
Nuansa jingga kemerahan angkasa sore, kini sudah berubah gelap gulita. Ruangan yang menjabat menjadi kamar tidur, dapur, ruang tamu, ruang ganti, sekaligus ruang makan di daerah miris pembangunan dan jauh sekali dari halte bus, apalagi terminal dan stasiun itu pun telah kembali diisi oleh kehadiran si tuan rumah.
Iris hitam dan agak kelelahan Reid Cutler sejak lima menit lalu hanya sibuk melamunkan entah apa. Saking seriusnya Reid memandangi langit-langit. Jika mereka—tripleks—diberi kesempatan untuk bisa merasakan yang namanya hidup, pasti telah lama mereka bersemu malu-malu.
“Apa perlu aku cari saja?”
Reid berhenti dari acara berbaringnya. Ia dengan modal pulsa dan paket internet yang berada di ujung tanduk beralih membuka mesin pencarian utama Mbah Giggle.
Percakapan tiga pengunjung di 1#Txias Siber Kafe tadi pagi betul-betul mengusiknya seharian ini. Aktivitas bekerjanya di lahan kontruksi milik perusahaan Ardour-C Grup yang tidak sampai tiga jam pun, bahkan berulang kali mendapat teguran halus, maupun yang sedikit bernada tinggi.
Belum lagi kesalahan kurang-kelebihan kembalian dan dua kali memindai label barang belanjaan yang tidak dapat terhitung telah terjadi berapa banyak di Smart Smiley Mart. Bibi Smith pun mau tidak mau berganti tugas berjaga di meja kasir ketika sadar kalau pikiran Reid memang tengah amat sangat tidak fokus.
“Eh? Ada apa ini?”
Kedua alis hitam tebal Reid sontak merapat ekstrem. Ia bingung sekali dengan pemandangan layar ponsel jadulnya ini. Jelas-jelas ia tidak hanya iseng ketik. Sebab masalahnya, rangkaian kata yang dibicarakan pengunjung bacar mulut di shift kerja Ulrich Ka’aukai itu sukses bergentayangan seharian penuh di kepalanya.
Ia padahal juga telah mengetikkan dengan sangat rinci mengenai simtom palpitasi, wajah juga tengkuk beserta daun cupingnya yang memanas ria, dan jangan lupakan, junior kebanggaannya yang mendadak ikut terbangun penuh energi.
Tetapi, bukan artikel berisi jawaban logis dan minimal masih bisa diperdebatkan yang Reid peroleh. Melainkan, hanya laman kosong dengan beragam corat-coret gambar sok lucu bertuliskan besar-besar angka ‘404’ dan kalimat ‘Oops, Page Not Found!’.
“Halaman tidak ditemukan?! Tsk, benar. Leonna ternyata hanyalah sebuah bug dan virus yang sesegera mungkin wajib dimusnahkan!”
Kasihan Reid. Bukan bug dan virus yang sebetulnya membuat laman artikel yang ia buka menampilkan laporan galat HTTP 404. Melainkan memang ketika itu Mbah Giggle telah mempublikasikan berita akan adanya kerusakan di beberapa situs.
Berhubung pula, artikel semacam itu teramat jarang sekali muncul dalam mesin pencarian utama Mbah Giggle. Jadi, akan semakin lama juga perbaikan dan instalasi ulang dari tim teknisi penyedia layanan milik perusahaan Algebra.Inc itu.
...“Sekadar informasi. Malam ini kalau tidak salah, akses ke mesin pencarian utama Mbah Giggle akan terganggu untuk sekitar lima sampai lima belas menit. Jadi, jangan sampai kesorean mencari artikel jatuh cintamu itu. Wahai, Tuan Wilde.”...
...🐣🐣🐣...
__ADS_1
Sinar mentari pagi menyapa tidak bersahabat kelopak mata Leonna. Ia sudah berulang kali tidur, bangun, tidur, bangun dan tidur lagi dari semenjak Mischké berdering. Rasa pusingnya memang sudah mengendur. Namun, tubuhnya masih begitu lemas untuk digerakkan.
PING!
Netra Loenna memicing malas ke arah nakas. Ia lalu beralih menurunkan sedikit selimut yang menutupi wajahnya dan mulai meraba-raba permukaan nakas. Notifikasi pagi-pagi begini dan di hari Sabtu. Pasti kalau bukan kembarannya Leo, teman sejak masa zigotnya itu yang mengirimi pesan.
...[ 1 Pesan masuk dari: Chris Goin’ Wild ]...
...Namaste! Привет! Bonjour! こんにちは! Aloha! 안녕하세요! Ciao! Добры дзень! Nǐ hǎo! Sup? Masih bernafas?...
Pesan panjang dan hanya berisikan sapaan halo menggunakan sepuluh bahasa berbeda. Mulai dari Hindi, bahasa nasional negeri ikon Menara Eiffel, negeri pencetus Sushi, hingga ‘hai’ khas sapa ramah penduduk kepulauan Hawaii lantas membuat pelipis Leonna berdenyut nyeri.
