HTTP 404

HTTP 404
Bab #68


__ADS_3

Beruntung Leonna memang sama kekinya, jadi dia juga tidak banyak komentar seperti sebelum-sebelumnya dan malah masih sanggup mengucapkan sepotong rasa terima kasihnya. Meski ketika Leonna mendengak untuk melirik wajah menawan Reid, ia serta merta harus tersenyum hambar, mendapati punggung Reid yang telah lama menjauh dari pandangan.


Tetapi berhubung Leonna tidak tahu harus bagaimana, walau ia kini sudah sukses menapaki area belakang bangunan sekolah SMA Stuyvesant, mau tidak mau Leonna pun berlari-lari kecil mengejar langkah panjang-panjang Reid. Sekitar lima tujuh menit dan Leonna telah berada kurang dari dua meter di belakang Reid. Nafasnya agak tersengal-sengal dan setelah melewati sekian banyak belokan juga lorong-lorong besar kecil, kedua mata Leonna membulat ganjil.


“Hm, bukannya ini jalan menuju... kafetaria?”


“Oh, Reid!”


Seorang wanita pada fase usia kepala empat dengan tahi lalat atau bisa dikatakan lebih mirip dengan kutil pada sisi kiri dekat garis hidung bangirnya berseru menyebut nama Reid. Aktivitas jari-jemari berlemak miliknya mengelap permukaan meja kasir pun ikut terhenti dan langsung berkacak pinggang sembari menatap garang ke arah figur tinggi menjulang yang sekejap sudah berdiri empat setengah ubin di hadapannya.


“Pagi, Bu Wira.”


“Kamu ini Reid, kebiasaan telat terus. Pasti belum sarapan lagi kan? Ya sudah masuk dulu, tapi ehm! Tumben kamu bawa pacar! Plus, selera kamu memang benar-benar Reid... Dari mana pula kamu dapat gadis cantik begini? Hm? Siapa namanya, katakan pada ibu.”

__ADS_1


Bu Wira, madam penjaga kafetaria sekolah tersenyum mesem-mesem. Kedua netra tuanya bahkan sampai hanya menyisakan segaris melengkung panjang dihiasi kerut-kerut tanda penuaan di sekitar sudut-sudut matanya. Leonna balas melontarkan senyum kikuk, lain sekali dengan Reid yang memutar bola matanya malas.


“Ayo, katakan pada ibu. Siapa nama gadis jelita ini, hm?”


“Leonna.”


“Bukan.”


Tanda tanya tercetak serentak pada wajah Bu Wira dan juga Leonna. Reid sebagai subjek kebingungan mereka kemudian menghembuskan nafas jengah dan tanpa sopan santun melangkah santai dengan jari-jemari diselipkan sok keren di saku celana melewati Bu Wira. “Bukan?”


“Reid, kamu ini bicaranya! Mana mungkin kamu bawa orang asing, teman saja ibu tidak pernah lihat. Sudah, akui saja. Gadis cantik ini pacar kamu kan?! Berani bohong-bohong lagi sama ibu. Mana mungkin juga ada gadis yang tidak tertarik sama wajah tampanmu Reid. Ya, kan? Siapa tadi nama kamu, nak?”


Bu Wira mendadak menyambar jemari selembut kapas Leonna dan dengan ceria mengelus-elus sembari meremet-remet gemas seolah Leonna adalah mainan squishy atau boleh jadi sebuah boneka panda hidup dan gerakannya semakin semangat ketika Leonna dengan agak patah-patah menjawab rasa penasaran Bu Wira.

__ADS_1


“L-Leonna, madam.”


“Kan, dari namanya saja sudah cantik. Kamu ini Reid, kalau hanya tersisa satu wanita secantik nak Leonna ini juga kamu tidak akan menolak. Ya, kan? Oh, dan panggil saya Bu Wira saja. Jangan madam, aneh sekali soalnya di telinga.”


Leonna ditarik cepat Bu Wira menuju pintu dapur kafetaria. Reid di dalam dengan wajah tanpa ekspresi memandang lurus ke arah permukaan berselimutkan taplak bercorak kotak-kotak hijau zaitun.


“Terserah, ibu mau bilang apa. Tapi koreksi, Reid tidak akan mau sama orang ini walau hanya tersisa satu spesies Homo sapiens betina di bumi.”


.


.


.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2