
Tiga pasang mata cowok-cowok tampan yang satu meja makan dengan Leonna, kian detik kian suram saja. Terutama Axle yang duduk tepat di sebelah Leonna. Ia tentu berhasil melihat siapa nama yang berani-beraninya mengganggu fokus cewek-nya ini.
...[ 1 Pesan masuk dari: Reid Cutler Spanyol ]...
...Kau sedang di kafetaria?...
Pipi Leonna bersemu merah muda. Padahal tidak ada yang spesial dari isi pesan Reid. Tetapi, entahlah. Detak jantungnya hanya sedang benar-benar tidak bisa diajak santai.
Dan lagipula, ada acara apa Reid menanyakan ia sedang di kafetaria atau tidak? Apa ada sesuatu yang sangat mendesak hingga cowok tampan itu lagi-lagi berinisiatif mengiriminya pesan lebih dulu?
“Ada apa?”
Angus yang telah penasaran akut, akhirnya buka suara. Ia sebetulnya ingin sekali ikut mencuri pandang layar ponsel pintar Leonna. Tapi, mau bagaimana? Tempat duduknya dan Leonna, bahkan tidak hadap-hadapan.
Akan amat aneh pula kan, kalau ia ini dengan terang-terangan mengintip isi layar ponsel Leonna? Apa kata dunia setelahnya, jika ia tetap keras kepala dan memajukan tubuh—menginvasi privasi Leonna? Bisa jadi nanti malah nama panggilannya berubah menjadi ‘Angus Si Kepo’ lagi!
“Oh, ini,”
Leonna yang selintas mendengar pertanyaan Angus, refleks beralih dari memandang layar ponsel pintarnya. Ia yang deg-degan kronis, lalu sebisa mungkin menormalkan kembali detak jantungnya. Ia kemudian setelah agak mendingan, menatap sok kalem netra Angus.
“Hanya notifikasi pesan masuk,” Leonna yang jelas-jelas ingin sekali membalas pesan dari nama pengirim Reid Cutler Spanyol, refleks buru-buru menatap lagi layar ponselnya.
“Tapi, sebentar,” Leonna beranjak membuka kembali aplikasi pesan. “Aku akan membalasnya dulu.” Ujar Leonna begitu jemarinya tidak sengaja menekan huruf ‘S’, yang seharusnya ia mengetik awalan kapital huruf ‘Y’.
...[ Penerima: Reid Cutler Spanyol ]...
...Ya. Aku sedang makan siang di kafetaria. Ada apa?...
Tombol kirim Leonna tekan cepat-cepat. Ia lalu tanpa sadar terus memandang serius layar ponselnya. Axle yang sama merasa diabaikannya dengan Angus dan Irvine, kemudian dengan sengaja memainkan berisik ujung garpunya dengan bibir mangkuk.
“Maafkan aku.”
__ADS_1
Tatapan tajam mengarah tidak mengenakkan ke arah Leonna. Empu pemilik ponsel yang tidak butuh waktu lama langsung sadar mendapat banyak tembakan pandangan tidak bersahabat, sontak mematikan layar ponsel pintarnya. Ia kemudian dengan amat tergesa-gesa meminta maaf kepada tiga rekan makan siangnya.
“Apa ada sesuatu yang mendesak?” Irvine melirik sebentar layar ponsel pintar Leonna yang sudah menghitam. Ia lalu berujar lagi, “Pesan masuk dari orang tuamu di Rusia?”
“Tidak. Ini dari teman.” Leonna tersenyum kikuk.
“Begitu...”
Irvine yang paham situasi dan malas juga untuk mengorek-ngorek privasi orang lain, kemudian mengangguk-angguk kalem. Namun, sepertinya tidak dengan Angus dan Axle. Kedua pemuda yang bertubuh jauh lebih tinggi dari Leonna ini, malah tiba-tiba balas bertanya dengan berbarengan.
“Benarkah hanya teman?”
“Kamu yakin kalian berdua hanya berteman?”
Wajah Leonna sontak merah padam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Otak dan hatinya terlalu terkejut dengan pertanyaan absurd dua pemuda di sebelah kanan dan depan serong kanannya ini. Tapi, belum sempat ia mengatakan sesuatu untuk meluruskan jalan pikir Axle dan Angus, notifikasi ponsel pintarnya tiba-tiba bercuit lagi.
PING!
...[ 2 Pesan masuk dari: Reid Cutler Spanyol ]...
...Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin mengecek keadaanmu sebentar....