Kawan kecilnya ini memang tidak pernah hilang kontak dengan dirinya dan Leo semenjak pindah dari Rublyovka. Maklum, pemuda bermarga Wilde itu senang sekali pindah-pindah tempat tinggal. Kartu pos, foto, mini figur, tembikar, dan berbagai jenis souvenir lain juga sering kali berdatangan. Bahkan saking banyaknya kiriman, mungkin bisa sanggup memenuhi rapat bagian barat Museum D’Vyacheslav, di pusat kota Moskwa.
...[ Penerima: Chris Goin' Wild ]...
Pening di kepala Leonna yang ada malah semakin menjadi. Ia sebagai sang penulis balasan pesan dari kontak nomor telepon Chris Goin' Wild jujur, runyam sendiri ketika membaca ulang hasil ketikan asalnya itu. Syukur, meski ia lemah sekali dalam soal hitung-hitungan, kecuali hitung uang tentunya. Perhitungan serumit apa pun jika dikalikan dengan nol, maka hasilnya sudah jelas adalah...
KRINGGG!
^^^[ Zero, kan? ]^^^
Suara di seberang telepon terdengar sangat datar. Leonna lantas memutar bola matanya jengah. Bukan maksud pula ia mengangkat telepon dari makhluk nun jauh di mana itu. Hanya saja, ibu jarinya tadi tidak sengaja menekan tombol hijau gara-gara terlalu terkejut.
“Jadi, kenapa menelepon?”
Leonna berdeham beberapa kali sebelum merespons. Tenggorokannya terasa amat serak dan tandus akibat demam tinggi semalam. Jari-jemarinya yang tampak lebih kurus dari kemarin-kemarin, akhirnya menyibakkan pasrah keseluruhan selimut. Ia kemudian turun dari kasur dan melangkah gontai keluar kamar.
^^^[ Hanya bosan. Tapi ngomong-ngomong, kenapa suaramu terdengar serak begitu? Kamu sakit? ]^^^
__ADS_1
“Habis demam.”
Mata Leonna menatap kagum keadaan ruangan di luar kamar. Setiap sudut apartemennya tidak ada satu pun yang tidak bersih dan tertata dengan rapi. Gelas beruang madu kesayangannya, bahkan diletakkan dengan posisi mengagumkan di rak gelas, piring dan peralatan makan lain.
^^^[ Tumben. ]^^^
“Sial. Aku juga bisa jatuh sakit kali!”
Leonna melangkah cepat menuju dispenser. Di dalam kulkas sebetulnya ada banyak botol air mineral dingin. Tetapi, berkat radang tidak bersahabat ini. Ia terpaksa sekali pagi-pagi harus meminum air hangat.
Sembari minum, Leonna mengedarkan pandangan ke sekeliling dapur. Iris biru safirnya lalu tidak sengaja menangkap tempelan memo dan kertas besar di depan kulkas. Ia sempat bingung dengan dua benda asing itu. Namun, setelah berjalan lebih dekat ke depan lemari pendingin mewah dan berkapasitas super besar di sisi kanan ruangan, nuansa semerah tomat mendadak menghiasi kedua pipi berlesung pipitnya.
^^^[ Ya, ya. Tapi, Leo memangnya ke mana? Jarang sekali kan kamu jatuh sakit? Maksudku, kamu kan juga memang sudah penyakitan. Sakit jiwa, sakit narsis, sakit— ]^^^
“Kamu sudah tidak tertarik jalan-jalan keliling bumi, ya? Ingin merasakan keliling alam kubur dan neraka juga?”
Perasaan hati Leonna sontak kembali mendung. Baru saja ia mesem-mesem sendiri membaca tulisan tangan Reid. Tapi, memang makhluk di seberang telepon ini sepertinya tidak bisa sekali membiarkannya senang sebentar saja. Kini pula ia jadi tahu kalau teman (sejati) agaknya lebih cepat ketika membuat kawannya jengkel daripada tertawa terpingkal-pingkal.
^^^[ Ya, boleh saja. Kalau demam kamu tiba-tiba kembali, menjadi parah dan mati. Kamu bisa menemaniku di kursi penumpang kendaraan malaikat kematian nanti. ]^^^
Leonna dengan kasar meletakkan gelas beruangnya di atas meja bar. Air hangat yang masih tersisa setengah itu bahkan sampai memuncrat keluar dan membasahi lumayan banyak permukaan meja saking kerasnya benturan antara bokong gelas dan kayu reklamasi. Ponsel pintarnya lalu ia pindahkan ke telinga sebelah kiri.
“Tidak lucu. Dan lagi pula, aku tidak ada yang mera—ehm, merawat dengan benar. Kamu ingatkan, aku bilang akan mengambil program pertukaran pelajar di SHS selama satu tahun?”
.
.
Bersambung...
__ADS_1