HTTP 404

HTTP 404
Bab #14


__ADS_3

Leonna menengok bingung dan langsung tersadar ketika Axle menghampiri Leonna. Ia lalu bak korban tabrak lari, dituntun dengan begitu hati-hati oleh Axle menuju meja kosong. Meja yang sebelum kejadian, sempat Leonna niatkan untuk menginformasikan keberadaannya kepada Angus dan Axle.


“Ya, aku—baik-baik saja.”


Angus dengan penuh perhatian mendadak mengelap dahi Leonna yang gerimis keringat, menggunakan sapu tangan biru tua yang ia ambil dari dalam saku kemeja kotak-kotak yang ia kenakan.


Leonna terkejut untuk beberapa saat dan akibat rasa malu tingkat dewa ketika tiba-tiba mengingat kembali kejadian bersejarahnya barusan. Tidak sengaja ia memalingkan pandang ke sembarang arah.


Namun, jika saja Leonna lebih peka. Lirikan tidak ada tiga detiknya itu malah membuat situasi kafetaria kian menegangkan. Agak berlebihan memang—narasi author.


Tetapi, jika melihat langsung keadaan para betina di kafetaria. Makhluk kecil macam semut pun tahu. Eksistensi gadis-gadis hingga ke titik-titik tidak tergapai penglihatan, kini tengah berapi-api dan mungkin sanggup membakar bangunan megah Stuyvesant sampai tidak ada yang tersisa, kecuali debu.


Lebih membuat sesak lagi. Belum usai kecemburuan para betina. Pemandangan menghebohkan sekali lagi terjadi. Figur ahli waris utama perusahaan Lawton, tiba-tiba duduk setengah berjongkok tepat di depan kaki ramping Leonna.


Ia lalu dengan mudahnya, mengangkat dan memeriksa layaknya seorang dokter spesialis pribadi, yang dibayar mahal oleh tuan-nyonya kaya raya hanya untuk mempraktikkan sedikit ilmu medisnya ke arah pasien yang jelas-jelas sehat walafiat.


“Kamu ini memiliki kekuatan super atau apa? Bagaimana bisa kamu hampir terjatuh lagi? Apa mungkin ada yang salah dengan tiga kanal setengah lingkaran telingamu, Leonna? Serius, kamu harus segera memeriksakannya ke spesialis THT atau mungkin, dokter saraf?”


“Ya?” Leonna melongok bingung mendengar celoteh luas kali keliling Angus.


“Alat keseimbangan tubuhmu, Leonna. Apa perlu dilakukan pemeriksaan?” Axle memperjelas pertanyaan ambigu Angus.


“O-oh, tidak perlu. Aku tidak terluka. Sumpah, aku seratus persen baik-...”


“Yo, aku dengar ada keributan. Apa sesuatu telah terjad—TSK! Kalian terlalu dekat!”


Irvine yang baru datang dengan dua orang tidak dikenal di belakangnya, tiba-tiba memotong kalimat patah-patah Leonna. Ia sontak melayangkan tatapan tidak suka, melihat pemandangan Angus dan Axle yang terlalu dekat dengan Leonna.


“Ah, aku lapar sekali.”


Irvine mendengus malas mendengar celetukan Axle. Ia lalu dengan senyum dibuat seramah mungkin, mengusir cepat dua orang siswa yang tadi membantu atau lebih tepatnya, ia suruh untuk membawakan empat pesanan miliknya dan tiga makhluk yang kini sudah duduk manis di barisan meja paling menuai kontroversi dalam sejarah Stuyvesant di abad ke-21 ini.


Sementara dari arah pukul tujuh. Dua orang yang baru saja menjabat menjadi teman Leonna, sedari tadi hanya bisa memandang keempat makhluk superior itu dengan alis-alis berkerut curam.


“Pretha, bukankah itu Leonna? Tetapi, kenapa dia bersama dengan gerombolan TTS?”

__ADS_1


“Dave...” Cowok berkaus abu-abu polos di sebelah kanan Pretha memandang empu yang memanggilnya bingung.


“Ya?”


“Quinn baru saja menyelengkat Leonna.”


Tidak tahu pikiran macam apa yang tengah bergumul di dalam kepala Pretha dan Dave. Tetapi, jika diperhatikan lebih lanjut. Tatapan mereka jelas sekali menunjukkan sesuatu yang ‘bukan’ termasuk dalam kategori positif. “Leonna-ku yang malang...”


...🐣🐣🐣...


Leonna baru saja ingin memasuki ruang komputer. Tetapi, langkah pendeknya serta merta terhenti saat mendapati dua orang familier berdiri menghalangi pintu masuk.


“Eh, Dave dan—Pretha? Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kita sekelas lagi untuk mata pelajaran terakhir?”


Firasat Leonna tidak enak. Tidak tahu apa masalahnya, tatapan Pretha menurut Leonna agak kelihatan tidak bersahabat. Aura garang menguar bebas di sekeliling tubuhnya yang lebih tinggi tujuh sentimeter dari Leonna.


“Leonna, dengar. Kami berdua melihat kejadian tadi siang di kafetaria dan aku berani bersumpah, Quinn, gadis psikopat itu yang telah menyelengkatmu.”


