
“Normal dan hei, apa yang sedang Kak Leo makan tengah malam begitu?”
“Hanya camilan. Tetapi tumben, kenapa kamu malah menelepon di jam segini? Kamu tahu kan waktu di Moskwa itu lebih lambat delapan jam?”
Leo, kakak kembar Leonna yang hanya berjarak sebelas menit lebih cepat keluar pada proses persalinan Nyonya Ruthesia Mileková, dengan bangga menunjukkan sekotak besar ayam goreng MFC alias Mileková Fried Chicken.
Leonna pun hanya bisa geleng-geleng kepala, bagaimana bisa kotak berisikan sepuluh potong bagian ayam diklaim Leo sebagai ‘hanya camilan.’
“Aku hanya bosan dan perlu sedikit bantuan untuk tugas bahasa Spanyol-ku.”
“Tugas bahasa Spanyol? Apa adik tercintaku ini akhirnya mengakui, kalau kemampuan bahasa Spanyol kakak kembar paling tampan sedunianya ini lebih baik dari dirinya?”
Kekeh jail terdengar dari mulut berlepotan Leo. Memang benar apa kata opera sabun yang iseng pernah Leonna dan Leo tonton ketika dibangku junior dulu,
‘Semakin kaya seseorang, semakin giat pula mereka untuk mengerjakan hal yang bahkan orang bokek super melarat sekalipun tidak sempat barang sedetik memikirkannya.’
Dengan tanpa ekspresi, Leonna memberi isyarat kepada Leo untuk mengelap wajah penuh bercak saus dan remah-remah tepung ayam. Leo kemudian sambil cengengesan mengelap dagu, bibir, hingga pipinya dengan tisu.
“Terserah Kak Leo mau berkata apa. Tapi seharusnya, tugas skit semacam ini bisa langsung selesai kalau orang itu mau diajak berdiskusi.” Leonna berdecak kesal.
“Hanya karena tugas skit? Sandiwara lelucon pendek? Apa ini, Leonna? Lagi-lagi kamu kurang beruntung, berasosiasi dengan orang-orang aneh dan menyebalkan?”
Desah panjang terlontar dari bibir merah muda Leonna. Frustrasi sendiri ia, karena ucapan Leo selintas kembali mengingatkan pada kehidupan sosial parasitisme-nya dulu yang tidak bisa dihindari, terus-menerus dikerubungi orang-orang absurd dan haus status sosial.
Namun, di New York ini, Leonna akui. Kondisi dan pergaulan sehari-hari Leonna sebagai rakyat biasa, dapat dikatakan hampir melebihi pengetahuan serta pemahamannya tentang bagaimana indah dan memuaskannya hidup dalam kesederhanaan.
Walau siapa pun, jika sudah melihat betapa mewahnya apartemen Leonna, pasti akan langsung mengkritik kalau semua idealisme Leonna itu hanyalah omong kosong belaka.
__ADS_1
Hanya saja, firasat Leonna mengatakan akan ada hal spektakuler yang akan ditemuinya di New York sini. Entah apa itu, Leonna pun tidak tahu.
Tetapi mungkin, pertemuannya dengan makhluk menawan sekaligus menyebalkan bernama Reid memang sudah nasib. Jadi ya sudah, selama tidak melampaui batas, Leonna pun oke-oke saja.
“Ya, namanya Reid Cutler. Dia benar-benar sanggup membuat orang kesal setengah mati, meski hanya dengan mendengar namanya. Tetapi kuakui, dia memang sangat tampan, bahkan sepuluh kali lebih tampan dan keren daripada Kak Leo! Hanya saja, bagaimana bisa setiap bertemu dengannya dia hanya dan selalu berpakaian serba hitam,”
Leonna menarik nafas sebentar.
“Apa jangan-jangan dia mencoba menunjukkan kepada dunia kalau dia itu seorang penganut ilmu hitam? Atau lebih buruk, dia ternyata adalah keturunan dari komplotan mafia bengis yang terobsesi dengan warna hitam? Tsk, ingin sekali aku jika ada kesempatan, membawanya ke pusat perbelanjaan dan mengubah cara berpakaiannya itu,”
Leo mulai mengerjap-ngerjap ngantuk. Dia bahkan sempat meninggalkan Leonna sebentar untuk mencuci tangan dan menggosok gigi. Tetapi, beginilah Leonna. Jika ia sudah tertarik dengan sesuatu, pasti akan terus berceloteh betapa begini dan begitunya si ‘sesuatu’ itu.
