HTTP 404

HTTP 404
Bab #123


__ADS_3

Mata para pelanggan kafe dari yang berjenis kelamin betina hingga bahkan yang jantan, berbinar cerah dan agak berdesir -desir ketika memandangi cowok yang duduk sendirian di pelataran luar bangunan ‘El Ranchee Beam’.


Pemuda yang berulang kali tanpa sadar terus menyugar surai hitamnya itu, lagi-lagi berdecak bosan. Sudah lima belas menit ia duduk sok sibuk nan sok kalem di sini. Tapi, yang ditunggu-tunggu tidak juga menampakkan batang hidungnya. Mana terik mentari sore ini benar-benar gila panasnya!


KRINGGG!


Ia menggeram dalam hati. Ia lupa mengecilkan volume ponselnya tadi. Ia pun tanpa banyak cek-cok, lantas mengangkat tidak asyik telepon dari orang yang seharusnya sedari tadi telah mengisi kursi kosong di hadapannya.


“Maaf, Tutor Reid. Tadi itu ada beberapa hal mendadak yang harus kuurus, jadi aku—”


“Berapa lama lagi?”


Yang dipanggil ‘Tutor Reid’ serta merta menghela nafas malas. Ia sungguh lelah, letih, dan le-le lainnya setelah bolak-balik maraton dari gedung olahraga Stuyvesant, panti asuhan Harisson, dan Smith Smiley Mart.

__ADS_1


Ia bahkan harus menunda makan siang sesi duanya, gara-gara tadi hampir lupa kalau hari ini ada jadwal temu dengan si subjek di seberang telepon.


“Berapa lama lagi aku harus menunggu ‘Nak’ Leonna?”


“...Aku tidak tahu pasti,”


Nak Leonna, alias Leonna Mileková, sang lawan bicara panggilan telepon Reid, sontak terdiam sejenak. Ia juga tidak menyangka akan terlambat, atau lebih tepatnya, terhambat, seperti ini. Jadi, mau bagaimana lagi? Nasi sudah berubah jadi bubur.


Panggilan telepon diputus sepihak. Reid untuk kesekian kalinya menghela nafas sebal. Ia tahu begini, lebih baik tadi pulang, makan, dan mandi dulu.


Siapa kira seorang Reid yang tidak sekali pun pernah membuang-buang waktu dengan tidak melakukan apa-apa, hari ini, diapit temperatur tinggi nan absurd pukul tiga sore, terpaksa hanya terus duduk jomlo, mengamati jalanan perkotaan New York yang ramai partikel radikal bebas dan polusi?


“Ini dari gadis di meja sana.”

__ADS_1


Segelas minuman yang hanya dalam sekali lihat Reid tahu, bahwa rasanya pasti asam dan mengandung alkohol, diletakkan riang oleh seorang pegawai di atas mejanya yang memang masih kosong.


“Klasik Mojito? Untukku?” Tanya Reid seraya melirik ke arah gadis yang ditunjuk si pegawai.


“Maaf, tapi aku tidak ingin.” Ujar Reid lagi tanpa ekspresi. Kemudian langsung memalingkan pandangannya sok sibuk ke layar ponsel.


“Kalau begitu saya permisi Tuan. Silakan dinikmati minumannya.” Baru saja Reid akan melontarkan protes. Namun, pegawai yang kemungkinan sekali masih duduk di bangku kuliah itu sialnya sudah keduluan pergi secepat kedipan mata.


Reid mau tidak mau hanya bisa melirik pasrah. Ia tentu seharusnya berterima kasih kepada si gadis asing di meja nomor tiga di belakangnya sana.


Tapi, masa bodoh. Ia telah paham betul kalau maksud manusia bergenre ‘hawa’ itu tidak seupil pun murni.


Ia berani bertaruh. Pasti ada maksud terselubung yang tidak lain dan tidak bukan, karena ingin kenalan, bertukar nomor telepon dan seterus-seterusnya, yang rentan sekali mengancam rencana masa depan sukses, cemerlang, dan eksistensi dompet tebalnya.

__ADS_1


__ADS_2