HTTP 404

HTTP 404
Bab #42


__ADS_3

Hari ini mungkin akan menjadi Senin paling menyebalkan sepanjang sejarah Leonna menuntut ilmu. Pasalnya, kemarin karena emosinya yang naik turun, ia jadi tidak bisa tidur nyenyak dan lupa untuk mengecek jadwal pengajar beserta mata pelajarannya dua kali.


Namun, itu sialnya tidak bisa diklaim pula sebagai alasan mengapa kecerobohan dan ketidakberuntungan ini terjadi pada Leonna.


“Baiklah. Kepada peraih nilai tertinggi untuk tes prastudi hari ini adalah Reid Cutler. Sementara untuk nilai paling rendah, sebelumnya, seperti peraturan yang lalu-lalu. Nilai di bawah empat puluh, maka wajib memilih antara dua. Sesi mentutor setelah pulang sekolah dengan saya di kantor guru atau—dengan peraih nilai tes tertinggi semester ini, Reid Cutler.”


Mata para siswi, kecuali Leonna tentunya, malah berbinar-binar setelah mendengar penjelasan Bu Chatty. Jelas. Gadis mana yang berani menolak tutor ganteng dan keren macam Reid Cutler?


Kesempatan seperti ini pun, bahkan tanpa sadar membuat beberapa siswi yang mengerjakan kuis dadakan guru matematika mengerikan mereka dengan penuh persiapan dan sepenuh hati, mendadak jadi dilanda penyesalan teramat kronis.


“Baik. Istimewa untuk semester ini, hanya ada satu pelajar yang mendapat nilai di bawah empat puluh. Jadi, pelajar yang mendapat nilai paling rendah adalah—”


Jantung Leonna berdegup super kencang. Ia tanpa sadar ikut mengeratkan tautan jari-jemarinya yang tengah meriang panas dingin. Peluh imajinatif pun kian deras membasahi kemeja putih di balik rompi hijau matcha model rajutnya.


“—Leonna Mileková.”


Nafas Leonna tercekat. Bola mata beriris biru safirnya membulat sebulat-bulatnya. Ia tidak menyangka. Jikalau dewi keberuntungan akan sebegitu pelitnya untuk mengabulkan permintaan meraung-raung pilunya, bahkan dari sebelum kuis matematika menyesakkan itu dimulai.


“Beruntung sekali dia. Aku juga ingin ditutor oleh Reid!” Penggila Reid Komplikasi Stadium 3 {diagnosis; cemburu yang terlalu blak-blakan}.


“Benar. Kapan lagi aku dapat kesempatan untuk ditutor hanya berduaan oleh Reid Cutler?” Penggila Reid Komplikasi Stadium 2 {diagnosis; khayalan dan harapan yang perlu sekali untuk dikhawatirkan para psikiatrik}.


“Sudah terjadi, mau bagaimana lagi.” Penggila Reid Komplikasi Stadium 1 {diagnosis; terlalu pasrah, tapi oke}.


“Tahu kalau Reid adalah peraih nilai tertinggi untuk tes prastudi kali ini. Lebih baik semalam aku tidak usah repot-repot menghafal rumus-rumus memusingkan itu. Ugh, menyebalkan sekali.” Penggila Reid Komplikasi Stadium 4 {diagnosis; penyesalan yang miris rasionalitas}.


“Leonna Mileková? Leonna?”


Wajah Leonna yang sudah pucat pasi sontak kembali menatap lurus ke arah papan tulis. Bisik-bisik dari para pelajar perempuan di ruang kelas yang tengah gerah-gerahnya itu, tadi, sempat sukses besar menenggelamkan fokusnya. Ia pun refleks mengurut kencang sendi-sendi pada jari-jemari tangannya.

__ADS_1


“Ya?” Cicit Leonna menanggapi panggilan Bu Chatty.


“Jadi, supaya lebih adil. Silakan pilih gulungan kertas ini. Kanan atau kiri?”


Gulungan kertas berwarna sama-sama putih diangkat berbarengan. Namun, pada lokasi yang berbeda oleh Bu Chatty. Satu yang sedikit lebih tebal berada di telapak tangan kanan dan lainnya yang berukuran lebih kecil, bertempat di telapak tangan kiri. Leonna mengerjap sebentar dan kemudian dengan terbata-bata berucap.


“K-ki—”


“Kiri?”


Tanya Bu Chatty tidak santai. Leonna mendadak ragu. Ia karena tadi suaranya entah kenapa tidak keluar dengan sempurna, diam-diam mencuri pandang ke arah gulungan kertas di sebelah kanan. Ia lantas menimbang-nimbang cukup lama.


Tetapi, para pelajar satu kelasnya ternyata jauh lebih penasaran dari yang Leonna kira. Atmosfer hening di dalam kelas pun perlahan mulai kembali berisik. Ia tertekan? Jelas. Siapa yang tidak merasa keberatan dan tidak nyaman, jika bisik-bisik berisi tumpukan kata ‘cepat!’ terus-menerus mendesak dengan amat kasar.


