam untuk Leonna.”


Wajah Reid refleks merah padam. Ia lalu mengangguk grogi dan buru-buru menyabet tas. Kemudian keluar dari ruangan. Sedangkan Bibi Smith spontan mengekori gerak-gerik Reid dan melambai iseng ketika pemuda penggila warna hitam itu menengok lagi dari luar pintu kaca transparan swalayan.


“Anak itu—aku jadi merasa sangat tua menyaksikannya. Cinta remaja memang paling rumit, hm. Leonna dan Reid. Leonna Cutler. Tidak buruk.”


Raut wajah Bibi Smith yang baru saja kelihatan malu-malu mendadak berubah jengkel. Tampang terengah-engah seorang anak muda dengan tubuh lebih pendek beberapa senti dari Reid, melangkah tergesa-gesa melewati pintu depan swalayan.


Bukan hanya penampilan makhluk berkulit tan itu yang terlalu berandal, kelakuannya bahkan bagaikan langit dan bumi dengan Reid. Ia begitu sampai, menggebrak cukup kencang permukaan meja kasir.


“Maafkan aku Bibi Smith sayang. Ada beberapa hal yang perlu aku urus tadi. Bibi pasti mengerti kan? Masalah anak muda~. Tapi, ngomong-ngomong. Ada apa dengan Reid? Apa dia demam? Kenapa mukanya merah padam begitu? Dia bahkan tidak menjawab sapaanku tadi.”


Celotehan luas kali keliling Ulrich Ka’aukai akhirnya berhenti juga. Bibi Smith sontak menghela nafas panjang. Ia sebetulnya amat peduli, sekalian simpati dengan keadaan bocah lebih tua entah dua atau tiga tahun dari Reid Cutler.


Namun, masalahnya. Mau diceramahi seribu kali pun, perilaku pemuda ini pasti tidak akan pernah berubah. Ia mirip sekali seperti para berandalan badung dan anak punk yang sering nongkrong di sudut-sudut jalan belahan kota New York.


Cukup beruntung sebetulnya, karena Ulrich ini masih bersih dan belum berurusan satu kali pun dengan aparat keamanan. Sebab, kalau ternyata ia sudah ada rekam kriminalitas. Suami tercinta Bibi Smith pasti tidak perlu pikir panjang untuk menolak lamaran kerja paruh waktu Ulrich di Smith Smiley Smart beberapa bulan lalu.


“Demam.”


“Apa?” Ulrich bertanya memastikan. Suara Bibi Smith barusan kelewat kecil. Ia jadi amat tidak yakin. Apakah wanita paruh baya itu tadi berkata ‘demam’ atau entahlah. Ia juga tidak ada ide.


“Iya. Reid sedang demam.”

__ADS_1


Cowok dengan banyak tindik pada daun telinga kiri dan kanan, bahkan sampai bibir dan di sekitar alisnya tanpa sadar mengangguk paham. Tetapi, belum ada beberapa detik. Ia lantas membeo lagi.


“Oh, demam. Tapi, demam? Sakit maksud bibi?”


Bibi Smith samar-samar tersenyum tipis. Ia kemudian seraya menjawab, memberi instruksi kilat agar Ulrich segera menggantikan posisinya berjaga di balik meja kasir.


“Benar. Demam cinta.”


Lima tujuh detik berlalu. Bibi Smith yang kini sudah menghilang di balik pintu dengan tempelan besar-besar bertuliskan ‘Khusus Pegawai’ lantas menghela nafas lega. Sementara sosok yang sekarang sedang memandang jenuh pintu masuk swalayan, tiba-tiba membulatkan lucu bola matanya.


“Eh? Demam cinta? Apa itu nama jenis virus demam terbaru? Aneh sekali. Dunia benar-benar semakin gila saja dari hari ke hari.”


...🐣🐣🐣...


Bel apartemen Leonna akhirnya berdering juga. Ia sudah semenjak dari sepuluh menit lalu mondar-mandir cantik di ruang tengah. Barang-barang dan perkakas yang belum lama berserakan parah di tiap bucu apartemennya, kini bahkan telah rapi di tempat mereka masing-masing.


