
Kerja kelompok Leonna dan Reid kian lama kian menyenangkan dan miris kecanggungan. Reid yang sempat kesal dengan ejekan Leonna, sekarang bahkan tidak ada lagi rasa peduli. Boro-boro dongkol ketika menerima bualan Leonna yang kian lama malah terdengar, ehm, menggemaskan.
“Oke. Komplit!”
Waktu berlalu kilat. Dua jam sudah, Leonna dan Reid berkutat dalam tugas kelompok mereka. Sekarang, jam dinding telah menunjukkan pukul dua siang lebih lima belas menit. Mereka berdua tidak sama sekali mengambil jeda, kecuali untuk minum dan ke kamar kecil.
“Tunggu. Untuk lebih detail saja, apa kau mau sekalian berlatih pelafalan dan ekspresinya?”
Leonna menatap sebentar Reid. Gagasan pemuda itu memang patut untuk diangguki dengan semangat dan senyum girang. Namun, bukan ia tidak menghargai atau malas atau apa. Hanya saja, gemuruh di lambungnya sudah semenjak tiga puluh menit lalu beraksi. Jadi, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ia terpaksa harus menolak.
“—Boleh. Tapi, sepertinya kita harus makan siang dulu.”
Ekspresi wajah Reid benar-benar kalem ketika Leonna menyuarakan keinginannya untuk makan siang terlebih dahulu. Tapi, sebetulnya. Batin pemuda tampan itu sama sekali tidak bisa dibilang santai. Ia merutuki empunya sendiri yang tanpa sadar, asik memaksa orang lain untuk ikut gila kerja seperti dirinya ini.
“Eh, maksudku, aku akan memesan makanan saja. Online. Apa kau tidak keberatan? Atau ingin ke kafe saja?”
Reid yang sudah berdiri dan sedang terburu-buru memakai jaket bernuansa gelapnya spontan menengok malu. Ia pikir Leonna akan mengajaknya beli makan di luar atau apa.
Namun, bagaimana lagi? Nasi sudah berubah jadi bubur. Kompleksitas wajah Leonna juga belum segar sempurna. Jadi, lebih baik makanannya yang datang kemari daripada mereka yang harus jalan ke sana.
“Baik. Pesan antar saja, tidak apa-apa.”
Ponsel pintar yang sedari tadi terkurung di kamar, akhirnya dibawa keluar juga oleh Leonna. Reid yang tidak sengaja melihat logo merek yang tertera di belakang badan ponsel gadis di depannya, lantas tersenyum hambar. Ia baru sadar kalau ponsel pintarnya ini betul-betul sudah ketinggalan jaman.
“Jadi, kau ingin pesan apa? Ehm, jangan sungkan. Ini traktiranku untuk yang kemarin malam.”
“Oh? Oke.”
Layar ponsel yang sudah menampilkan banyak pilihan menu makanan, tiba-tiba sudah tersodor menggiurkan di hadapan Reid. Tapi, ia karena mendengar kata ‘traktiran’, bukannya dengan senang hati memilih makanan yang ingin dibeli, malah yang ada grogi dan takut sekali merogoh banyak kocek.
“Hanya ini?”
Setelah hampir lima menit Reid memilih, keranjang aplikasi pesan antar Leonna anehnya hanya terisi oleh dua jenis makanan berharga kelewat murah dan sebotol teh yang tidak sampai satu dolar.
__ADS_1
Gadis berdarah biru itu spontan menghela nafas tidak puas. Semua pengeluaran Reid ini, bahkan tidak ada satu persen dari uang jajan bulanannya untuk membeli air minum. Lagi pula, pesanan Reid ini amat tidak layak untuk dikatakan camilan, lebih-lebih makan siang yang layak dan mengenyangkan.
“Kau akan kelaparan jika hanya makan ini. Jadi, aku akan tambah ini, ini, hm—ini, ini, dan ini juga.”
“Oke. Pesan.”
Harga makanan yang sempat tertangkap lensa mata Reid, sungguh, bukan main borosnya. Ia ingin sekali menolak dan mendorong Leonna untuk membatalkan saja semua pembelian terlampau berlebih itu.
Namun, amat terlambat.
Rekan diskusinya itu, secepat cahaya sudah pergi menuju dapur. Reid pun pasrah dengan ‘traktiran mewah’ Leonna. Punggungnya sontak bersandar lemas di badan sofa sembari dengan datar, menengadah, meratapi pesona elegan langit-langit ruangan.
‘Semua pesanan ini—aku mungkin harus mengorbankan tiga perempat uang bulananku, jika bukan karena Leonna yang membayar.’