“Itu—tidak! Maksudku, kanan. Aku pilih kanan.”


Semua siswi, terutama, sama-sama menahan nafas gugup. Mereka jelas tidak suka kalau Leonna ditutor hanya berdua saja dengan sang pujaan hati, Reid Cutler. Namun, rasa prihatin pasti tetap akan menyembul. Meskipun itu hanya sebesar dan sekasat mata satu butir debu, jikalau Leonna ini sangat tidak beruntung malah ditutor ‘kelewat intensif’ oleh Bu Chatty.


Leonna lantas tercengang. Lidahnya kelu untuk sekadar bergumam, boro-boro berteriak. Mayoritas pelajar di dalam kelasnya juga sama terkejutnya. Mereka yang sempat merasa kasihan, jika Leonna terpaksa menjadi budak matematika Bu Chatty. Tidak lama kemudian, malah spontan menghela nafas gusar.


Tentu. Siapa sangka anak program pertukaran asal Rusia itu akan sangat mujur bisa ditutor oleh si Pangeran Es?


Sementara tutor tidak dibayar yang duduk di barisan paling belakang dan tersudut, lantas hanya dapat menerima dengan pasrah. Walau sebenarnya, jauh di bucu terdalam irasional Reid. Tidak tahu atas dasar apa, ia selintas merasa begitu lega dan, ehm, gembira dengan pilihan Leonna.


Reid kemudian melirik sekilas ke arah ‘murid satu-satunya’ itu dan tidak ada tiga detik. Ia menatap lurus lagi ke depan dan lalu merespons mantap pertanyaan Bu Chatty.


“Mengerti, Bu.”


“Bagus, kalau begitu. Dua menit untuk kalian bertukar tempat duduk.”

__ADS_1


Seluruh pasang mata untuk ke sekian kalinya, melayangkan tatapan bingung. Skenario apa lagi yang tengah dirancang sekaligus dipaksa terwujud oleh guru matematika garang mereka? Leonna sendiri pun hanya bisa melongo bak sapi ompong.


Namun, memang. Orang dengan kapasitas berpikir tinggi dan kegeniusan berlebih macam Reid, tidak mungkin, tidak akan mengerti. Ia membisu, tentu bukanlah karena ia yang tidak paham. Melainkan, ia ini sedang menunggu pergerakan Leonna atau lebih tepatnya, menunggu gadis itu mencerna dan memutuskan pilihan yang epilognya telah jelas sama saja.


“Apa?” Gumam Leonna tanpa ekspresi.


“Silakan bertukar tempat duduk. Ingin Reid yang pindah ke sebelah Leonna atau Leonna yang pindah untuk duduk di sebelah Reid?”


BLARR!


Penjelasan detail akhirnya keluar juga dari bibir berpoleskan gincu merah tua Bu Chatty. Otak Leonna mendadak kian kopong. Belum habis keterkejutannya, lantaran mendapat kehormatan ditutor hanya berdua oleh Reid. Sekarang, ia juga tiba-tiba harus duduk di bangku yang berada tepat di sebelah Reid.


Ya. Benar-benar tepat di samping Reid. Di jarak terdekat. Jarak paling tidak aman untuk kesehatan jantung, mata, mental, hati, paru-paru, ginjal, otak, kelenjar keringat, dan seterus-seterusnya.


‘Kau benar-benar terlalu dermawan Dewi Fortuna! Bagaimana plotnya jadi menegangkan dan haru biru, merah, kuning, hijau seperti ini? Yak! Ekspresi apa yang harus aku pertunjukan mulai sekarang? Kau pun sungguh licik, wahai Cupid! Juga, kalian semua di langit sana! Kalian lebih layak dikutuk menjadi rubah, ketimbang membuat plot mengerikan macam ini. Menjengkelkan sekali.’


“Baiklah. Mari kita mulai materi pertama untuk semester ini. Silakan buka buku paket kalian halaman lima dan simak baik-baik. Jangan melamun, apalagi mengantuk, karena judul materi kita kali ini adalah—”


Sementara Leonna sibuk merutuki ‘tidak jelas entah siapa itu’. Reid dengan raut muka super kalem, namun palpitasi yang tiba-tiba kambuh, kini sudah duduk di bangku tepat di sebelah Leonna.


Dan, yup. Betul sekali tebakan para pembaca.


Reid yang pindah tempat duduk. Ia pula yang sekarang ini tengah berteriak-teriak kegirangan di dalam hati. Tetapi, berkat itu pula, materi pembelajaran terlampau ketat dan telah dibuktikan selalu membuat jantung pelajarnya jedag-jadug, dapat dimulai seawal mungkin oleh sang pengajar tercinta, Bu Chatty.


‘Palpitasi ini semakin memburuk saja dari waktu ke waktu. Tapi, ehm, ia menggemaskan juga lama-lama diperhatikan.’ Batin Reid.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2