
Prediksi Leonna betul-betul tidak sedikit pun keliru. Seluruh pasang mata yang bolak-balik memandangnya penasaran. Bisik-bisik dengan volume terlampau tidak santai dari meja ke meja, kursi ke kursi, bahkan dari satu petak lantai ke petak lantai lainnya.
Ia serius. Sungguh-sungguh ingin menghilang saja sekarang.
“Apa kau ingin tambah nasi? Sayuran? Atau, ini, wortel? Aku tidak suka wortel, jadi kau bisa ambil saja semuanya.”
Irvine sibuk mengaduk-aduk isi sup ayamnya. Ia kemudian dengan kilat, memindahkan semua potongan wortel yang berhasil ia temukan di dalam mangkuknya ke dalam mangkuk setengah penuh Leonna.
“Terima kasih.” Leonna menjawab dengan agak bercicit.
“Kalian ini benar-benar...” Angus yang baru saja datang, lantas ikut duduk di sebelah Irvine.
Ia lelah sekali hari ini. Namun, melihat dua sejolinya ini malah santai-santai makan siang di kafetaria bersama Leonna. Rasa letih dan penatnya yang ada berubah menjadi dongkol.
Apalagi saat ia melihat eksistensi seorang Axle Bru yang duduk super kalem dan menyantap makanannya dengan nyaman di sebelah Leonna. Sungguh. Benar-benar semakin merusak pemandangan dan suasana hatinya saja!
“Aku pikir kau akan terjebak di sana seharian? Tapi sepertinya, tidak. Kau benar-benar berhasil kabur dari sana dengan sehat sentausa dan lengkap dari atas ke bawah, hm, Wakil Ketua OSIS?”
Irvine berceletuk tanpa hati. Angus yang jelas-jelas sedang malas meladeni ucapan Irvine, refleks berseru kesal. “Berhenti membicarakan Lebah Betina itu. Aku benar-benar bisa ambruk, jika terus-menerus menghadiri kelasnya.”
“...”
Irvine dan Leonna diam-diam saling melempar pandang. Axle yang memang sedang amat mendung kronis, hanya diam dan tidak terlalu fokus mendengarkan ocehan Angus.
Sementara Angus sendiri yang agaknya sudah terlalu letih, sehingga kurang mempedulikan keadaan sekitarnya. Kemudian berceloteh lagi. Namun kali ini, dengan raut muka yang jauh lebih ekstrem dan suram.
“Lagipula, kenapa harus anak OSIS melulu yang disuruh-suruh. Bel istirahat bahkan sudah berdering tadi. Apa dia pikir siapa pun yang tergabung dalam OSIS adalah seorang malaikat? Tidak lapar dan tidak haus? Tidak memiliki hawa nafsu begitu?”
Hening.
Reaksi Axle seperti biasa, tidak banyak berkomentar dan kalaupun berkomentar, kualitas dan panjang pendeknya pasti menyesuaikan kondisi hatinya.
__ADS_1
Sedangkan Irvine, luar biasa seperti biasa. Ia tertawa lepas mendengar kawannya yang dikenal selalu tampil bak malaikat (baca; innocent), kini menggerutu panjang kali lebar kali tinggi. Dan di depan Leonna lagi.
Angus pun yang kemudian tidak lama sadar, kalau ia ini sedari tadi hanya bermonolog tanpa ada yang menanggapi, lantas tersenyum keki. Ia lalu berujar dengan agak grogi, “Maafkan aku Leonna. Perkataanku, ehm, percakapan kami ini malah jadi membuatmu tidak nyaman.”
Kedua belah pipi Irvine menggelembung bagai pipi tupai. Ia yang sangat-sangat ingin tertawa kelewat terbahak-bahak, terpaksa harus menahan diri sekuat tenaga.
Namun, itu bukan karena ia takut dengan kritikan dan atau komentar orang-orang terkait imej-nya nanti. Hanya saja, silakan lihat bagaimana lirikan membunuh Angus sekarang.
Memang sih, sebagai kawan ‘baik’, ia tidak akan dipukul atau di A, B, C, D—dan seterusnya (baca; dst) oleh Wakil Ketua OSIS itu. Sebab diam, dingin, dan bekunya Angus, serius! Sudah amat cukup untuk menggambarkan bagaimana panasnya neraka Jahannam!
“Aku tidak masalah. Dan lagipula, aku tidak pernah menyangka kau bisa menggerutu.”
Leonna berujar santai. Ia dan Irvine lagi-lagi saling bertukar pandang. Seolah mereka berdua ini tengah mengobrol dan mungkin, mengomentari Angus lewat telepati.
