HTTP 404

HTTP 404
Bab #69


__ADS_3

Leonna berteriak cemas. Horor sekali dalam bayangannya kalau harus sampai-sampai menjadi satu-satunya saksi mata dari tragedi mati konyol seorang siswa kelas dua belas yang harus meregang nyawa gara-gara terjatuh dari atap tembok dan semakin memalukan, karena di latar belakangi kelalaiannya sendiri yang datang terlambat ke sekolah dan tetap memaksa ingin masuk, meski dengan cara tidak lazim pun tidak dianjurkan demi keselamatan jiwa serta terutama, bagi reputasi emas institusi pendidikan mereka.


“Terserah kau mau ikut atau tidak, tidak ada ruginya juga kalau kau tidak ikut.”


“W-woah! Kau menyuruhku untuk ikut memanjat tembok ini?! Apa kau pikir aku ini juga siluman cecak sepertimu?”


Reid menguap lebar. Jelas tidak sama sekali tertarik, bahkan untuk sibuk-sibuk sekedar memberi secuil ulasan terhadap analisis tanpa bukti Leonna yang menyebutnya sebagai siluman cecak. Namun agak aneh di mata Reid, jika dia tidak salah lihat, Leonna dengan wajah super padam hingga kedua daun telinganya kini malah memalingkan pandangan ke arah ujung-ujung alas kakinya.


“Apa?”


Leonna melongok bingung ke arah uluran jari-jemari panjang Reid dan bisa diprediksi, bahkan dua menit sudah, Reid menekuk se-ekstrem mungkin agar Leonna tidak perlu susah payah meloncat-meloncat untuk menggapai jemarinya. Tapi, Leonna hanya terus diam. Membeku layaknya manekin di belakang deretan kaca jernih toko-toko busana.


“Lompat. Cepat lompat! Apa yang kau lakukan, hei! Apa kau tuli?!”

__ADS_1


Detak memekakkan, sensasi panas dan kejutan listrik pada aliran darah juga syaraf-syaraf Leonna saking ributnya hingga menjadikan fokusnya buntu dan baru sadar setelah kata tuli keluar dari mulut setajam silet Reid.


“Cepat! Aku akan menangkapmu!”


Reid memosisikan lengannya, bersiap untuk menangkap Leonna. Kedua mata hitam Reid memandang mantap tepat pada iris-iris biru gugup Leonna dan setelah beberapa kali menarik menghembuskan nafas, Leonna dengan keberanian sekecil ikan teri pun melompat dan yup! Leonna dengan mulus, berhasil mendarat ke dalam tangkapan Reid yang tidak bisa disanggah, begitu romantis ala-ala gendongan pengantin baru.


Beruntung Leonna memang sama kekinya, jadi dia juga tidak banyak komentar seperti sebelum-sebelumnya dan malah masih sanggup mengucapkan sepotong rasa terima kasihnya. Meski ketika Leonna mendengak untuk melirik wajah menawan Reid, ia serta merta harus tersenyum hambar, mendapati punggung Reid yang telah lama menjauh dari pandangan.


“Kamu ini Reid, kebiasaan telat terus. Pasti belum sarapan lagi kan? Ya sudah masuk dulu, tapi ehm! Tumben kamu bawa pacar! Plus, selera kamu memang benar-benar Reid... Dari mana pula kamu dapat gadis cantik begini? Hm? Siapa namanya, katakan pada ibu.”


Bu Wira, madam penjaga kafetaria sekolah tersenyum mesem-mesem. Kedua netra tuanya bahkan sampai hanya menyisakan segaris melengkung panjang dihiasi kerut-kerut tanda penuaan di sekitar sudut-sudut matanya. Leonna balas melontarkan senyum kikuk, lain sekali dengan Reid yang memutar bola matanya malas.


“Ayo, katakan pada ibu. Siapa nama gadis jelita ini, hm?”

__ADS_1


“Leonna.”


“Bukan.”


Tanda tanya tercetak serentak pada wajah Bu Wira dan juga Leonna. Reid sebagai subjek kebingungan mereka kemudian menghembuskan nafas jengah dan tanpa sopan santun melangkah santai dengan jari-jemari diselipkan sok keren di saku celana melewati Bu Wira. “Bukan?”


.


.


.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2