
Leonna tersenyum grogi. Dari semenjak ia mengangguk mengiyakan sebagai rekan kerja kelompok Reid, wanita pemilik swalayan yang sempat memperkenalkan diri bernama Bibi Smith itu terus memandangnya lekat-lekat. Ia tidak tahu bagaimana caranya agar dapat keluar dari situasi meresahkan ini.
“Jadi, nama kamu benar Leonna?” Bibi Smith bertanya lagi dan sekadar info saja. Ini adalah kali ke tiga Bibi Smith memastikan kalau namanya itu benar, Leonna.
“Ya. Leonna.”
Detik menit berlalu. Reid tadi masih ada pelanggan. Jadi, Leonna diminta Bibi Smith untuk lebih dulu menunggu di tempat yang kelihatan sekali adalah lokasi penyimpanan barang atau sederhananya, gudang.
“Bibi Smith.”
“Apa sudah?”
Leonna diam-diam menghela nafas lega. Ia lelah meski hanya ditatap dan tidak disuruh melakukan pekerjaan apa pun, kecuali menjawab pertanyaan ambigu Bibi Smith. Ia juga sontak jadi mengerti, mengapa kakak kembarnya selama ini selalu menolak mentah-mentah tawaran wawancara dari para reporter.
“Baiklah, kalau begitu bibi tinggal sekarang. Belajarlah dengan baik, ya?!”
Reid mengangguk singkat. Bibi Smith tidak butuh waktu lama sudah keluar dari ruangan. Kini hanya tersisa Leonna dan Reid. Mereka berdua tampak sangat canggung.
Reid tidak langsung duduk. Ia masih terus berdiri kaku di dekat pintu gudang. Sementara Leonna yang duduk di bangku plastik dekat almari besar, tanpa sadar hanya terus memainkan kikuk ujung-ujung sepatunya untuk saling bergulat.
Atmosfer di dalam gudang kian kaku. Leonna yang sudah tidak tahan diliputi kesunyian akhirnya buka suara. “Jadi, untuk naskah yang kemarin. Akan lebih baik kalau kita buat dua judul lain. Nanti baru kita putuskan naskah mana yang akan digunakan untuk pertunjukan skit.”
“Oke.”
Atmosfer di dalam gudang kembali hening. Reid yang sadar kalau tanggapannya itu malah membuat keadaan mendadak kaku, hanya bisa mengumpat dalam hati. Ia juga bingung ingin menjawab penjelasan Leonna seperti apa.
‘Apa lebih baik tunda saja untuk hari ini?’
Suara internal Reid memberi ide. Reid kemudian menjernihkan tenggorokannya sebentar. Memang akan lebih baik mungkin, kalau diskusi mereka dilanjut di lain hari. Ia juga sedang tidak fokus. Jadi, kalau pun tetap ingin dipaksakan, takutnya nanti malah hanya buang-buang waktu.
“Apa—”
“Ya?”
__ADS_1
Leonna serius, kalau ia bisa, ia sekarang pasti sudah menjerit-jerit tidak karuan. Ia seharusnya tadi tidak melamun dan sekarang, entah apa yang harus ia lakukan. Reid yang karena kalimatnya dipotong, tentu ia akan lebih memilih untuk kembali diam membisu.
Tetapi, itu semua sepertinya hanyalah buah pikiran Leonna. Reid tiba-tiba buka suara. Nadanya ia buat sesantai mungkin ketika membuka percakapan.
“Sepertinya tugas ini bisa kita kerjakan di lain waktu. Aku juga belum memikirkan tema lain.”
“Oh, baiklah—kalau begitu lain waktu saja.”
Leonna tidak berkomentar lebih lanjut. Reid yang lelah berdiri terus akhirnya menarik sebuah bangku plastik untuk duduk. Jarak duduk mereka berdua sekarang tidak bisa dikatakan dekat. Tetapi agaknya, masih kurang pas pula untuk dikatakan jauh.
“Itu—jadi, kau bekerja di sini?”
“...”
Wajah Leonna perlahan memerah. Pertanyaan yang lima detik lalu ia ajukan tidak langsung dijawab oleh Reid. Ia seketika sadar, mungkin saja kata-katanya tadi terlalu sensitif untuk Reid tanggapi.
“Tidak, maksudku, aku hanya ingin tahu. Maaf, jika aku terlalu kasar.”