Senyum tanpa bisa ditahan-tahan, mengembang indah dari wajah cantik Leonna. Lesung pipitnya, bahkan sampai tertampil menggemaskan. Semua pasang mata yang tidak sengaja menangkap dan atau memang sedari tadi sibuk memandangi Leonna, serta merta ikut berdesir hangat.
Apalagi yang berjenis kelamin jantan dan masih jomlo. Yang sudah tidak jomlo lumayan banyak juga sih. Mereka semua seolah terkena serangan jantung mendadak. Rasa ingin tahu dan ingin ‘kenalan’ dengan si gadis bersurai keemasan, beriris biru, berkulit porselen, bentuk muka imut dan tubuh mungil itu, tiba-tiba saja terlintas dan bersarang tanpa permisi di kepala para pejantan.
Leonna yang terlalu terlena dengan berita Reid tengah menungguinya di pintu masuk kafetaria, lantas menengok cepat ke arah si pintu. Degup jantungnya semakin menggila saja, saat ia mendapati surai hitam yang sedikit menyembul dari balik dinding.
“Aku, itu, aku,” Irvine, Angus, dan Axle memandang Leonna super serius dan kepo secara bersamaan. “Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Jadi, itu, sepertinya aku harus pergi duluan,”
“...”
__ADS_1
Tidak ada respons. Leonna lantas dilanda dilema. Ia tentu tidak ingin membuat Reid menunggu. Tapi, pergi begitu saja meninggalkan member TTS ini, apa tidak apa-apa? Maksudnya, pasti akan amat kurang sopan kan, pergi begitu saja? Apalagi makan siangnya ini Axle yang membayar?
“Apa tidak apa-apa jika aku pergi duluan? Maksudku, kalau kalian merasa keberatan, aku bisa menunggu kalian sampai selesai makan.”
Leonna pasrah. Surai hitam Reid yang melambai-lambai tertiup angin, kini telah semakin menarik perhatiannya saja. Namun, ia sudah terlanjur mengatakan akan menunggu tiga cowok ini selesai makan. Jadi, kalau mendadak ia berubah pikiran kan tidak lucu.
“Darurat? Kau harus pergi sekarang kalau begitu. Dan tidak perlu khawatir, kita bertiga ini pejantan tangguh. Jadi, silakan, silakan. Kita bisa makan siang lagi lain waktu.”
Jawaban Irvine seolah mengangkat sedikit beban dan dilema tidak jelas di hati Leonna. Leonna setelah mengucap maaf beberapa kali, kemudian langsung meluncur kilat menuju tempat pengembalian nampan kotor. Langkah kaki pendeknya tidak ada setengah menit pun, lalu menghilang dari balik pintu masuk kafetaria.
Sementara itu, di bangunan yang sama. Trio Tampan Stuyvesant alias singkatnya TTS, dengan tanpa banyak komentar hanya bisa memandang sendu kepergian Leonna. Axle yang dongkol maksimal, mendadak kemudian menatap penuh intimidasi ke arah Irvine.
“Kenapa kau mengatakannya?” Seru Axle dingin.
“Apa?” Balas Irvine acuh tak acuh. Melanjutkan makan siangnya yang cuma tersisa sepotong udang tepung goreng dan sedikit nasi.
“Ini membuatku gila.”
Angus ikut berseru tidak jelas. Makanan di atas nampan yang baru tercolek tidak ada tiga puluh persen itu, lantas ia indahkan begitu saja. Cacing-cacing di perutnya ini telah lebih dahulu tidak selera. Jadi, apa gunanya makan jika sudah tidak bernafsu?
“Privasi adalah privasi. Jika kita buat ia menjadi publik, apa nantinya gadis itu akan tetap baik-baik saja. Tahan saja ‘junior’ kalian dulu. Lagipula, ini bahkan belum terhitung dua minggu sejak kedatangannya. Kita masih memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang.”
Gigi-gigi geraham Axle dan Angus bergemeletuk ramai. Cengkeraman Axle pada alat makannya pun mengerat kencang.
Sedangkan Irvine sang penasehat ulung, lantas menghela nafas lelah. Ia yang sudah menyelesaikan paling dulu makan siangnya, kemudian tanpa panjang cek-cok lagi langsung bangun dari duduk. Ia lalu dengan tampang ramah seperti biasanya, melangkah santai menghampiri tempat pengembalian piring kotor.
“Menyebalkan.” Dengus Angus.
“Kalian membosankan.” Celetuk Axle yang refleks dibalas tatapan kesal dari Angus. “Kau juga membosankan, Ketua Kolot!”
.
__ADS_1
.
Bersambung...