Leonna grogi. Jelas. Apalagi setelah mengetahui bahwa di balik pintu apartemennya ini, sudah berdiri dengan gagah, figur menawan hati bermarga Cutler. Ia jika boleh jujur, tadi juga baru sekali sadar dan sangat menyesali ajakan spontan bodohnya itu untuk melakukan diskusi di apartemen bernomor 411-nya ini.


Reid pula, apa karena jari cowok itu tidak sengaja terpeleset atau memang ia betul-betul tidak sedikit pun memiliki komplain. Reid sebagai rekan tugas kelompok pertama Leonna di negeri Paman Sam, tanpa banyak cek-cok membalas begitu singkat, pesan gadis ras Kaukasia itu dengan sepotong kata ‘oke’.


Memang sih, ada baiknya karena Leonna jadi tidak perlu repot-repot keluar rumah. Mengingat, kondisi kepalanya ini sesekali masih terasa begitu berat dan energinya pun belum seratus persen stabil. Namun, di apartemennya?! Hanya berdua ‘lagi’ dengan Reid Cutler?! Leonna pasti sudah betul-betul kehilangan akal sehatnya.


“Silakan masuk.”


Pintu apartemen Leonna buka dengan cukup lambat. Wajah tampan dan badan tegap Reid serta merta tampil dengan indah di hadapannya. Cowok kelahiran bulan Desember itu lantas tersenyum canggung dan langsung masuk begitu empu pemilik apartemen mempersilakan.


“Jadi, kau ingin meminum sesuatu? Ada teh, jus dan—” Leonna berkata dengan amat kikuk. Reid yang sama grogi dengan Leonna, refleks buru-buru memotong kalimat gadis itu. “Air putih saja. Tidak apa-apa.”

__ADS_1


“Oke. Air putih.”


Dalam hati, Leonna merutuki sendiri kelakuannya barusan yang tidak bisa santai. Ia yang sekarang sedang berdiri di depan lemari pendingin tiba-tiba saja jadi ragu. Ia spontan melirik ke arah Reid. Namun, cowok itu kelihatan amat serius menatap layar ponselnya yang, ehm, tampak jadul.


“Bagaimana ini? Aku lupa lagi menanyakan air dingin, air biasa, atau air hangat. Mana Reid sedang serius sekali. Tanya saja kali, ya? Daripada nanti salah. Kan memalukan.”


Sementara Leonna masih menarik, menghembuskan nafas, dan mengatur detak jantungnya. Udara dingin yang dihasilkan oleh pendingin ruangan alias AC, bukannya meredakan gerah dan panas di tubuh Reid, malah sialnya memperparah. Hingga bahkan, sukses mengubah keringat insan ganteng itu menjadi panas dan dingin—disingkat, ‘panas dingin’ atau simpelnya, meriang.


Tentu. Hanya orang tolol yang merasa senang berulang kali ditatap intens seperti pada posisi seorang Reid Cutler sekarang.


‘Apa? Kenapa hanya diam saja? Leonna, cepat katakan! Apa kau butuh sesuatu? Jangan bilang, kau tidak bisa membuka tutup botol itu?! Tsk! Berhenti melirikku begitu! Cepat bersuara!’


Sekujur tubuh makhluk yang kini tengah berpura-pura sok sibuk itu, mungkin saja sudah bolong-bolong, jika tatapan Leonna adalah macam pahlawan super di kartun-kartun Marvel yang ada sinar lasernya. Entah, apa itu mereka menyebutnya. Yang jelas, Reid betul-betul sudah tidak tahan.


“Reid?”


Fokus Reid teralihkan menuju Leonna yang sedang berdiri gugup di depan meja bar. Di genggaman gadis itu, tampak sebuah gelas yang jika tebakan Reid benar, bisa jadi masih belum sama sekali terisi. Kecuali, kalau Leonna memang memiliki ilmu sihir, sulap, magis, dan seterusnya, untuk membuat air tidak tumpah meskipun dalam posisi bokong gelas yang menghadap vertikal langit-langit ruangan.


“Ya?” Jawab Reid berusaha setenang mungkin.


“Itu—kau ingin air mineral dingin, hangat, atau yang biasa saja?”


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2