
Yang dipanggil sebagai Chris malah balik melayangkan pertanyaan. Leonna yang masih terlalu terkejut tidak langsung menjawab dan malah berpaling melirik Reid. Sedangkan pemuda jangkung itu yang ada malah semakin membuat situasi menjadi tampak aneh di mata Chris. Wajah Reid tiba-tiba saja merah padam.
“Pacar ternyata.” Chris menyimpulkan sepihak.
Leonna yang sempat melamun, syukur langsung sadar begitu mendengar kalimat super datar Chris. Ia lantas menyangkal pernyataan Chris dengan super panik. “Tidak, tidak. Ini temanku. Dari Stuyvesant juga.”
“Kau sudah sok dewasa rupanya. Tapi, apa Leo tahu?”
Raut muka Reid yang tadinya kebingungan mendadak bertransformasi menjadi amat kesal. Ia bahkan tidak mengerti. Mengapa hanya dengan melihat seorang ‘laki-laki’ mengusap pucuk kepala Leonna, ia merasa begitu tidak senang. Ingin sekali ia untuk menampik tangan itu. Tapi, alasan apa yang nantinya harus ia lontarkan?
“Aku bilang, ini teman. Hanya teman!” sanggah Leonna lagi.
Chris memandang bolak-balik wajah Leonna dan Reid. Ia juga dengan cukup lama memindai figur Reid dari ujung kepala hingga ujung kaki. Alisnya lantas beringsut rapat membentuk garis lurus dan keriting di tengah-tengah.
“Sangat sederhana, hm?” Kicau Chris.
Kesan pertama Reid ternyata lumayan mengkhawatirkan masa depan sosok kembaran Leo ini—menurut sudut pandang Chris. Tidak ada hal spesial dari penampilan Reid. Bahkan, kalau Chris boleh blak-blakan. Pemuda dengan pakaian serba hitam ini terlalu normal dan hambar untuk bersanding dengan anak gadis keluarga Mileková. Atau harus ia bilang, terlalu ‘biasa’?
“Tsk! Ayo, masuk dulu.”
Berkat lirikan penasaran yang pura-pura ditahan-tahan oleh beberapa orang yang lewat, Leonna terpaksa menarik Chris untuk masuk ke apartemennya. Ia lantas menggerutu sendiri dalam hati. Waktu ‘hanya berdua’ dengan Reidnya ini, sungguh sial harus kandas.
“Hei, kau bersih-bersih?”
Kecurigaan Chris mendadak membludak ketika melihat keadaan apartemen Leonna. Tidak mungkin sekali, kawan semenjak masa oroknya ini, tinggal di tempat kelewat bersih berkilau, tertata, dan enak di pandang, meski sudah satu minggu mendarat di kota New York.
Lagi pula, kata Leo semalam. Pegawai kebersihan yang seharusnya bekerja mulai minggu pertama Leonna bermukim di sini, empunya itu terus tolak. Jadi, tidak ada satu orang pun kecuali Leonna sendiri yang wajib melakukan bersih-bersih. Namun, setelah melihat keajaiban janggal ini. Kiamat pasti, benar, sudah begitu dekat.
__ADS_1
“Apa?” Leonna memang tidak mendengar dengan jelas gumaman Chris. Jadi, ia hanya refleks balik bertanya.
“Apa demam kemarin terlalu tinggi? Aneh sekali apartemenmu bisa rapi dan bersih seperti ini? Kau kerasukan jin, ya?”
Reid diam-diam semakin mengernyitkan dahinya tidak suka. Tidak mungkin kan, seseorang bisa tahu seluk-beluk, detail-mendetail kehidupan personal orang lain, kecuali jika hubungan mereka ‘cukup amat’ dekat?
Tapi, bukan maksud Reid pula. Hubungan pun interaksi antara dirinya dan Leonna layak untuk dikatakan dekat. Hanya saja, Chris ini pasti bukan cuma sekadar kenalan yang numpang lewat bagi Leonna. Benar, bukan?
“Berhenti mengejekku. Lagi pula, kau benar-benar tinggal di apartemen sebelah rupanya. Aku pikir kau hanya bercanda.”
Oke. Dialog Leonna ini secara tidak langsung, menjelaskan kalau adanya interaksi dalam kurun waktu dekat antara diri gadis itu dan Chris. Reid pun mendadak kian waspada. Entah, apa yang tengah mengancamnya. Tapi, intinya. Pemandangan kompatibel dan luwes di hadapannya ini, telah sangat lebih dari cukup untuk membuat sesuatu dalam relung dadanya serasa terbakar.
Atau simpelnya, ‘cemburu’. Kekeke...