“Bukan, bukan maksudku dia tidak modis. Tetapi, apa dia tidak lelah hanya terus bergelung dalam warna hitam? Pantas saja ekspresinya itu selalu gelap dan datar. Hatinya pasti sudah lama terbenam dalam lumpur hitam. Aku benar kan, Kak Leo?”
Tidak ada jawaban. Leonna memandang lekat layar laptop dan benar saja, kembarannya itu ternyata sudah pulas.
Leonna dengan kesal mematikan WebCam, menaruh kembali laptop ke atas nakas dan kemudian membetulkan posisi tidurnya. Namun, baru saja Leonna memejamkan mata, sebuah bunyi notifikasi dari ponsel pintarnya sontak menginterupsi.
PING!
“Apa ini? Jangan bilang ini prank dari Kak Leo.”
Butuh beberapa menit bagi Leonna untuk menemukan keberadaan ponsel yang ternyata sejak tadi hanya terbaring menyudut di antara tumpukan bantal-bantal empuk. Ia lalu menggulir ke atas layar berlatar monster biru toska dari film Monster Inc itu. Kedua bola mata Leonna serta merta membulat, disambut panas dan nuansa kemerahan yang menjalar dari wajah hingga telinga dan tengkuknya.
...[ Pesan terblokir dari nomor tidak dikenal; +1 212-XXX-XX13 ]...
...Leonna, ini Reid Cutler. Sebelumnya, maaf untuk keegoisanku tadi sore dan baiklah, kita akan mendiskusikan tugas ini di pertemuan selanjutnya. Selamat malam....
__ADS_1
...🐣🐣🐣...
Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit. Sebuah mobil bis bernuansa kuning telur berhenti di depan halte, tempat destinasi pemberhentian pertama transportasi publik itu memulai hari. Penumpang yang kebanyakan adalah murid sekolah menengah dan rata-rata berasal dari SMA Stuyvesant, perlahan beranjak turun dari bis.
“Semoga hari anda menyenangkan, Pak!”
“Nona juga, semoga hari anda lebih baik dari kemarin.”
Leonna, salah satu dari penumpang bis, berjalan riang keluar dari bis setelah sebelumnya ia dan pak sopir saling bertukar sapa. Ia melangkah santai sembari menikmati belaian lembut udara pagi.
Serius, pagi ini, perasaan Leonna sedang teramat sangat baik. Tidak tahu bagaimana, ia bahkan bangun lebih cepat daripada Mischké — nama jam beker beruang kutub Leonna yang bermakna ‘beruang kecil’ — terkasihnya dan setelah sarapan, mandi, kemudian bla bla bla, Leonna pun berangkat ke sekolah lebih awal dari biasanya.
Detik menit berlalu cepat, aktivitas jalan sehat Leonna kini telah memasuki pelataran sekolah dan seperti kondisi sekolah pada umumnya di pagi hari, area luar sekolah tampak bersih dan tetumbuhan serta bunga-bunga di taman-taman kecil pada pinggiran jalannya juga kelihatan masih basah.
Sesekali Leonna kembali menyapa beberapa petugas kebersihan yang ia temui, maklum, keadaan sekolah belum begitu ramai, jadi Leonna tidak perlu sungkan untuk beramah-tamah dengan para tukang bersih-bersih yang kebanyakan berusia di atas tiga puluh tahun itu.
Hati Leonna kian lama kian cerah. Namun, siapa sangka. Sensasi gembira sekaligus menenangkan yang dirasakannya itu, ternyata hanya perlu satu ketukan untuk bertransformasi menjadi begitu gelap dan hitam. Itu seharusnya yang Leonna rasakan ketika lagi-lagi bertemu dengan figur mengesalkan, bahkan saat di awal pertemuan mereka.
“R-Reid. Selamat pagi!”
Jantung Leonna seolah akan meledak jika berlama-lama terus memandang wajah rupawan Reid. Leonna, bahkan sampai tidak ingat bagaimana bisa dirinya dan Reid sudah berada di posisi ini.
.
.
Bersambung...
__ADS_1