
Leonna melongo bingung. Padahal Reid tadi sudah berjalan melewati pintu masuk atap. Tetapi, mendadak cowok itu kembali lagi dan lebih mengejutkan. Sebab ia berlari hingga ngos-ngosan, hanya untuk menyampirkan jaket hitamnya di bahu sempit Leonna.
“Ini—” Leonna melayangkan tatapan tidak mengerti.
“Ya sudah. Aku akan segera kembali.” Reid secepat kilat sudah menghilang lagi di balik pintu bermaterial besi.
Atmosfer di sekitar Leonna mendadak betul-betul hening. Tidak ada pergerakan berarti, kecuali dari ribut bisik-bisik aliran angin musim gugur yang sebetulnya tidak dingin. Alias hangat dan memang agak menyejukkan, entah mengapa.
“Tadi itu—”
Kalimat Leonna terpotong. Ia refleks semakin mengeratkan cengkeramannya pada jaket Reid. Satu detik pun berlalu, seluruh bagian wajahnya kini telah berubah merah padam. Detak jantungnya juga ikut menggila. Berdetak super kilat, seolah-olah tengah duduk di kursi penumpang sebuah mobil dengan kecepatan lima ratus kilometer per jam.
“Ah, memalukan sekali. Bagaimana bisa sampai tembus begini?! Leonna bodoh. Kau benar-benar punya nyali untuk mempermalukan dirimu sendiri di hadapan Reid! Menyebalkan~!”
Leonna berseru frustrasi. Ia seraya berceloteh ini itu, menjenggut surai kuning keemasannya dengan tanpa resistensi. Tentu. Siapa perempuan yang tidak menggila, jika kejadian memalukan yang seringkali disebut ‘tragedi pembentukan bendera Jepang’ ini harus terjadi di depan lawan jenis. Lebih lagi, saksi mata itu bukanlah orang asing, melainkan Reid Cutler sendiri!
“Aku ingin menghilang saja rasanya.”
...🐣🐣🐣...
Pegawai yang berjaga di belakang meja kasir memandang kosong sosok ganteng di depannya. Ia baru saja berharap untuk meminta nomor konsumen ini. Namun, harapan memang seringkali menyimpang dari ekspektasi. Dan lagi pula, mana mungkin pemuda berwajah super menawan dan bentuk tubuh menggiurkan ini masih jomlo. Dunia benar-benar kejam, hm?
“Ada yang lain?” Tanya pegawai swalayan.
“Itu—”
Cowok berwajah campuran oriental Asia dan Amerika itu menggigit bibir bawahnya ragu. Beruntung sebetulnya, karena di swalayan ini sedang sepi pelanggan. Hanya saja, jika ia membeli pembalut, tidakkah ia, maksudnya, Leonna, perlu pula untuk mengganti pakaian dalam?
Namun, kemungkinan besar dan menurut sepengetahuan ia selama hampir dua tahun bekerja menjadi pegawai paruh waktu di swalayan. Tidak pernah ada produk bernama pakaian dalam. Pengecualian agaknya untuk pria, meski memang stok barangnya tidak pernah banyak.
“Apa di sini juga menjual pakaian dalam untuk wanita?”
__ADS_1
Keringat dingin mengucur deras dari pelipis si penanya, alias Reid. Sudah tidak ada lagi kesempatan ia untuk mundur. Rasa malu pun telah sukses menjarah habis seluruh rasionalitas dan urat malunya. Ia bahkan hanya bisa melemparkan senyum hambar ketika pegawai swalayan di hadapannya ternganga bingung.
“Apa?” tanya pegawai swalayan.
“CD? Celana dal*m untuk wanita? Apa di sini menjual?” Reid malah balas mengajukan pertanyaan dengan agak berbisik. Ia memandang lurus dan amat grogi si perempuan berkulit sawo matang di belakang meja konter.
“Maaf! Maaf sekali. Tetapi, kami tidak menjual produk itu. Hanya saja, maksudku, dua blok dari sini ada toko yang menjual—pakaian dalam untuk wanita. Anda hanya perlu berbelok ke arah timur dan nanti akan langsung bertemu toko pakaian bernama OLC.”
“OLC?” Alis Reid berlipat tebal.
“Ya. Itu singkatan dari Oui! Lil’ Chic. Bangunan dengan cat mencolok merah muda dan tepat di sebelahnya ada klinik hewan bernama Pawn Lovers, kalau aku tidak keliru.”
Gadis yang sepertinya merupakan pelajar yang duduk di jenjang perkuliahan itu berucap sekilat kecepatan terbang pesawat jet. Warna kulitnya juga seketika berubah semerah darah. Rasa panas dan tidak lagi hangat pada kedua belah pipinya secara terang-terangan kian menderanya. Sedangkan Reid sebagai pendengar sontak melontarkan senyum keki.
“Baiklah. Terima kasih banyak. Dan, untuk totalnya?”
