HTTP 404

HTTP 404
Bab #56


__ADS_3

Reid mengusap air mukanya kasar. Ia masih merasa agak khawatir dengan percakapannya dengan Noah tadi. Ia jelas tahu, kalau anak-anak TTS itu memiliki latar belakang keluarga yang amat sangat tidak bisa dianggap remeh.


Angus Lawton, pewaris utama Lawton Grup. Salah satu dari tiga perusahaan teknologi, informasi, retail, dan industri hiburan raksasa lagi paling berpengaruh di daratan Amerika dan separuh Eropa serta Oseania.


Axle Bru, pewaris utama dan satu-satunya dari Golden Alpha Grup. Suatu perusahaan terbesar di bidang perminyakan, penerbangan, dan penyedia bahan bakar pesawat terbesar, yang meliputi kontrak dengan 78 maskapai Internasional serta 191 maskapai domestik di Amerika Serikat.


Ditambah, seorang Irvine Wu. Rumor mengatakan, ia adalah anak dari dua konglomerat terkaya dan tertua di negeri Sakura. Dua keluarga yang salah satunya menurut gosip, menjadi investor utama dan pemilik saham terbesar di bidang finansial, sektor teknologi, investasi, dan perbankan hingga ke daratan Tiongkok.


Sementara dirinya ini? Hanyalah seorang anak yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orang tua kandung dan atau minimal dari ras mana ia berasal.


Memang. Masih agak beruntung sebetulnya, ketika itu Bibi Skyle berhasil menyelamatkan liontin yang berukirkan nama kelahirannya dari tangan Jett Keagan. Kalau tidak, entah rangkaian huruf apa yang nantinya akan menjadi nama identitasnya sekarang.


Jelas. Kemungkinannya pasti super kecil bagi Bibi Skyle untuk menamainya menggunakan nama serupa seperti yang selama ini ia gunakan. Kalaupun sama-sama dengan nama depan ‘Reid’, tentu marganya akan berakhir sebagai ‘Harrison’ dan bukan ‘Cutler’.


“Kau sudah selesai makan siang?”


Lamunan Reid terhenti. Sosok yang ia tunggu dengan perasaan terombang-ambing sejak tadi akhirnya muncul juga. Ia memang pada awalnya tidak sama sekali terpikirkan untuk mengirimkan pesan, apalagi mengecek bagaimana keadaan Leonna.


Tetapi, gara-gara Noah dan atau mungkin, ‘berkat’ Noah. Ia suka tidak suka, menjadi merasa cemas karena tidak tahu bagaimana keadaan si gadis bermarga Mileková ini. Terlebih, setelah kejadian super absurd mereka berdua di jam istirahat pertama tadi. Mana mungkin ia sudi walau cuma secuil untuk dengan senang hati menanyakan kabar-kabar terkini Leonna?


“Aku sudah. Dan kau, Reid?”


Reid terdiam sejenak. Ia memandang serius Leonna dari atas ke bawah, bawah ke atas. Setelah dirasa tidak ada yang salah pada kondisi Leonna, ia lantas menghela nafas lega. Kemudian menjawab pertanyaan lawan bicaranya itu, “Aku juga sudah.”


“Benarkah? Syukur kalau begitu.”


Tekanan udara dan temperatur di sekeliling Leonna perlahan terasa begitu canggung. Ia yang jelas terlampau semangat untuk menghampiri Reid, kini jadi bingung sendiri harus melakukan apa.


Tentu. Memang Reid yang mengontaknya lebih dulu. Tapi, dengan Reid yang tidak juga memulai pembicaraan, ia bisa apa? Hanya terus menunggu, kan? Meski, tidak salah juga kalau ia yang buka suara duluan. Namun, bagaimana? Detak jantungnya sekarang ini terlalu berisik.

__ADS_1


“Jadi, begini—”


Reid dan Leonna bersitatap super kilat. Lalu meski grogi parah, Reid kembali melanjutkan potongan kalimatnya, “—apa kau baik-baik saja? Tidak sakit perut lagi? Sakit punggung? Atau sakit yang lainnya?”


Pipi Leonna yang ada kian bersemu. Ia tidak menyangka Reid akan mengiriminya pesan dan meminta bertemu dengannya hanya untuk mengawali percakapan mereka dengan pertanyaan ‘apa dirinya ini baik-baik saja?’.


“Perutku masih sedikit terasa sakit dan punggungku juga tetap agak pegal. Tapi, serius. Aku baik-baik saja.” Jawab Leonna mencoba sekalem mungkin.


“Bagus jika kau sudah lumayan baikan dan tidak ada masalah serius lainnya,” Reid tersenyum kikuk. Jelas bukan ini yang ingin ia katakan. Tetapi, ya sudahlah. Setidaknya suasana di sekitar Leonna dan dirinya sekarang bisa sedikit lebih rileks.


