HTTP 404

HTTP 404
Bab #46


__ADS_3

Noah di seberang telepon berceloteh kesal. Kecurangan yang ia susun dengan sangat detail Jum'at kemarin, ternyata tidak seratus persen sukses. Memang, Reid pada akhirnya tetap bergabung untuk memperkuat tim basket yang dipimpinnya.


Hanya saja, berkat permainan ‘sedikit’ kasar ia dan anak buahnya kemarin. Penggemar setia nan obsesif Reid dengan terang-terangan menyerang personil klub tercinta mereka. Terutama dirinya sebagai ketua. Meski tidak banyak melayangkan penyerangan secara fisik, tetap saja, penyerangan verbal mereka itu tidak bisa dianggap remeh.


Buktinya, ia dan seluruh personil. Tanpa pandang bulu, mau itu adalah pelakunya atau bukan, atau mentok-mentok pemain intinya atau sekadar cadangan. Semua pebasket yang tidak pernah absen membawa tropi kejuaraan antar SMA ini, dibuat kesusahan parah, tiap kali akan duduk di bangku-bangku kafetaria ketika jam istirahat.


Antrean khusus personil basket yang biasanya dibiarkan saja mengekor panjang dan hanya diisi oleh pebasket resmi klub atas nama YOLO Bruh mereka, bahkan sampai dengan berani-beraninya ada yang menyelak.


“Aku tidak peduli siapa yang berjaga. Tapi, secepatnya kau harus datang menemui guru piket dan bilang kalau hari ini ada salah seorang siswi bernama Leonna Mileková ijin sakit untuk mata pelajaran ke tiga.”


^^^[ Kau sudah tidak waras? Bagaimana bisa ijin sakit ke guru piket? Lagipula, siapa itu Leonna Mileková? Apa dia pacar yang kau tunggui kemarin di depan ruang musik? ]^^^


Kalimat ngegas Reid, jelas tidak mungkin akan langsung dikerjakan oleh Noah. Mana lagi, jika mengingat-ingat bagaimana busuknya perangai cowok bermarga Thatcher itu. Matahari pastilah betul-betul sudah pensiun, kalau bicara tanpa menyalak penuh kegosipan Noah tiba-tiba saja berhenti. Benar, kan?


“Berhenti membuat rumor dan lakukan saja apa yang kukatakan. Juga, jika guru piket itu menolak. Katakan saja informasinya berasal dari Reid Cutler kelas 12 jurusan IPA.”


Kata demi patah kata sebisa mungkin Reid katakan dengan jelas. Ia kini telah melewati mulus lorong-lorong lantai satu dan tengah meluncur kencang menuju tangga darurat lantai dua.


^^^[ Hei, hei! Tunggu. Apa untungnya bagiku melakukan perintahmu itu? Lagipula, seharusnya kau bukan memerintah, tetapi meminta tolong kepadaku dengan baik-baik. ]^^^


“Aku minta tolong. Jadi, cepat lakukan sekarang!”


Reid pasrah. Ia memang telah biasa lari maraton dan melakukan pekerjaan berat macam ini. Hanya saja, berlari berkilo-kilo meter dari areal jauh di luar sekolah, melompati tembok tinggi taman belakang Stuyvesant, berlari lagi menyalip kerumunan siswa di setiap lorong, dan puncaknya, berjuang menaiki puluhan, bahkan ratusan tangga menuju atap sekolah.


Ia jujur, telah siap sekali untuk mengamuk dan berteriak ‘lelah’ sekencang-kencangnya. Tapi, ia tidak punya banyak waktu untuk sekadar mengkhayal. Jadi, biarlah ia berlari-lari dahulu, baru berteriak-teriak kemudian.


^^^[ Garang sekali. Tapi, satu lagi. Kau harus berjanji datang latihan sore ini. Pelatih Maniak Cutler itu bilang akan menyempatkan waktu untuk mengawasi. Jadi, kau perlu, harus, wajib, untuk datang! Oke? ]^^^


“Sial. Baiklah. Sekarang cepat lakukan tugasmu, Thatcher!”

__ADS_1


Seperti belum puas saja Dewi Kebugaran menguji Reid. Ia sekarang harus terpaksa pula membuang waktu rehatnya sebelum kerja di Smith Smiley Mart sore ini. Entah, apa yang akan terjadi jika staminanya terkuras habis, padahal satu bulan di semester awal masuk sekolah saja belum rampung.


^^^[ Kau ini berengs— ]^^^


“Apa gedung olahraga ada yang menggunakan sekarang?”


