HTTP 404

HTTP 404
Bab #28


__ADS_3

Semua pasang mata sontak tertuju ke arah sisi kiri luar lapangan. Pretha bahkan belum ada sepuluh detik melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan Leonna. Namun, dari jarak kurang lebih dua meter. Tampak Leonna dan Reid tengah dengan indahnya saling berpelukan di atas lantai kusam.


Wajah mungil Leonna terbenam di depan dada Reid. Sementara jari-jemari jumbo Reid memeluk belakang kepala dan pinggang Leonna.


Pemandangan dua remaja itu kini benar-benar mirip dengan adegan-adegan romantis yang terdapat pada tayangan sinetron siang bolong. Nafas para manusia sekaligus saksi mata di dalam gedung olahraga pun untuk beberapa detik tercekat.


Keheningan parah menyelimuti atmosfer ruangan. Guyuran deras air hujan di luar juga mendadak terdengar begitu menyatu. Bak adegan tragis dalam sebuah film.


Di waktu yang sama. Noah Thatcher sebagai pelaku pelemparan bola yang disengaja itu hanya bisa menganga lebar. Ia merasa bersalah, tentu. Tapi, detak jantungnya yang tiba-tiba begitu kencang kemudian, yang ada malah refleks memecah sunyi.


“REID!”


Teriak Noah Thathcer panik. Ia berlari kencang menuju Reid yang masih belum sama sekali bergerak dari bawah tubuh Leonna. Sedangkan Leonna yang berbaring membelakangi penonton juga sama kakunya dengan Reid.


Namun, syukur. Ada positif dan negatifnya pula suara melengking Noah Thatcher barusan.


Tiap roh yang melayang kosong di dalam gedung olahraga mendadak seolah tertarik kembali untuk memasuki raga empunya masing-masing. Jika diibaratkan dengan hipnotis, teriakan Noah tadi adalah jentikan jari yang menginstruksi kata ‘berhenti’.


Bisik-bisik pun mulai ribut dan kian membuat pening yang mendengar. Pretha yang sempat mematung sontak tersadar. Ia dengan agak ragu-ragu kemudian melangkah menuju Reid dan Leonna.


“Kalian baik-baik saja kan?”


“Sialan!”


Wajah Reid merah padam. Noah Thatcher yang tadi was-was serta merta tambah panik. Maksud ia kali ini sungguh murni karena khawatir. Tetapi, Reid yang tadi mendadak terbangun dari kegiatan berbaringnya spontan membentak kasar. Cowok itu marah bukan main dengan Noah.


“Leonna, kau tidak apa-apa?”


Kehadiran Pretha yang mendadak sudah berdiri tepat di hadapan Reid dan Leonna tanpa sadar membuat cowok dengan setelan serba hitam itu beralih mengendurkan dekapannya. Leonna yang sebetulnya masih setengah tenggelam dalam irama detak jantung Reid pun refleks ikut menjauhkan tubuhnya dari Reid. Ia kemudian langsung berdiri begitu dirasa lengan kekar Reid sudah berhenti bertengger di pinggangnya.


“Aku—maafkan aku.”

__ADS_1


“Kalian baik-baik saja. Jadi, apa ini artinya aku menang?”


Cicitan Leonna tidak dapat didengar dengan baik oleh Reid. Nada mengejek dan miris rasa bersalah Noah Thatcher sudah lebih dahulu menginterupsi. Cowok jangkung yang awalnya kalem karena terlalu sibuk memproses kejadian memalukannya tadi dengan Leonna sontak melontarkan tatapan nyalang ke arah netra karamel Noah.


“Apa katamu?” Reid berseru dengan nada dingin.


“Aku bilang, kita sudahi saja pertandingan ini. Pacarmu juga sepertinya masih syok. Jadi, lebih baik kau terima saja kekalahanmu. Oke?”


Iris biru safir Leonna sontak memandang ngeri air muka Reid. Rahang cowok yang kini sudah bangun dari duduknya itu seketika mengeras. Binar merah terpancar dari mata hitam gelapnya. Jari-jemari berukuran dua kali lebih besar dari milik Leonna itu juga ikut mengepal kencang. Begitu kencang hingga menampilkan gurat-gurat hijau kebiruan.


“Oh, jangan lupa untuk datang berlatih.”


Noah diam-diam menghembuskan nafas lega. Ia tadi entah keberanian dari mana bisa berbicara seperti itu kepada Reid. Lebih lagi, ia juga masih sempat-sempatnya untuk menepuk-nepuk dan mengurut cukup kasar bahu tegap si cowok bersurai hitam. Ia dan Reid lalu bersitatap sejenak.