“Tapi, kau masih kuat sampai pelajaran terakhir, kan?”


“Tenang saja. Aku tidak selemah itu.” Ujar Leonna seraya terkekeh geli.


Air muka Reid mendadak berubah semerah tomat. Ia bahkan menjadi lebih malu lagi ketika segerombolan gadis melangkah keluar dari kafetaria. Bukan karena apa. Tawa nyaring dan jerit-jerit tidak berfaedah para gadis itu yang membuat citranya di mata Leonna terasa jadi agak konyol.


“Berhenti tertawa,” Desis Reid kesal.


“...Oke.” Jawab Leonna dengan kelewat berbunga-bunga.


Leonna dan Reid pun mengambil langkah seribu menuju tempat yang menurut Reid paling nyaman dan aman dari pandangan publik. Yup. Taman belakang sekolah. Lokasi strategis selain atap sekolah yang biasa ia gunakan untuk berleha-leha dan kadang, ehm, membolos.


“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Apa itu tentang pertunjukan skit besok, jadwal bimbingan matematika, atau yang lainnya?”


Kedua telunjuk Leonna saling bertautan grogi. Beruntung ketika ia dan Reid sampai di tempat yang agaknya kurang terawat ini, cowok ganteng itu refleks langsung melepas cengkeramannya. Kalau tidak, keadaan mereka berdua sekarang pasti akan canggung parah. Juga, ia tidak akan mungkin berani buka suara lebih dulu.


“Itu—”


Reid mengurut batang lehernya dengan gamang. Ia mendadak merasa tidak percaya diri untuk menceritakan percakapannya dengan Noah di pelajaran ke empat. Ia lalu setelah menarik menghembuskan nafas sebentar. Kemudian berujar super hati-hati, “—apa di pelajaran ke tiga tadi, pengajarmu mengatakan sesuatu?”

__ADS_1


Dahi Leonna berkerut tebal. Seingatnya, memang ada yang janggal ketika ia datang telat dan dipersilakan untuk duduk begitu saja tanpa diinterogasi terlebih dahulu. Tapi, apa itu sesuatu yang buruk?


“Tidak ada. Beliau hanya menyuruhku langsung duduk dan tidak bertanya sama sekali,” Jawab Leonna sambil menggeleng pelan. “Apa terjadi sesuatu? Maksudku, apa kau mungkin malah dihukum? Tidak diperbolehkan untuk mengikuti pelajaran?”


Air muka Reid setengah kaget setengah lega. Ia kemudian berujar setenang mungkin, “Tidak. Aku juga disuruh masuk begitu saja. Tidak ada pertanyaan atau apa pun. Agak aneh, bukan?”


Kerutan runyam di dahi Leonna sontak berubah menjadi dua tiga kali lipat lebih tebal. Ia tidak tahu harus menanggapi seperti apa penjelasan Reid. Ia pikir, cowok jangkung ini yang mungkin telah memintakan ijin dispensasi telat atau apalah itu, kepada masing-masing pengajar mereka tadi.


Dan sebab itu pula, ia pun bisa tidak ada beban hingga sekarang.


“Jadi, maksudmu adalah kau tidak memintakan ijin untukku dan juga dirimu sendiri supaya diperkenankan datang terlambat?” Tanya Leonna. Menggigit bibir bawah bagian dalamnya dengan cukup kasar.


“Tidak,”


Reid memandang kedua iris biru safir Leonna lekat-lekat. Ia dengan tatapan serius, lantas melanjutkan kembali kalimatnya, “Aku tidak meminta ijin secara langsung. Aku hanya menitipkan salam kepada Noah untuk menginformasikan bagaimana keadaan kau dan aku kepada guru piket.”


Leonna berhenti menggigit brutal bibir ranumnya. Ia sepertinya pernah mendengar nama itu, tapi di mana, ia juga tidak ingat. “Noah?”


“Ketua tim basket sekolah.” Respons Reid santai.


“Jikalau begitu, bukankah itu berarti berkat Noah kita berdua tidak dihukum?” Tanya Leonna sembari tersenyum kikuk. Agak takut sebetulnya ia, untuk mendengarkan tanggapan Reid sesudah ini. Tapi, mau bagaimana? Ia jauh lebih penasaran sekarang.


Raut muka Reid berubah kian hambar. Ia tentu lumayan berterima kasih dengan bantuan Noah. Namun, jika kejadian sebenarnya akan serumit dan tidak semenyenangkan ini. Rasanya akan berjuta kali lebih mending, kalau ia tidak pernah meminta tolong pada ‘Noah tidak becus’ itu.


“Aku pikir begitu. Tapi, masalahnya,” Reid menenggak air ludahnya susah payah. Lalu menjelaskan lagi dengan satu tarikan nafas, “Noah tidak jadi memintakan ijin secara langsung. Ia meminta bantuan Ketua dan Wakil Ketua OSIS.”


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2