Ucapan, atau lebih tepatnya, umpatan Noah untuk ke sekian kalinya terpotong. Reid yang tidak tahu angin mana yang mendatangkan ide berani itu, refleks lalu menanyakan sesuatu yang menyimpang cukup kronis dari topik.


^^^[ Kenapa jadi berbicara mengenai gedung olahraga? Memangnya siapa pula yang dengan tidak warasnya nongkrong di gedung olahraga saat jam istirahat. Pasti itu— ]^^^


TUT!


Sambungan telepon diputus. Reid lantas mempercepat gerakannya menaiki tangga menuju lantai tiga. Ia yang kurang mujurnya telah mulai sesak nafas, mual, kelelahan, dan pening, sesekali mengambil beberapa jeda. Namun, waktu jedanya itu juga tidak luput diisi dengan sedikit banyak gerutu untuk Noah.


“Gendang telingaku rasanya akan berakhir cacat, jika terus meladeninya. Dan lagi, si gila itu. Kenapa dia senang sekali bertele-tele? Tapi, biar saj——Leonna?”


“Leonna! Apa maksudmu berkeliaran begini?!” Seru Reid berapi-api.


“Maaf. Tapi, itu karena—”


...🐣🐣🐣...


Leonna menuruni tangga dengan was-was. Ia percaya, Reid tidaklah mungkin begitu saja meninggalkannya. Tetapi, bel istirahat sebentar lagi akan berbunyi dan Reid masih belum menampakkan batang hidungnya.


Ia bahkan karena saking lamanya menunggu, telah menamatkan lebih dari tujuh level permainan balap mobil. Permainan Tetris, Mahjong, Dam, dan Onet pun, tidak dapat terhitung sudah berapa banyak ia memainkannya. Jadi, hanya untuk antisipasi saja, lebih baik ia yang menghampiri Reid di depan bangunan utama Stuyvesant, ketimbang cowok ganteng itu yang harus repot-repot naik turun tangga.


Namun, agaknya ia yang terlalu lambat. Atau mungkin, memang Reid yang terlalu cepat. Pemuda jangkung itu tiba-tiba saja muncul dan berseru kesal dari belokan tangga menuju lantai empat.


“Leonna! Apa maksudmu berkeliaran begini?!”

__ADS_1


Leonna menenggak air ludahnya grogi. Binar mata Reid seolah tengah mengeluarkan ribut kobaran api. Namun, meski begitu. Melihat plastik belanjaan yang menampilkan pembalut merek Always dan beberapa barang belanjaan lain, hati Leonna diam-diam menghangat.


“Maaf. Tapi, itu karena—”


“Apa? Kenapa kau berhenti?”


Iris biru safir Leonna bingung sekali harus memandang ke mana. Ia sebetulnya karena masih terlalu syok, jadi mengatakan kalimat apa saja yang terlintas di benaknya. Tetapi, akibat detak jantungnya yang tiba-tiba pula menggila, lidahnya pun mendadak ikut kelu.


“Katakan, kenapa?!” Reid berseru lagi. Wajahnya demi apa pun, tampak begitu masam bagi siapa saja yang melihat.


“Maaf. Tidak. Maksudku, sebentar lagi bel berakhirnya istirahat akan segera berdering. Aku tidak ingin kau jadi tidak bisa masuk kelas hanya karena—”


KRINGGG!


Kasihan Leonna. Bel istirahat telah keburu berdering. Ia sontak mematung di tempat. Sementara Reid yang memang telah panas hati, dengan tanpa permisi buru-buru menggamit jari-jemari lentik Leonna. Namun, tidak seperti diawal pertemuan mereka. Leonna tidak menolak. Ia bahkan tidak sedikit pun bergeming.


Tetapi, lamunan Leonna tidak berlangsung lama. Embusan nafas hangat dan suara berat menggoda yang kemudian terdengar, lantas mengembalikan sempurna seluruh rasionalitasnya. Ia pun refleks melonjak mundur.


“Belnya sudah terlanjur berdering. Kau juga sepertinya kuat jalan kan? Jadi, cepat sekarang ikut aku!”


Bisik Reid penuh penekanan tepat di pintu masuk gendang telinga Leonna. Ia yang belum lama mengeluh dan mengumpat dalam diam karena telah kelewat lelah berlari maraton, kini malah menggebu-gebu kesal. Ia pun dengan spontan, lalu mempererat genggaman tangan Leonna dan menyeret gadis mungil itu menuruni tangga dengan amat tidak santai.


“Tunggu, tunggu. Kau ingin membawaku ke mana? Jam istirahat sudah berakhir, kita harus segera kembali ke kelas!”


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2