HTTP 404

HTTP 404
Bab #74


__ADS_3

‘Apa Reid berniat membalaskan dendam dan meminta ganti rugi karena peristiwa tidak mengenakkan pagi kemarin? Tapi kalau begitu, mana mungkin juga Reid mau berbaik hati membantuku dari tabrakan pengendara sepeda motor pada jam pulang sekolah setelahnya?’


“Cepat! Apa kau mau seharian berdiri di sana?!”


Leonna sontak berhenti melamun. Mulutnya menganga lebar, amat terkejut dengan pemandangan anti-mainstream beberapa meter dari jaraknya berdiri. Tampak Reid dengan kalem maksimal sudah berjongkok di atas tembok tanpa cat alias murni hanya dalam balutan semen kasar dan kelihatan begitu usang lagi jelek, setinggi hampir atau bisa jadi lebih dari tiga meter.


Tidak jelas pula sejak kapan dan bagaimana Reid sudah berada di atas sana. Tapi lebih membuat Leonna heran, karena tidak ada setitik pun bulir keringat yang sekedar bertengger apalagi sibuk-sibuk berseluncur turun dari pelipis Reid.


Apa mungkin akan masuk akal kalau makhluk bernama Reid ini ternyata memiliki sebuah kekuatan super? Semacam jaring laba-laba Peter Parker dalam film fiktif dari Marvel, Spider-Man? Atau lebih realistis, para traceur dan traceuse—praktisi parkur generasi pertama? Yah intinya, Leonna benar-benar tidak habis pikir dengan metode Reid bisa sampai di atas dinding sana.


“Apa yang sedang kau lakukan?! Apa kau sudah bosan hidup?!”

__ADS_1


Leonna berteriak cemas. Horor sekali dalam bayangannya kalau harus sampai-sampai menjadi satu-satunya saksi mata dari tragedi mati konyol seorang siswa kelas dua belas yang harus meregang nyawa gara-gara terjatuh dari atap tembok dan semakin memalukan, karena di latar belakangi kelalaiannya sendiri yang datang terlambat ke sekolah dan tetap memaksa ingin masuk, meski dengan cara tidak lazim pun tidak dianjurkan demi keselamatan jiwa serta terutama, bagi reputasi emas institusi pendidikan mereka.


Reid menguap lebar. Jelas tidak sama sekali tertarik, bahkan untuk sibuk-sibuk sekedar memberi secuil ulasan terhadap analisis tanpa bukti Leonna yang menyebutnya sebagai siluman cecak. Namun agak aneh di mata Reid, jika dia tidak salah lihat, Leonna dengan wajah super padam hingga kedua daun telinganya kini malah memalingkan pandangan ke arah ujung-ujung alas kakinya.


Entah, pikiran macam apa yang tengah berseliweran di balik tumpukan helai-helai rambut keemasan Leonna dan sangat gila, sebab Reid masih sempat berpikir kalau perilaku Leonna itu menggemaskan.


Reid tiba-tiba menghela nafas panjang. Rasionalitasnya seperti habis tersambar petir dan kian abnormal ketika ia sadar rasa kantuknya mendadak lenyap tak bersisa. “Kemari dan julurkan tanganmu.”


Leonna melongok bingung ke arah uluran jari-jemari panjang Reid dan bisa diprediksi, bahkan dua menit sudah, Reid menekuk se-ekstrem mungkin agar Leonna tidak perlu susah payah meloncat-meloncat untuk menggapai jemarinya. Tapi, Leonna hanya terus diam. Membeku layaknya manekin di belakang deretan kaca jernih toko-toko busana.


“Tiga, dua, sat-...”

__ADS_1


“Baik, tapi... WAHHH! J-jantungku.”


Kedua mata biru Leonna membelalak ngeri. Tenggorokannya ikut sakit setelah berteriak beberapa detik lalu, sebab siapa yang dapat menyangka, hanya dalam satu tarikan dan dirinya kini sudah berada di atas tembok, di sebelah Reid dengan jemari dingin yang terselip di antara lapisan epidermis kasar telapak tangan mayor Reid.


“Lompat. Cepat lompat! Apa yang kau lakukan, hei! Apa kau tuli?!”


.


.


.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2