HTTP 404

HTTP 404
Bab #15


__ADS_3

Figur profesor muda kewarganegaraan campuran Jepang dan Amerika Serikat itu lekas membuka buku paket berjudul literatur bahasa Jepang yang ia bawa. Semua murid kemudian mendadak fokus menyimak materi yang ia ajarkan.


Sama halnya dengan Leonna. Ia kini sudah mulai memperhatikan serius Pak Murama Teijo. Debaran jantungnya yang tadi sempat ribut, tanpa perlu banyak usaha telah kembali berdetak normal. Namun, memang dasar Dave iseng. Ia tiba-tiba berbisik di cuping kanan Leonna.


“Kau mengelak lagi.”


Kulit wajah porselen Leonna spontan bersemu. Tapi tidak berlangsung lama, sebuah notifikasi nyaring berbunyi ‘ping’ terdengar dari dalam tas selempang pastel berbahan kulit, yang tengah bergelayut manja di bahu kursi Leonna.


Seisi kelas mendadak beralih menuju sumber suara. Leonna yang kini menjadi pusat perhatian hanya bisa tersenyum ambigu. Jemari lentiknya kemudian buru-buru merogoh ke dalam tas. Pak Murama Teijo yang dicap sebagai ‘guru killer tingkat dua’ setelah Bu Chatty, serta merta mengerutkan keningnya tebal.


“Diharap untuk mematikan terlebih dahulu ponsel kalian.”


Leonna semakin tergagap. Pak Murama Teijo memang hanya menegur secara anonim, tapi tetap saja. Ia malu setengah mati. Ia yakin, wajahnya pasti sudah ditandai oleh pengajar galak itu. Meski begitu, Leonna harus sedikit berterima kasih. Siswa-siswi yang sempat memandangnya penasaran kini telah serius kembali menghadap papan tulis.


Namun, tentu tidak dengan makhluk bermarga McGary di sebelah Leonna. Lidah cowok itu terlalu lentur. Ia bahkan belum ada satu menit bungkam dan sekarang sudah dengan nada menyebalkan, berucap super kecil di telinga Leonna.


“Haa, aku juga ingin ada yang mengirimi pesan.”


Tubuh Leonna refleks menjauh. Sebelah tangannya menutup layar ponsel yang ia genggam. Netra Leonna kemudian sontak terbeliak. Ia hampir saja menjerit ketika membaca nama sang pengirim pesan.


Air mukanya lalu mesem-mesem sendiri ketika membaca pesan singkat yang sebenarnya tidak ada sepercik pun bumbu romantis.


...[ 1 Pesan masuk dari: Reid Cutler Spanyol ]...


...Datang ke alamat ini pukul tiga nanti....


...🐣🐣🐣...


Kamar Leonna tampak tiga kali lipat lebih berantakan dari kemarin. Beragam model pakaian dari yang mewah untuk pesta, atasan dan bawahan untuk dikenakan sehari-hari, yang berbahan tebal khusus musim dingin, hingga piyama tidur, tersebar dan beberapa menggunung di atas kasur juga lantai berlapis karpet polkadot kuning di sekitar kaki ranjang.

__ADS_1


Ia lantas menghela nafas frustasi. Penat dan lelah karena tergesa-gesa lari menuju halte dan ketika turun dari halte menuju apartemen, benar-benar tidak bisa dianggap enteng. Ia bisa jadi sudah tepar sejak tadi, jika bukan karena masih terbayang-bayang dengan pesan singkat Reid.


Namun, jikalau pun Leonna tidak memilih tidur, ia masih punya banyak waktu untuk sekadar berleha-leha, main tiga kali putaran game online di laptop, bahkan mencamil keripik kentang sembari nonton dua episode drama korea di saluran televisi The-K.


Sungguh betul-betul percuma hari ini ia dipulangkan lebih cepat satu setengah jam dari jadwal normal. Rapat guru-guru kan tidak mungkin sering terjadi. Lagi pula, ia sebetulnya belum mendaftarkan diri untuk ikut ekstrakurikuler apa pun. Jadi, waktunya betul-betul pas bagi anak bungsu dari Presdir M&G Corp. itu untuk pulang lebih awal.


Hanya memang dasarnya Leonna. Waktu bersantai rianya malah habis ia gunakan untuk bersiap-siap ke acara kencan, ralat, kerja kelompoknya dengan Reid.


Walau tidak salah juga ia perlu tampil rapi dan mengesankan di mata, ehm, Reid. Kesan pertama pun, menurut buku-buku dan bermacam film yang ia tonton, seringkali menayangkan pesan serupa itu. Tapi, sumpah! Praktik Leonna sudah terlampau menghayati.


“Tidak, tidak. Ini terlalu berlebihan. Tapi yang ini, ehm, terlalu eksplisit. Baiklah, yang ini saja. Um, tidak. Ini sepertinya terlalu sederhana. Apa yang itu saja? Tsk, ah! Bagaimana ini?!”