“Oh, maaf sekali. US$9.87 untuk satu buah Always Pads isi 10 bungkus, US$1.47 sabun cair Dove 88mL, satu minuman Ito EN Oi Ocha US$1.62, dan US$4.98 untuk satu kotak Choco Cheese Muffin. Jadi, total yang harus dibayarkan adalah US$17.94,”
Semua barang belanjaan yang mau tidak mau menghabiskan seperempat atau bisa jadi sepertiga uang makan bulanan Reid, sekarang telah berpindah rapi di dalam kantong plastik. Namun, agak bermasalah sekali sebetulnya. Sebab kantong plastik swalayan ini adalah kantong plastik organik model transparan. Dan, itu artinya, pembalut bermerek Always ini akan dengan indahnya tertampil jelas dari luar plastik.
“Baik. Terima kasih banyak.” Tulus Reid.
“Ya. Semoga hari anda menyenangkan.”
Reid menghela nafas kasar. Ia sudah membeli semua kebutuhan darurat untuk Leonna. Ia juga sempat-sempatnya telah membeli muffin seharga dua tiga kali lipat harga roti yang biasa ia santap tiap jam makan siang pertama atau kalau sedang kepepet waktu, pada saat jam istirahat ke dua.
“Apa ini tokonya? Cat tembok merah muda mencolok dan di sebelahnya, ada klinik hewan bernama Pawn Lovers?”
Setelah tiga menit berlari sprint. Ia akhirnya tiba di lokasi yang dituturkan pegawai swalayan tadi sebagai OLC. Netra Reid lalu berkeliling mencari-cari papan nama yang ternyata tertulis besar-besar Oui! Lil' Chic di tembok dekat pintu masuk bangunan.
Tetapi, bukan Reid langsung masuk. Ia malah sibuk menimbang-nimbang dan sempat berpikir untuk tidak jadi beli. Toh, Leonna tadi tidak memesan apa-apa. Atau mungkin realitasnya, ia yang terlalu panik dan secara dermawannya bolak-balik membeli ini itu untuk Leonna.
__ADS_1
“Permisi. Ada yang bisa Bebi bantu?”
Suara bernada genit tiba-tiba menyapa gendang telinga Reid. Ia refleks melonjak mundur beberapa langkah. Saat ini tepat di hadapannya, seorang pria yang berdandan agak sedikit mirip wanita tengah tersenyum ramah. Koreksi, tersenyum mengerikan dan rada, ehm, menjijikkan.
“Itu—aku ingin membeli pakaian dalam wanita? Apakah ada?”
Binar cerah mendadak tertampil dari kedua bola mata figur yang sepertinya merupakan pegawai Oui! Lil' Chic. Ia kemudian terkekeh nyaring dan dengan tidak sopannya menyentuh pipi Reid. “Ya, tentu saja. Tapi, apa Tuan Tampan tidak salah bicara? Pakaian dalam wanita?”
“Tidak. Aku tidak salah bicara. Ya—pakaian dalam wanita. Maksudku, hanya bagian bawahnya saja, CD.”
Reid yang risih di colek-colek perlahan menjauhkan diri dari si makhluk miris adab. Tapi, seolah-olah sosok bersurai ombre ungu, oranye, dan merah muda itu tidak mengerti perlakuan Reid yang dengan blak-blakan menjaga jarak. Ia dengan sok akrab malah mendorong paksa Reid untuk memasuki OLC.
“Jadi, apakah itu semacam hadiah untuk kekasih Tuan Tampan? Betapa romantisnya! Baiklah, kalau begitu. Bebi sarankan ini. Bahan sutra dan supaya lebih seksi, panas, dan menggoda. Ada ini, ini, dan ini juga. Atau mungkin kekasih Tuan Tampan lebih suka lingerie? Sesuatu yang lebih terbuka atau transparan? G-String? Stoking?”
Insan menor yang menyebut dirinya sendiri sebagai Bebi, asik menyerocos tanpa koma, bahkan titik. Reid yang belum habis keterkejutannya ketika baru selangkah melewati pintu masuk, lantas merasa pening dan runyam mendengarnya.
“Maafkan aku, tapi—” Reid mengurut batang hidungnya dengan lumayan bertenaga.
Ia jujur cukup bergidik begitu dipertunjukkan berbagai model pakaian kurang bahan dan sangat kekurangan moral. Logikanya bahkan sampai sempat mengomentari sarkas, bagaimana dunia seni busana atau seni apalah itu, bisa amat vulgar begini.
Lagipula, apakah memang harus didesain dan diproduksi hingga seperti ini? Warna mencolok dan hampir menyimpangi utuh, alasan primer mengapa pakaian sebetulnya dibuat? Tidak perlu sekali seharusnya, bukan?
Reid tanpa sadar, kemudian mendengus frustrasi. “—apakah ada yang model biasa? Tidak perlu pakai rumbai-rumbai, juga model-model rumit dan transparan seperti ini. Hanya yang biasa? CD yang agak lebih normal?”
“Ya? Apa? Normal?”
.
.
Bersambung...
__ADS_1