
Reid membentak Leonna cukup kencang. Leonna refleks tergugu takut. Bulu kuduknya ikut meremang tegang, lebih lagi setelah melirik kecil ke kanan dan ke kiri. Hanya ada deru bisik-bisik dari rimbun pepohonan, begitu sepi dan tidak tahu dari mana berhasil membuat Leonna berpikiran macam-macam.
Tidak jelas pula sejak kapan dan bagaimana Reid sudah berada di atas sana. Tapi lebih membuat Leonna heran, karena tidak ada setitik pun bulir keringat yang sekedar bertengger apalagi sibuk-sibuk berseluncur turun dari pelipis Reid.
“Apa yang sedang kau lakukan?! Apa kau sudah bosan hidup?!”
Leonna berteriak cemas. Horor sekali dalam bayangannya kalau harus sampai-sampai menjadi satu-satunya saksi mata dari tragedi mati konyol seorang siswa kelas dua belas yang harus meregang nyawa gara-gara terjatuh dari atap tembok dan semakin memalukan, karena di latar belakangi kelalaiannya sendiri yang datang terlambat ke sekolah dan tetap memaksa ingin masuk, meski dengan cara tidak lazim pun tidak dianjurkan demi keselamatan jiwa serta terutama, bagi reputasi emas institusi pendidikan mereka.
“Terserah kau mau ikut atau tidak, tidak ada ruginya juga kalau kau tidak ikut.”
“W-woah! Kau menyuruhku untuk ikut memanjat tembok ini?! Apa kau pikir aku ini juga siluman cecak sepertimu?”
__ADS_1
Reid menguap lebar. Jelas tidak sama sekali tertarik, bahkan untuk sibuk-sibuk sekedar memberi secuil ulasan terhadap analisis tanpa bukti Leonna yang menyebutnya sebagai siluman cecak. Namun agak aneh di mata Reid, jika dia tidak salah lihat, Leonna dengan wajah super padam hingga kedua daun telinganya kini malah memalingkan pandangan ke arah ujung-ujung alas kakinya.
Entah, pikiran macam apa yang tengah berseliweran di balik tumpukan helai-helai rambut keemasan Leonna dan sangat gila, sebab Reid masih sempat berpikir kalau perilaku Leonna itu menggemaskan.
Reid tiba-tiba menghela nafas panjang. Rasionalitasnya seperti habis tersambar petir dan kian abnormal ketika ia sadar rasa kantuknya mendadak lenyap tak bersisa. “Kemari dan julurkan tanganmu.”
“Apa?”
Leonna melongok bingung ke arah uluran jari-jemari panjang Reid dan bisa diprediksi, bahkan dua menit sudah, Reid menekuk se-ekstrem mungkin agar Leonna tidak perlu susah payah meloncat-meloncat untuk menggapai jemarinya. Tapi, Leonna hanya terus diam. Membeku layaknya manekin di belakang deretan kaca jernih toko-toko busana.
“Baik, tapi... WAHHH! J-jantungku.”
__ADS_1
Kedua mata biru Leonna membelalak ngeri. Tenggorokannya ikut sakit setelah berteriak beberapa detik lalu, sebab siapa yang dapat menyangka, hanya dalam satu tarikan dan dirinya kini sudah berada di atas tembok, di sebelah Reid dengan jemari dingin yang terselip di antara lapisan epidermis kasar telapak tangan mayor Reid.
“Lompat. Cepat lompat! Apa yang kau lakukan, hei! Apa kau tuli?!”
Detak memekakkan, sensasi panas dan kejutan listrik pada aliran darah juga syaraf-syaraf Leonna saking ributnya hingga menjadikan fokusnya buntu dan baru sadar setelah kata tuli keluar dari mulut setajam silet Reid.
“E-eh? Aku? Lompat? Tidak mungkin aku...”
Leonna menggeleng-geleng enggan dengan kedua lengan memeluk erat-erat kaki mulus tidak berbulunya sembari menenggelamkan grogi setengah wajahnya di balik tempurung lutut yang agak lengket keringat akibat terik matahari yang semakin panas mengudara di angkasa bersih tanpa kabut gelap dan hanya sedikit dihiasi gumpalan awan putih tipis di sana-sini.
.
__ADS_1
.
To be continue...