
Pegangan pada ponsel pintar Leonna kian lama kian menyesakkan. Ia muak teramat sangat. Tidak jelas apa lagi yang dipermasalahkan Quinn sekarang. Ia tentu bukan tipikal orang yang gampang berpikiran negatif kepada insan lain. Namun, jika situasinya super menyebalkan macam ini, siapa pun pasti akan risih kan?!
“Terbaik? Paling itu hanya karena kostum dan propertinya saja yang mencolok! Kalau tidak, mana mungkin ia bisa mendapat honor menjadi siswa dengan pertunjukan terbaik?”
Anggukan beserta tatapan sinis seolah menusuk dari segala arah raga Leonna. Kalimat sarkas Quinn Delaney barusan, seolah baru menjadi awal peperangan sepihak antara si baik nan cantik dan kawanan si baik sok cantik.
Memang. Cap ‘Primadona Stuyvesant’ sepertinya lumayan cocok untuk Quinn. Meski agaknya jika boleh ada koreksi, akan lebih sempurna kalau sedikit dirubah menjadi ‘Primadona Jahat Stuyvesant’.
Syukur, Leonna bukanlah pemain utama yang hidupnya kelewat susah dan miris seperti tokoh Bawang Putih. Ia sebetulnya hanya tinggal menekan nomor kontak saudara kembarnya, jikalau ia tidak punya hati.
Tapi, tidak. Ia tidak ingin dianggap senang mengadu, apalagi cengeng. Jadi, biarlah. Selama kelakuan mereka tidak membawa ancaman secara fisik dan masih dalam batas normal.
“Atau jangan-jangan dia merayu Profe Ledger dengan tampangnya lagi? Atau malah sepaket? Tubuh dan wajah?” Celetuk Quinn disambut cekikikan menjijikkan dari Raleigh Palomi dan Vanya Orleans.
“Aduh, bagaimana ini? Gadis di angkatan kita ada yang tidur dengan guru! Apalagi guru itu adalah Profe Ledger. Guru muda dan tampan Stuyvesant kita!” Histeris Vanya.
Mata para siswa-siswi mau tidak mau terpaksa melirik ke arah trio gosip. Mereka antara percaya dan tidak percaya, lantas hanya diam-diam, bahkan sampai blak-blakan menguping pembicaraan Quinn dan dua sekawan. Entah, benar atau tidak ocehan mereka. Yang jelas, gosip memang selalu popular di kalangan tiap manusia kan?
"Mengerikan sekali. Kita bahkan baru kembali dari libur semester dan mereka sudah lagi-lagi membuat keributan.”
Pupil mata Leonna membesar. Ia terkejut sekali dengan kemunculan sosok yang tidak ia duga-duga. Semua mata para pelajar yang lalu-lalang, nongkrong, dan yang baru keluar masuk dari kelas mereka sekalipun, sontak tergugu.
“Axle? Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak pergi ke kafetaria?” Ujar Leonna begitu ritme detak jantungnya telah kembali normal.
Senyum tampan serta merta mencuat dari wajah Axle. Ia tidak langsung merespons dan malah iseng menepuk-nepuk pucuk kepala Leonna. Ia lalu terus asik memainkan surai keemasan gadis mungil di depannya. Hingga tidak butuh waktu lama, semburat merah jambu mendadak menghiasi kulit porselen empu yang tengah dijailinya.
Axle dengan terpaksa, kemudian menghentikan aksi tepuk-tepuk sok ramahnya. Ia lalu memajukan tubuhnya lebih dekat dengan Leonna dan berbisik tepat di telinga sang gadis. “Aku mencarimu.”
__ADS_1
“Kau, apa? Mencariku?”
Bukan perasaan senang yang Leonna rasakan. Ia seketika malah teringat percakapannya kemarin dengan Reid. Tidak jelas apakah itu merupakan hal buruk dan harus dihindari.
Tapi, jika seorang Reid sampai memberitahukan problem absurd yang membawa-bawa anggota TTS, mungkin ia harus sedikit lebih percaya.
Lagipula kalau diingat-ingat, Pretha dan Dave juga pernah melarangnya untuk tidak dekat-dekat dengan TTS. Meski belum ada bukti yang ia temukan secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, setidaknya ia harus berada di ranah aman dan bebas dari segala polutan, parasit, serta penyakit.