“Ya, ya. Sial sekali bukan. Tapi, ngomong-ngomong. Apa ini semua? Kau sedang pesta makanan? Kenapa sampai ada tiga minuman segala? Moge Tee rasa teh hijau lagi? Kau mencoba diet?”
“Hei, hei. Kau seenaknya saja asal minum. Beli sendiri, kau juga punya uang kan? Dan, ehm, kenalkan sebelumnya,”
“Reid, ini Chris dan Chris, ini Reid.”
Reid tidak tersenyum, begitu pun Chris. Keduanya hanya saling melempar pandang. Meneliti dengan detail penampilan satu sama lain. Dan tidak lama, Chris akhirnya angkat tangan lebih dulu. Ia kemudian berdeham santai dan berniat untuk sedikit mengorek informasi, ralat, melucu seraya mencairkan suasana. Mungkin.
“Oke, Reid. Jadi, sejak kapan kalian menjalin hubungan? Apa kau bertemu dengan gadis narsis ini secara online? Kau pasti merasa tertipu kan?”
“Itu—” Jawaban Reid terpotong. Leonna dengan pipi, daun telinga, dan tengkuk merah padam tiba-tiba berseru kesal. Ia juga menghentakkan kakinya sembari menunjuk pintu depan apartemen.
“Jika kau masih terus saja membual, lebih baik kau keluar saja. Sana! Pergi!” Usir Leonna dengan nafas yang naik turun tidak beraturan.
__ADS_1
“Tsk! Apa kau sedang datang bulan? Sensitif sekali.”
Chris mencibir tidak peduli. Pemuda beriris hijau itu yang ada beralih mengeluarkan secara acak beberapa menu makanan di dalam plastik pesan antar Leonna. Ia kemudian membuka kemasannya dengan amat tidak sabar. Hingga sukses membuat sedikit banyak remah-remah dan bumbu-bumbu bertekstur cair juga padat berhamburan keluar dan terciprat ke setiap sudut permukaan meja.
Sementara Reid yang menyaksikan pertikaian penuh intimasi antara dua figur ‘superior’ ini yang ada kian mendidih. Ia lalu beranjak ikut duduk begitu Chris duduk dengan seenak perutnya.
Lain lagi dengan Leonna, yang mudah sekali ditebak. Gadis berkebangsaan Rusia itu betul-betul marah, sekaligus kesal dengan gerak-gerik Chris yang tidak tahu sopan santun. Ia pun berusaha mengeluarkan sumpah serapah lagi. Meski kemudian, sontak langsung digunting, bahkan sebelum memasuki empat patah kata oleh tamu barunya itu.
“Christian Wilde! Kau—” Geram Leonna.
“Itadakimasu!” Chris mengangkat sumpit ke depan dada seraya menunduk sedikit ala-ala makan di restoran Jepang.
‘Siapa sebenarnya makhluk ini? Apa hubungannya pula ia dengan Leonna? Tsk! Aku sudah gila. Untuk apa aku repot-repot memikirkan simbiosis mereka. Tapi, Christian Wilde? Wilde? Di mana aku pernah mendengar nama itu? Hm, mungkin hanya prasangka konyolku saja.’
Batin Reid penuh tanda tanya.
Tetapi, sepertinya bukan hanya Reid saja yang merasakan deja vu dengan eksistensi Chris. Cowok yang selalu bertingkah kekanakan dengan raut muka datar di sebelah Leonna itu juga, diam-diam mencuri pandang beberapa kali ke arah Reid.
Ia yang selalu berada di tiga besar sepanjang jenjang studinya. Tentu. Kerja sel otak dan operasional kotak memorinya tidaklah perlu untuk diragukan barang setitik. Begitu pun dengan hal sepele yang terjadi di sekitarnya.
Salah satunya ialah sosok tidak asing ini.
Jelas. Bagaimana ia tidak mengingat rupa pemuda yang dikenalkan Leonna sebagai Reid ini? Dua sejolinya itu mungkin sekali tidak akan ingat, apalagi sadar, kalau obrolan mereka kemarin di 1#Txias Siber Kafe ada yang menguping. Tapi, tidak dengan dirinya. Gerak-gerik si penguping itu betul-betul tidak andal. Jadi, wajar saja kalau dia yang gila mengobservasi menyadari.
‘Jadi, ini cowok preferensi Leonna? Pekerja paruh waktu di internet kafe dan penampilan yang pas-pasan. Kau betul-betul sudah dibutakan oleh cinta, hm, Leonna? Aku turut berduka kalau begitu.’
.
__ADS_1
.
Bersambung...