
Detak memekakkan, sensasi panas dan kejutan listrik pada aliran darah juga syaraf-syaraf Leonna saking ributnya hingga menjadikan fokusnya buntu dan baru sadar setelah kata tuli keluar dari mulut setajam silet Reid.
Reid memosisikan lengannya, bersiap untuk menangkap Leonna. Kedua mata hitam Reid memandang mantap tepat pada iris-iris biru gugup Leonna dan setelah beberapa kali menarik menghembuskan nafas, Leonna dengan keberanian sekecil ikan teri pun melompat dan yup! Leonna dengan mulus, berhasil mendarat ke dalam tangkapan Reid yang tidak bisa disanggah, begitu romantis ala-ala gendongan pengantin baru.
Bahkan Reid tanpa sadar pun sontak menurunkan dengan tergesa-gesa dan lumayan kasar tubuh Leonna.
Beruntung Leonna memang sama kekinya, jadi dia juga tidak banyak komentar seperti sebelum-sebelumnya dan malah masih sanggup mengucapkan sepotong rasa terima kasihnya. Meski ketika Leonna mendengak untuk melirik wajah menawan Reid, ia serta merta harus tersenyum hambar, mendapati punggung Reid yang telah lama menjauh dari pandangan.
Tetapi berhubung Leonna tidak tahu harus bagaimana, walau ia kini sudah sukses menapaki area belakang bangunan sekolah SMA Stuyvesant, mau tidak mau Leonna pun berlari-lari kecil mengejar langkah panjang-panjang Reid. Sekitar lima tujuh menit dan Leonna telah berada kurang dari dua meter di belakang Reid. Nafasnya agak tersengal-sengal dan setelah melewati sekian banyak belokan juga lorong-lorong besar kecil, kedua mata Leonna membulat ganjil.
__ADS_1
“Hm, bukannya ini jalan menuju... kafetaria?”
“Oh, Reid!”
Seorang wanita pada fase usia kepala empat dengan tahi lalat atau bisa dikatakan lebih mirip dengan kutil pada sisi kiri dekat garis hidung bangirnya berseru menyebut nama Reid. Aktivitas jari-jemari berlemak miliknya mengelap permukaan meja kasir pun ikut terhenti dan langsung berkacak pinggang sembari menatap garang ke arah figur tinggi menjulang yang sekejap sudah berdiri empat setengah ubin di hadapannya.
“Pagi, Bu Wira.”
Bu Wira, madam penjaga kafetaria sekolah tersenyum mesem-mesem. Kedua netra tuanya bahkan sampai hanya menyisakan segaris melengkung panjang dihiasi kerut-kerut tanda penuaan di sekitar sudut-sudut matanya. Leonna balas melontarkan senyum kikuk, lain sekali dengan Reid yang memutar bola matanya malas.
__ADS_1
“Ayo, katakan pada ibu. Siapa nama gadis jelita ini, hm?”
“Leonna.”
“Bukan.”
Tanda tanya tercetak serentak pada wajah Bu Wira dan juga Leonna. Reid sebagai subjek kebingungan mereka kemudian menghembuskan nafas jengah dan tanpa sopan santun melangkah santai dengan jari-jemari diselipkan sok keren di saku celana melewati Bu Wira. “Bukan?”
“Bukan pacar. Dia orang asing.”
__ADS_1
“Reid, kamu ini bicaranya! Mana mungkin kamu bawa orang asing, teman saja ibu tidak pernah lihat. Sudah, akui saja. Gadis cantik ini pacar kamu kan?! Berani bohong-bohong lagi sama ibu. Mana mungkin juga ada gadis yang tidak tertarik sama wajah tampanmu Reid. Ya, kan? Siapa tadi nama kamu, nak?”
Namun, tidak tahu entah kenapa. Sesuatu dari kalimat terakhir Reid beberapa waktu lalu, seketika terlintas dan terus berputar di kepala Leonna. ‘Ah, perasaan menyesakkan ini, apa namanya?’