“Ya. Apa kau sudah makan siang?” Tanya Axle, seraya merapikan poni Leonna.
“Aku, baru akan ke sana. Ke kafetaria, maksudku.” Leonna memundurkan tubuhnya satu dua langkah.
“Begitu kah?” Tanya balik Axle.
Gerakan jemari panjangnya pun terpaksa terhenti. Ia tentu tidak bodoh dengan perilaku Leonna barusan. Tapi, benar kata Irvine. Ia masih punya banyak waktu. Tidak akan menyenangkan juga kalau ia begitu saja berubah menjadi serigala lapar dan melahap kelinci menggemaskannya ini tanpa bermain-main terlebih dahulu.
“Yup. Aku akan ke kafetaria sekarang. Apa kau mau pergi bersama?”
Leonna spontan mendumel dalam hati. Ia bukannya memberikan alasan lain untuk cepat-cepat pergi dari hadapan Axle, malah mengajak pemuda yang menjabat sebagai Ketua OSIS itu berangkat bareng ke kafetaria.
“Atau kalau kau sedang sibuk atau apa. Aku akan pergi duluan ke kafetaria. Kau bisa kembali melanj—”
“Aku kemari untuk mengajakmu makan siang bersama di kafetaria. Angus dan Irvine juga sudah menunggu di sana.”
Leonna mendongakkan kepalanya kaget. Axle yang jauh lebih tinggi dari dirinya lagi-lagi menampilkan senyum cerah dan kelewat menawan. Ia bahkan bisa mendengar secara samar-samar teriakan heboh para gadis, penggemar dan penggila Axle Bru ini.
Tawa hambar kemudian mencelos dari bibir ranum Leonna. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal dan lalu berucap dengan tanpa memandang wajah lawan bicaranya.
__ADS_1
“Benarkah? Aku sangat beruntung rupanya sampai-sampai kalian bertiga super dermawan mengajakku untuk makan siang bersama.”
PING!
Bunyi notifikasi dari ponsel pintar Axle, refleks mengalihkan fokus cowok itu. Ia setelah melihat sekilas layar ponselnya, lantas berujar dengan ekspresi riang seraya menunjukkan isi pesan yang diterimanya ke muka Leonna. “Set makanan milikmu dan aku sudah tersaji rapi di atas meja.”
“Oh. Tapi, kenapa ada banyak sekali? Bukankah hanya ada empat orang? Kau, aku, Irvine, dan Angus?”
Sebuah foto yang tertampil berisikan empat paket berbeda makanan kafetaria, ditambah beberapa sajian lain yang terlihat seperti makanan penutup (baca; dessert), serta merta membuat Leonna tidak tahan untuk bertanya.
“Hari ini adalah hari Angus. Dia kemarin kalah tanding game dengan Irvine. Jadi, seperti biasa. Irvine akan meminta ditraktir banyak makanan manis.” Jelas Axle, sembari lengannya dengan tanpa permisi sudah bertengger manis di pundak Leonna.
“Irvine penyuka makanan manis ternyata.” Gumam Leonna. Agak tidak percaya kalau seorang Irvine adalah penyuka makanan manis.
“Benar. Tapi, tujuannya tidak murni karena ingin makan makanan manis. Ia ingin membuat Angus ikut makan bersamanya,” Axle menyeret Leonna terlampau ramah menuju kafetaria. Ia kemudian melanjutkan kata-katanya, “Angus benci makanan manis.”
Anggukan Leonna dan tubuh mungilnya yang mau tidak mau tidak menolak ketika diperlakukan kelewat akrab oleh Axle, jelas si empunya sendiri sadar, telah sukses menimbulkan bejibun kontroversi bagi para penggemar ‘Yang Mulia Axle’ sekalian.
Namun, baru saja Leonna dan Axle akan berbelok menuju lorong terakhir rute ke kafetaria, sebuah cengkeraman pada pergelangan tangan Leonna, mendadak menghentikan langkah keduanya. Axle sontak melayangkan tatapan tidak suka begitu ia mendapati pelaku yang berani mengganggu waktunya dengan Leonna.
“Reid? Ada apa?” Tanya Leonna amat terkejut.
“Aku ada urusan penting dengannya. Bisa kau lepaskan rangkulan sok akrab-mu darinya?”
.
.
__ADS_1
Bersambung...