
Diam-diam Reid menggerutu dalam hati. Ia tidak tahu bagaimana bisa terperangkap di dalam kondisi masam macam ini. Dan lagi, kalau saja ia tadi menolak ketika Leonna memesankan ia es jeruk, suasana hatinya pasti akan bisa lebih adem ayem. Mungkin.
“Kebodohanmu kian kronis saja Leonna! Kau ingat jelajah alam terbuka pada musim semi saat kita duduk di bangku kelas dua sekolah dasar?” Chris berceloteh lagi. Jemarinya terus-menerus mengusak sok akrab surai keemasan Leonna.
“Jangan mulai!” Bentak Leonna seraya menampik tangan iseng Chris dari kepalanya. “Aku tidak ingat. Jadi, jangan mulai bercerita yang aneh-aneh!” Seru kesal Leonna.
“Kau hampir mencium—”
“Uhuk... uhuk..! Ma—eugh!” Reid tiba-tiba terbatuk heboh.
__ADS_1
Kata ‘maaf’-nya juga terpaksa harus ikut tercekat gara-gara sebongkah abstrak es batu. Namun, ia lebih terkejut dengan keberengsekkan Chris yang dengan seenaknya mengusap bibir Leonna.
“Kau mau kemana, Reid?” Leonna yang sadar gerak-gerik aneh Reid, seketika bangun dari duduk.
Reid yang tidak tahu mengapa hanya ingin menjauh saja dari duo ‘teman dari orok’ itu, spontan berdecak tidak santai. Tangan Leonna yang baru akan menyentuh pundak Reid, gadis itu tarik lagi menjauh.
“Aku hanya ingin ke kamar kecil sebentar.”
Reid memosisikan lengannya, bersiap untuk menangkap Leonna. mata hitam Reid memandang mantap tepat pada iris-iris biru gugup Leonna dan setelah beberapa kali menarik menghembuskan nafas, Leonna dengan keberanian sekecil ikan teri pun melompat dan yup! Leonna dengan mulus, berhasil mendarat ke dalam tangkapan Reid yang tidak bisa disanggah, begitu romantis ala-ala gendongan pengantin baru.
__ADS_1
Keheningan yang sebenarnya sempat menyelubungi kewarasan dua insan muda itu lekas runtuh, sesaat setelah Leonna bergumam teramat pelan dan agak lucu, karena daun telinga sampai ke tengkuk keduanya seketika memerah. Bahkan Reid tanpa sadar pun sontak menurunkan dengan tergesa-gesa dan lumayan kasar tubuh Leonna.
Beruntung Leonna memang sama kekinya, jadi dia juga tidak banyak komentar seperti sebelum-sebelumnya dan malah masih sanggup mengucapkan sepotong rasa terima kasihnya. Meski ketika Leonna mendengak untuk melirik wajah menawan Reid, ia serta merta harus tersenyum hambar, mendapati punggung Reid yang telah lama menjauh dari pandangan.
Tetapi berhubung Leonna tidak tahu harus bagaimana, walau ia kini sudah sukses menapaki area belakang bangunan sekolah SMA Stuyvesant, mau tidak mau Leonna pun berlari-lari kecil mengejar langkah panjang-panjang Reid. Sekitar lima tujuh menit dan Leonna telah berada kurang dari dua meter di belakang Reid. Nafasnya agak tersengal-sengal dan setelah melewati sekian banyak belokan juga lorong-lorong besar kecil, kedua mata Leonna membulat ganjil.
Seorang wanita pada fase usia kepala empat dengan tahi lalat atau bisa dikatakan lebih mirip dengan kutil pada sisi kiri dekat garis hidung bangirnya berseru menyebut nama Reid. Aktivitas jari-jemari berlemak miliknya mengelap permukaan meja kasir pun ikut terhenti dan langsung berkacak pinggang sembari menatap garang ke arah figur tinggi menjulang yang sekejap sudah berdiri empat setengah ubin di hadapannya.
.
__ADS_1
.
To be continue...