Hampir satu setengah jam sudah berlalu. Leonna masih berdiri bimbang. Ia sebentar melirik ke arah pakaian bernuansa merah cabe.


Tiba-tiba ia berubah pikiran dan beralih menghadap atasan berbahan jeans. Lalu ia menggigit bibir bawahnya beberapa kali dan sontak mengambil model lain yang berwarna jauh lebih cerah. Ia tidak lama menggaruk tengkuk. Berkacak pinggang dan menggeleng lagi.


“Apa? Kenapa cepat sekali?! Ya sudah, yang ini saja. Akhhh! Aku bisa telat kalau begini!”


...🐣🐣🐣...


“Apa ini tempatnya? Apa aku tidak salah baca? Smith Smiley Mart? Benar, lokasinya berhenti tepat di sini. Tapi, ini, ehm, agak—sedikit kurang meyakinkan.”


Mata Leonna memandang bolak-balik lokasi yang dibagikan dalam pesan Reid dengan bangunan bercat pudar empat meter di depannya. Alis keemasannya pun kian lama kian kusut. Bingung sekali apakah ia harus percaya atau tidak?


Alamat yang dicantumkan Reid sembilan puluh sembilan persen akurat dengan tempat ia berdiri sekarang. Hanya saja, bukan sebuah kafe, taman, apalagi perpustakaan yang kini ia jumpai. Melainkan sebuah swalayan di daerah yang agak kurang menarik perhatian konsumen dan perlu sekali untuk mendapat rekonstruksi atau minimal, diberi dana untuk pembuatan papan nama baru.


“Sudah lewat sepuluh menit. Apa aku coba masuk saja?”


Leonna mulai tidak nyaman ketika seorang pria berwajah brewok berjalan keluar dari swalayan. Ia tersenyum canggung ketika tidak sengaja bersitatap dengan si pelanggan. Namun, seperti halnya saat berpapasan dengan orang asing, konsumen yang menenteng longgar sekantong plastik bening berisikan tiga bungkus rokok itu sontak melengos.

__ADS_1


Leonna serta merta menghembuskan nafas lega.


Ia dengan ragu-ragu kemudian melangkah menuju pintu swalayan. Netranya mengamati sebentar. Di dalam kelihatan masih ada satu orang pembeli di depan meja kasir. Jemari lentiknya lalu mendorong perlahan pintu kaca.


Bunyi derik dan macet terpaksa membuat Leonna harus lebih ekstra mengeluarkan tenaga. Ia sebetulnya masih lelah karena sempat linglung, nyasar dan tidak jarang berlari-lari kecil ketika mencari lokasi ‘tidak tahu tepat atau tidak ini’.


“Oh, Reid Cutl—er.”


Senyum Leonna sontak melebur tidak ada satu tarikan nafas. Ia yang tadinya sudah setengah jalan berseru memanggil sosok di belakang meja kasir, seketika berubah menjadi sebuah cicit.


Seorang cewek berkepang satu dan berpostur lebih tinggi dari Leonna, tampak tengah saling bersenda gurau dengan figur yang dicari-carinya. Kedua mata Reid Cutler bahkan sampai membentuk bulan sabit ketika ia tiba-tiba tertawa. Leonna refleks menatap sendu pakaian yang ia kenakan.


Apa ia akan terlalu menor di hadapan Reid? Tidak. Bagaimana jika gadis ‘asing’ itu ternyata bukan sekadar pembeli? Terlebih, bagaimana bisa Reid tertawa selepas itu dengannya? Apa mereka pacaran?


Berbagai macam pertanyaan mendadak sudah bergumul ramai di kepala Leonna. Kepercayaan dirinya mendadak dan perlahan tergerus untuk mendatangi Reid.


Ditambah lagi, sesuatu, entah apa itu, dengan seenaknya membuat hati Leonna tidak nyaman. Ia tiba-tiba saja tidak semangat dan hampir saja balik arah, kalau tidak karena sebuah sapaan lumayan kencang dari arah salah satu bilik rak-rak barang.


“Oh! Apa kamu yang punya janji temu dengan Reid?”


Bibi Smith, pemilik sekaligus pengelola Smith Smiley Mart tersenyum hangat ke arahnya. Ia sontak berhenti dari aktivitas mengecek dan memasukkan ulang stok barang. Kaki berbalutkan celana hitam wanita bermarga Smith itu melangkah cepat mendekati Leonna.


Tidak ada tiga detik, Leonna dan Bibi Smith mendadak sudah saling berhadapan. Leonna tetap membisu.


Bukan ia bermaksud untuk berlaku tidak sopan atau apa. Tetapi, kedua pandangan Leonna kini malah terkunci pada netra gelap Reid. Ia terkejut dan malah semakin lesu ketika mendapati ekspresi yang terlukis pada wajah Reid.


Figur tinggi menjulang itu menatap Leonna tanpa ekspresi. Begitu hambar. Tidak ada sapaan, lebih lagi sambutan riang yang keluar dari bibir tipis Reid. ‘Hm? Senyum di wajah Reid—menghilang.’


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2