...🐣🐣🐣...
Enam belas menit berlalu setelah acara pesan-memesan makanan Leonna dan Reid. Keduanya sedari tadi sambil menunggu, merevisi sedikit dialog skit dan melakukan praktik sekilas adegan-adegan peran A dan B mereka. Bunyi bel yang ditunggu-tunggu akhirnya terdengar pula.
Ia dengan kilat sudah meluncur ke depan pintu masuk apartemen. Ia pun tanpa banyak cek-cok langsung membuka pintu begitu sampai. Seorang pria dengan helm dan jaket bertuliskan besar-besar Uzer Eats, serta merta terpampang dengan banyak kantong belanjaan di kanan kirinya.
“Pesan Antar Honey, Eats&Chill!” Ujar pegawai Uzer Eats dengan riang dan ramah.
Leonna yang memang saat pembelian sengaja tidak langsung membayar, refleks mengeluarkan ponsel pintarnya. Ia tidak sama sekali peduli dengan total belanjaannya. Hanya saja, ia rasa. Sebisa mungkin, Reid tidak boleh mengetahui berapa uang yang ia habiskan hanya untuk membeli makan siang. Atau, tidak?
“Baik. Total semuanya jadi 503 dolar, ditambah bonus satu Moge Tee rasa teh hijau seharga 7,2 dolar.”
Daun telinga Leonna refleks memerah. Meski Reid sepenglihatannya baru saja tiba ketika pegawai Uzer Eats itu selesai mengucap. Namun, setelah diam-diam melirik raut wajah pemuda di belakangnya. Ia hanya bisa mengumpat dalam hati.
Tepat sekali. Reid betul-betul terkejut. Ia sebetulnya memang sempat melihat per satuan barang belanjaan mereka ketika masih dalam bagian menu keranjang. Tetapi, ia tidak menyangka akan sampai menyentuh, bahkan melewati nominal total lima ratus dolar!
“Apa bisa menerima pembayaran via kode batang (baca; bar code)?” Cicit Leonna.
“Bisa, kak. Ini.”
__ADS_1
Pegawai Uzer Eats yang hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu tengah cengengesan dari balik helm, sontak menanggapi cepat pertanyaan konsumen di depannya.
Ia tidak bisa dielakkan. Cukup iri dengan kondisi pembeli paket bernama ‘Leonna’ yang tampak sangat belia. Tetapi, sudah tinggal di apartemen yang terkenal menjadi rumah ke dua kalangan konglomerat dan selebritas papan atas di tanah Patung Liberty ini.
Lebih lagi, kehadiran makhluk ganteng yang memandang dengan tatapan sulit diartikan di belakang sang gadis. Pegawai Uzer Eats ini seketika merasa begitu kesepian dan amat sedih mengingat statusnya yang masih ‘jomlo akut'.
“Yap. Terima kasih dan selamat menikmati.”
Leonna selesai melakukan pembayaran dengan pemindaian kode batang. Manusia helm di depannya lantas mengucap beberapa patah kata dengan riang sambil menyodorkan barang pesanan kepada empunya. Ia kemudian segera beranjak pergi.
“Sini, biar aku bantu.”
Leonna tersenyum tidak enak hati saat mendapati juluran tangan Reid. Cowok itu agaknya sedikit tahu, bagaimana caranya agar atmosfer di sekeliling mereka tidak menjadi kaku dan canggung kronis seperti pada beberapa jam yang lalu.
Mayoritas kantong belanjaan besar dan berat kini pun dengan super kilat, sudah berpindah ke tangan Reid. Cowok jangkung itu semakin terlihat saja, tanda-tanda kemaskulinannya ketika menenteng sok kuat si kantong belanjaan.
“Terima ka—”
“Yo! Leonna!”
Leonna meski malu, kemudian menyuarakan terima kasihnya. Namun, belum selesai kalimatnya itu. Teriakan cukup kencang, tapi bernada datar mendadak menginterupsi. Reid dan Leonna spontan melongok ke luar apartemen.
Tampak seorang pemuda tinggi, namun tidak lebih tinggi dari Reid, baru saja keluar dari pintu apartemen di sebelah kanan Leonna. Gaya berpakaian yang sama modisnya dengan Leonna dan potongan rambut cokelat brunette pendek bergelombang, memperlihatkan jelas kesan seorang cowok pemerhati penampilan begitu Reid melihatnya.
“Chris?” Panggil Leonna rada syok.
“Pacarmu?”
.
.
Bersambung...
__ADS_1