Jari-jemari Leonna kemudian saling bertaut gugup. Kedua matanya memandang lurus tali sepatunya yang agak berantakan. Diam-diam Leonna mengomel dalam hati. Kenapa ia baru sadar kalau tali sepatunya itu tidak rapi?
“Ya. Aku bekerja paruh waktu di swalayan ini dan ngomong-ngomong—”
Leonna sontak terbeliak. Suara serak-serak basah Reid tiba-tiba terdengar. Ia pun berhenti menunduk dan beralih menatap iris gelap Reid dengan kilau malu-malu kucing.
Reid yang mendadak ditatap lekat-lekat oleh Leonna menenggak air ludahnya kikuk. Ia lalu menarik dan menghembuskan nafas sebentar untuk menormalkan debaran di jantungnya. Ia dengan mantap, kemudian melanjutkan ucapannya yang tadi tidak sengaja terpangkas.
“—aku juga ingin minta maaf dengan ucapanku hari kemarin.”
Nada bicara Reid, entah hanya perasaan berlebihan Leonna atau memang benar adalah realitas tanpa tambahan micin imajinasi, kedengaran lebih lembut dari sebelumnya. Leonna yang baru sadar dari aktivitas hibernasi kawakannya itu refleks menggeleng. Ia tidak sangka kalau Reid akan meminta maaf secara terang-terangan.
“Tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Lagi pula itu hanya perdebatan kecil, tidak perlu dibesar-besarkan dan dimasukkan ke hati.”
Reid termangu melihat ekspresi yang Leonna buat. Tidak ada tanda-tanda ketidaktulusan dari sorot mata Leonna. Yang Reid lihat hanya bagaimana gadis di depannya itu mendadak tampak menggemaskan.
__ADS_1
“Kau tidak buruk ternyata.”
“Ya?” Leonna berujar bingung.
“Tidak.”
Senyuman kecil merekah di bibir tipis Reid. Pandangan Leonna sontak seolah tersihir. Detak jantungnya lagi-lagi menggila. Ia sepertinya harus mulai benar-benar mengakui, kalau ia telah jatuh cinta dengan Reid. ‘Apa ada yang menjual ramuan pemusnah untuk perasaan buas ini?’
...🐣🐣🐣...
Bibi Smith gemas sendiri memikirkan interaksi dua remaja tanggung itu. Sudah lebih dari satu jam mereka berada di dalam gudang. Memang, Reid sekitar tiga puluh menit lalu sempat keluar untuk mengambil dua botol minuman, tetapi sepertinya mereka berdua begitu akrab. Buktinya Leonna tidak sama sekali keluar dari dalam ruangan.
“Anak jaman sekarang.”
Langit di luar kelihatan mendung. Jam juga sudah menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit. Bibi Smith sontak berdiri dari duduknya. Sore ini tidak terlalu banyak konsumen, jadi tidak apalah membiarkan Reid selesai kerja lebih awal.
Sekalian, biar bujangan tampan itu bisa mengantar Leonna pulang. Bahaya soalnya, kalau anak gadis pulang terlalu larut, apalagi hanya seorang diri.
“Ehm, maaf bibi mengganggu. Sepertinya belajar kalian bisa dilanjut esok hari. Langit sudah gelap dan Leonna juga harus pulang, kan?”
Reid dan Leonna sontak melempar pandangan ke arah pintu gudang. Bibi Smith sudah berdiri di sana. Jari-jemarinya menggenggam santai kenop pintu. Senyum hangat terlukis dari wajahnya yang mulai menyembulkan gurat-gurat penuaan.
“Ah, baik Bibi Smith.” Ujar Reid kikuk. Ia lalu buru-buru merapikan kembali bangku plastik yang ia duduki.
Leonna yang sebelumnya hanya diam saja, serta merta mengikuti gerak-gerik Reid. Ia agak melirik ke arah kaca jendela. Tepat sesuai yang dikatakan Bibi Smith. Beragam bentuk awan bernuansa abu-abu tua sudah mendominasi angkasa. Ia lalu melirik jam hitam yang melingkar pada pergelangan tangannya.
“Sudah sangat sore ternyata. Kalau begitu aku pamit dulu Bibi Smith dan Reid juga—aku pamit.”
“Tunggu, Leonna! Reid apa yang kamu tunggu? Cepat ambil payung dan pergi antarkan Leonna pulang. Tidak baik anak gadis berjalan sendirian di tengah cuaca begini.”
“Ya?”
.
__ADS_1
.
Bersambung...