HTTP 404

HTTP 404
Bab #6


__ADS_3

Kedua mata biru Leonna membelalak ngeri. Tenggorokannya ikut sakit setelah berteriak beberapa detik lalu. Sebab, siapa sangka? Hanya dalam satu tarikan dan dirinya kini sudah berada di atas tembok. Berjongkok di sebelah Reid dengan jemari dingin yang terselip di antara lapisan epidermis kasar telapak tangan mayor cowok ganteng ini.


“Lompat. Cepat lompat! Apa yang kau lakukan, hei! Apa kau tuli?!”


Detak memekakkan, sensasi panas dan kejutan listrik pada aliran darah juga saraf-saraf Leonna saking ributnya, hingga menjadikan fokusnya buntu. Ia pun baru sadar setelah kata tuli keluar dari mulut setajam silet Reid, yang tidak tahu sejak kapan, Reid sudah berdiri di atas rerumputan hijau.


Namun, harus Leonna akui. Pemandangan hijau di bawahnya tampak lumayan tidak terawat bila dibandingkan dengan yang tersuguh di institusi lamanya di Moskwa. Tapi, tenang. Ia tidak sama sekali menyesal pindah ke sekolah ini.


“E-eh? Aku? Lompat? Tidak mungkin aku...”


Leonna menggeleng-geleng enggan dengan kedua lengan memeluk erat-erat kaki mulus tidak berbulunya. Setengah wajahnya tenggelam grogi di balik tempurung lutut yang agak lengket keringat akibat terik matahari yang semakin panas mengudara di angkasa bersih. Tanpa kabut gelap dan hanya sedikit dihiasi gumpalan awan putih tipis di sana-sini.


“Cepat! Aku akan menangkapmu.”


Reid memosisikan lengannya, bersiap untuk menangkap Leonna. Kedua mata hitam Reid memandang mantap, tepat pada iris-iris biru gugup Leonna dan setelah beberapa kali menarik menghembuskan nafas, Leonna dengan keberanian sekecil ikan teri pun melompat dan... BRAVO!


Leonna dengan mulus, berhasil mendarat ke dalam tangkapan Reid yang tidak bisa disanggah, begitu romantis ala-ala gendongan pengantin baru.


“T-terima kasih.”


Keheningan yang sebenarnya sempat menyelubungi kewarasan dua insan muda itu lekas runtuh, sesaat setelah Leonna bergumam teramat pelan dan agak lucu, karena daun telinga sampai ke tengkuk Leonna maupun Reid seketika memerah. Reid pun tanpa sadar, sontak menurunkan dengan tergesa-gesa dan lumayan kasar tubuh ringkih Leonna.


Beruntung, Leonna memang sama kekinya. Jadi, ia juga tidak banyak komentar seperti sebelum-sebelumnya dan malah masih sanggup mengucapkan sepotong ucapan terima kasih. Meski ketika Leonna mendongak untuk melirik wajah menawan Reid, ia serta merta harus tersenyum hambar. Mendapati punggung Reid yang telah lama menjauh dari pandangan.


Tetapi, berhubung Leonna tidak tahu harus bagaimana, walau ia kini sudah sukses menapaki area belakang bangunan sekolah SMA Stuyvesant. Mau tidak mau, Leonna pun berlari-lari kecil mengejar langkah panjang-panjang Reid.


Sekitar lima tujuh menit berlalu dan Leonna akhirnya, telah berada kurang dari dua meter di belakang Reid. Nafasnya agak tersengal-sengal dan setelah melewati sekian banyak belokan juga lorong-lorong besar kecil, kedua mata Leonna membulat ganjil.


“Hm, bukannya ini jalan menuju—kafetaria?”

__ADS_1


“Oh, Reid!”


Seorang wanita pada fase usia kepala empat, dengan tahi lalat atau bisa dikatakan lebih mirip dengan kutil pada sisi kiri dekat garis hidung bangirnya, berseru menyebut nama Reid.


Aktivitas jari-jemari berlemak milik si wanita mengelap permukaan meja konter pun ikut terhenti dan langsung berkacak pinggang, sembari menatap garang ke arah figur tinggi menjulang yang sekejap, sudah cengar-cengir, berjarak empat setengah ubin dari tempatnya berdiri.


“Pagi, Bu Wira.”


“Kamu ini Reid, kebiasaan telat terus. Pasti belum sarapan lagi kan? Ya sudah, masuk dulu. Tapi, ehm! Tumben kamu bawa pacar! Plus, selera kamu memang benar-benar Reid—dari mana pula kamu dapat gadis cantik begini? Hm? Siapa namanya, katakan pada ibu.”