“Maaf juga, oke?”


Pretha hanya bisa melongo kosong. Ia agaknya sedikit bisa merasakan rasa kesal membuncah ruah di dada Reid. Lain lagi dengan ekspresi wajah Leonna. Gadis dengan lesung pipit memesona itu kini malah menunduk dalam. Telinga dan tengkuknya dihiasi semburat merah.


Penonton yang hanya sekadar mampir, atau pula yang hanya berniat untuk menunggu hujan reda, atau malah yang memang sudah berencana untuk hadir karena tergiur dengan aroma gosip atau bahkan yang jelas-jelas murni ingin mendukung idola mereka, mendadak mulai membubarkan diri mereka masing-masing.


Pretha yang tiba-tiba saja ditarik Dave McGary pun hanya bisa memandang tidak enak hati punggung layu Leonna. Gadis Rusia itu tadi langsung diseret begitu saja oleh Reid. Entah, apa yang akan terjadi dengan kawan barunya itu.


Tapi, tidak mungkin kan kalau Reid akan berlaku tidak moral kepada seorang gadis? Apalagi kalau sosok itu adalah Leonna yang statusnya masih murid baru. Pasti, tidak akan mungkin kan?


“Pretha! Kau mendengarku?”


Tepukan pedas mendarat kasual di kedua pipi Pretha. Ia refleks memandang lurus mengikuti arah tangan si pelaku. Tampak tepat di hadapannya, visual seorang Dave McGary dengan alis-alis tertekuk curam.


“Apa?”


Pretha berujar polos. Ia terlalu terusik dengan kepergian kilat Leonna hingga sama sekali tidak menangkap satu pun kalimat Dave. Cowok penggemar Avengers itu refleks menghembuskan nafas panjang. Ia tahu betul dengan perasaan tetangga sekaligus teman baiknya ini.

__ADS_1


“Tenang. Leonna akan baik-baik saja.”


Langkah Pretha terhenti. Ia kemudian menengok sebentar ke belakang. Leonna dan Reid kini tengah berdiri di sudut terjauh di dalam gedung olahraga. Tidak tahu percakapan macam apa yang sampai membuat keduanya menjadi begitu serius. Namun, Pretha mungkin harus bisa sedikit lebih percaya kepada Reid.


“Ya. Aku harap begitu.”


...🐣🐣🐣...


Pening menyerang hebat kepala Reid. Sudah lima menit mereka berdua dirundung keheningan. Leonna yang sejak tadi hanya menunduk juga ingin sekali membuka percakapan. Tetapi, setelah melihat Reid yang terus-menerus mengurut area di sekitar batang hidung dan alisnya, ia mendadak kembali ciut.


Jangan tanya pula bagaimana kondisi Reid. Ia memang teramat sangat kesal. Hanya saja anehnya, kenapa pula ia malah menarik Leonna! Ia tahu betul ini semua adalah karena ulah Noah Thatcher. Namun, setelah ia berulang kali melakukan kilas balik. Tidak tahu di mana masalahnya, kesialan sering kali muncul ketika di situ ada Leonna.


“Tsk!”


“Itu—sekali lagi, maafkan aku!”


Decak kasar Reid barusan refleks membuat Leonna langsung membungkuk sedikit. Ia merinding meski Reid belum berkata apa-apa . Sedangkan Reid yang frustrasi sendiri dengan kelakuan tidak masuk akalnya sekarang, serta merta menghembuskan nafas panjang.


Kelakuan remaja perempuan di depannya ini yang ada malah semakin menjadikan dirinya tampak bodoh. Leonna tidak sama sekali melakukan kesalahan. Namun, gadis itu dengan ringannya langsung berucap maaf sembari memberi hormat ala orang-orang Jepang.


“Dengar!”


Leonna berhenti membungkuk. Ia kemudian buru-buru mengarahkan pandangan ke arah Reid. Cowok itu ternyata sudah berhenti mengurut-urut batang hidungnya. Ia kini yang ada malah beralih menggaruk tengkuk dan kepala belakang.


“Pertandingan tadi itu sangat penting untukku. Kau tahu kan aku setiap hari harus pergi bekerja? Tetapi sekarang, berkat kecerobohanmu itu jadwalku terpaksa menjadi berantakan. Kenapa pula aku selalu saja sial setiap kali kau ada di sekitarku? Menyebalkan.”


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2