Beda lagi dengan reaksi Angus yang mendengar ucapan teramat ‘biasa’ saja Leonna. Ia yang ada kian murung dan mulai merasa begitu malu. Malu-malu marmut. “Aku pasti sangat tidak keren tadi.” Ujar Angus lesu.
“Tidak, tidak, kok. Kau tetap keren,” Jawab Leonna rada syok dengan komplain ‘baru’ Angus.
Dan dengan lebih hati-hati kali ini, “Maksudku, kalian semua, dan aku, siapa pun itu, bisa komplain kapan saja, kan? Kalau kau tidak suka, bilang tidak. Kalau kau suka, bilang suka. Bukankah begitu cara kerjanya?”
“Seperti yang kuharapkan.” Angus tiba-tiba menanggapi, seraya melayangkan senyum lembut ke arah Leonna.
Namun, berkat jawaban ambigu Angus pula. Kini Leonna, Irvine, kecuali Axle, sontak melontarkan tatapan penuh tanda tanya. “Ya?” Leonna bergeming super pelan.
Angus spontan terkekeh. Kemudian menggeleng dan menjelaskan, “Tidak ada. Kamu hanya seperti yang, tidak, maksudku kamu melebihi ekspektasiku Leonna. Agak sedikit mirip dengannya juga, kalau dipikir-pikir.”
“Dengan—nya?” Tanya Leonna bingung.
Irvine yang mendadak mendapatkan ilham tentang apa yang sedang dibicarakan Angus, lantas menjawab dengan super kalem. Ia dan Angus ini sudah berteman sejak masa orientasi sekolah di SMP. Jadi, cukup banyak pula hal yang ia ketahui tentang Angus. Walau seringnya, ‘hal-hal’ itu bukan langsung dari mulut Angus sendiri. Melainkan, ya, tahulah~.
“Yup. Anak perempuan, sekaligus cinta pertama Angus saat ia duduk di bangku Tadika Mesra (TK).”
__ADS_1
Wajah Leonna merah merona. Ia yang terkesiap dengan fakta cinta pertama seorang Angus Lawton, lalu tanpa sengaja berujar sambil tersenyum menggemaskan, “Aku beruntung kalau begitu.”
“Apa? Kenapa?”
Axle yang sejak tadi tidak tertarik dengan topik pembicaraan ketiga pelajar di meja makan yang sama dengannya, tiba-tiba buka suara. Ia menatap iris biru safir Leonna dengan kelewat intens.
Tatapan menusuk Axle, jelas membuat objeknya merasa tidak enak dan agak merinding ngeri. Leonna yang merasa ucapannya lagi-lagi sukses menimbulkan kesalahpahaman, spontan menjelaskan kembali dengan peluh yang mengucur panas dingin.
“Bukan begitu, maksudku adalah, siapa yang tidak senang disukai oleh pemuda menawan macam Angus, dan, kalian berdua?”
“Kau pandai memuji rupanya.” Senyum hambar mengembang di wajah Angus.
Irvine pun hanya terkekeh geli. Ia paling senang melihat ekspresi wajah Axle dan Angus yang jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah muncul ini. Angus yang kelihatan tidak bisa berkata-kata (baca; speechless), serta Axle yang tampak kesal dan—cemburu?
PING!
Fokus keempat pelajar yang berada di satu meja yang sama di tengah-tengah ruang kafetaria, serta merta mengikuti arah sumber suara.
Bunyi ‘ping’ yang sangat nyaring karena memang disetel dalam mode suara penuh (baca; full volume) oleh empunya, spontan pula menjadikan atmosfer di sekitar meja berisi Yang Terhormat TTS itu menjadi pusat perhatian para pelajar lain di meja-meja terdekat mereka.
Sudut-sudut bibir si pemilik ponsel yang membunyikan suara notifikasi khas itu, mau tidak mau hanya bisa menampilkan mode grogi akut. “Sepertinya bunyi ping itu dari ponselku.”
Bola mata Leonna lantas membulat kaget, begitu ia mendapati nama yang tertera di layar ponsel pintarnya.
‘Reid mengirimiku pesan? Apa dia ingin membicarakan tentang pertunjukan skit besok? Atau tugas mengajar matematika? Tapi, bagaimana ini? Kejadian tadi pagi betul-betul sangat memalukan. Aku sepertinya masih belum siap kalau harus berbicara dengan Reid lagi.’
.
.
Bersambung...
__ADS_1