Bu Wira, madam penjaga kafetaria sekolah tersenyum mesem-mesem. Kedua netra tuanya, bahkan sampai hanya menyisakan segaris melengkung panjang dihiasi kerut-kerut tanda penuaan di sekitar sudut-sudut mata. Leonna balas melontarkan senyum kikuk, lain sekali dengan Reid yang memutar bola matanya malas.


“Ayo, katakan pada ibu. Siapa nama gadis jelita ini, hm?”


“Leonna.”


“Bukan.”


“Bukan?”


“Bukan pacar. Dia orang asing.”


“Reid, kamu ini bicaranya! Mana mungkin kamu bawa orang asing, teman saja ibu tidak pernah lihat. Sudah, akui saja. Gadis cantik ini pacar kamu kan?! Berani bohong-bohong lagi sama ibu. Mana mungkin juga ada gadis yang tidak tertarik sama wajah tampan kamu Reid dan—siapa tadi nama kamu, nak?”


Bu Wira mendadak menyambar jemari selembut kapas Leonna dan dengan ceria mengelus-elus sambil sesekali meremet-remet gemas, seolah Leonna adalah mainan squishy atau boleh jadi sebuah boneka panda hidup dan gerakan heboh Bu Wira semakin berenergi, ketika Leonna, walau dengan agak patah-patah menjawab rasa penasarannya.


“L-Leonna, madam.”


“Kan, dari namanya saja sudah cantik. Kamu ini Reid, kalau hanya tersisa satu wanita secantik nak Leonna ini juga kamu tidak akan menolak. Ya, kan? Oh, dan panggil saya Bu Wira saja. Jangan madam, aneh sekali soalnya di telinga.”

__ADS_1


Leonna ditarik cepat Bu Wira menuju pintu dapur kafetaria. Reid di dalam, dengan wajah tanpa ekspresi memandang lurus ke arah permukaan meja berselimutkan taplak bercorak kotak-kotak hijau zaitun.


“Terserah, ibu mau bilang apa. Tapi, koreksi. Reid tidak akan mau sama orang ini walau hanya tersisa satu spesies Homo sapiens betina di bumi.”


“Mulut kamu ya, Reid?! Juga, apalagi homo sap-sopi, apalah itu namanya? Sudah, sudah nak Leonna. Tidak perlu kamu masukkan ke hati ucapan Reid tadi. Gengsi sebenarnya Reid itu dan lebih baik, sibukkan saja mulut kamu, Reid, dengan makanan. Nak Leonna juga, jangan sungkan untuk makan dan segera kembali ke kelas jika kalian berdua sudah selesai. Khawatir sekali ibu, kalau-kalau mendadak ada pengecekan dan ketahuan, lagi ada murid nongkrong di sini.”


Bu Wira berucap panjang lebar dan langsung pergi setelah menerima respon anggukan datar Reid disambung senyum tawar Leonna.


Atmosfer ruangan pun seketika menjadi berat dan tidak perlu panjang lebar lagi menjelaskan keadaan dua makhluk jelmaan, mungkin, malaikat di kehidupan sebelumnya itu. Mereka berdua makan dengan tenang.


Bahkan terlalu kalem dan harmonis, sampai-sampai tidak lagi bisa dibedakan dengan sunyi dan bisu.


Namun, tidak tahu kenapa. Sesuatu dari kalimat terakhir Reid beberapa waktu lalu mendadak terlintas dan lebih tidak mengenakkan, terus berputar bagai adu gasing di kepala Leonna. ‘Ah, perasaan menyesakkan ini, apa namanya?’


...🐣🐣🐣...


Ribut celotehan siswa-siswi terdengar hingga ke luar kelas dan di antara dinding-dinding putih bangunan utama lantai tiga, keadaan lorong yang sudah lengang setelah beberapa menit lalu sempat sesak karena pergantian subjek pelajaran, kini hanya tinggal menampilkan dua insan muda.


Satu yang berambut pirang keemasan tampak tengah dengan tergesa-gesa membuntuti figur berkostum serba hitam di depannya dan agak kejam jika diamati lebih lanjut, sosok yang dibuntuti itu bahkan tidak ada satu kilometer per jam pun berbelas kasih untuk memperlambat gerakan kedua kaki jenjangnya. Tentu, boro-boro untuk jalan bersisian, sekadar melirik saja, ia tidak.


“Eh? Apa itu Pangeran Es? Reid? Reid Cutler?!”


“KYAAAA!!! Dia tampan sekali! Mimisanku bisa kambuh lagi kalau begini!”


“Tapi, siapa itu di belakangnya? Apa dia tingkat tiga juga?”


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2