Dave berbisik agak menggebu-gebu. Kerutan di pelipisnya memang membuat Leonna agak percaya. Namun, tidak dengan kalimat yang ia lontarkan. Apa sebutannya? Terlalu sarkas?


“Leonna, ini serius, bukan hal sepele. Alasan perlakuan gila Quinn memang selalu tidak bisa ditolerir. Tetapi masalahnya, kau tadi datang bersama dengan gerombolan TTS dan Quinn, memang, dua tahun terakhir ini dia selalu terobsesi dengan Reid, kau juga dekat dengan Reid karena memang satu kelompok, benar kan? Hanya menurut pengalamanku, Dave dan rumor yang beredar, anggota TTS memang kelihatan tampan dan bla bla bla. Tetapi, entahlah. Kau yang jelas harus jauh-jauh dari mereka dan terutama Quinn.”


Pretha yang tidak tahan dengan sifat kasual Leonna sontak berucap cepat. Deretan huruf-huruf yang dikeluarkan sepanjang rel kereta apinya sampai membuat beberapa siswa di sekeliling dan yang akan masuk ke dalam ruang komputer melirik aneh.


“Maafkan kami,” Leonna membungkuk sedikit, lalu buru-buru menarik Dave dan Pretha menuju lokasi lorong yang lumayan sepi.


“TTS? Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?”


“TTS alias Trio Tampan Stuyvesant. Beranggotakan Angus Lawton, Axle Bru dan Irvine Wu. Mereka agaknya memang kelihatan normal dan benar kata Pretha, mungkin saja mereka tidak seperti yang dirumorkan. Tetapi, penggemar mereka pasti tidak akan tinggal diam, jadi...”


“Ah, bercanda kalian terlalu berlebihan dan lagi pula, aku juga tidak apa-apa.”


Dave dan Pretha mengernyitkan alis mereka tidak senang. Leonna di depan mereka malah tertawa hambar dan sebetulnya, Leonna juga tahu. Tidak mungkin dua orang di depannya ini berkata bohong.


Meski mereka bertiga baru berkenalan, tetapi insting Leonna mengatakan, Dave dan Pretha bukanlah orang dengan pikiran kotor. Hanya saja, Leonna ingin semuanya tampak normal. Tidak perlu dibuat rumit dan terlalu dramatis.

__ADS_1


“Tapi Leonna, aku dan Dave sedang tidak bercanda. Kau harus...”


KRINGGG!!!


“Apa yang kalian lakukan masih nongkrong di sini? Cepat! Masuk ke dalam kelas kalian masing-masing!”


...🐣🐣🐣...


Jam mata pelajaran terakhir akan dimulai lima menit lagi. Tetapi, Leonna dengan dahi berlipat tebal, malah tampak semakin runyam memandangi layar ponsel pintarnya.


Ia berulang kali membuka kontak nomor telepon, lalu kotak pesan, kontak nomor telepon lagi, kemudian kotak pesan, begitu seterusnya hingga jari-jemari lentiknya banjir keringat karena grogi.


Dave yang duduk di sebelah Leonna, bahkan sampai gemas sendiri dan bukan maksud Dave untuk kepo atau apa. Namun, melihat keimutan kelas paus biru Leonna, sekaligus perasaan sesak yang sejak tadi meracuni hatinya, ia pun dengan iseng melirik diam-diam ke arah layar ponsel Leonna.


Bunyi prang serupa piring pecah sontak menggema di relung dada cowok bernama belakang McGary itu. Ia terkejut bukan main, melihat apa atau mungkin lebih tepatnya, ‘siapakah’ gerangan yang sedari tadi sanggup membuat Leonna bertingkah layaknya cacing kepanasan.


Namun, seharusnya Dave tidak perlu sibuk-sibuk penasaran. Sebab hal yang membuat Leonna sebegini semrawut, tidak lain dan tidak bukan adalah kontak nomor telepon makhluk bernama ‘Reid Cutler Spanyol’.


Tetapi yang membuat Dave super kesal dan ehm, cemburu, bukan hanya karena nama Reid yang tertera. Melainkan bagaimana Leonna dengan begitu spesifiknya menamakan kontak nomor telepon Reid dengan nama belakang, ditambah embel-embel kata ‘Spanyol’.


“Leonna kau benar-benar menyakitiku, kau tahu? Jika kau kangen, segera tekan! Hubungi dan bicara padanya! Jangan bolak-balik melirik saja. Kelakuanmu itu malah membuat eksistensiku seolah tidak berarti saja di sini.”


“Oh, apa? A-ku tidak, maksudku, ini bukan—”


Dave berujar penuh penekanan. Bola mata biru Leonna melebar. Cuping kiri dan kanannya seketika memerah. Ia sontak menatap Dave dengan super canggung. Bibir merah muda bernuansa serupa kelopak bunga sakura yang baru mekar itu refleks menanggapi ucapan Dave dengan patah-patah. Ia sendiri bahkan tidak tahu kalimat apa yang ia katakan.


Tetapi agak beruntung bagi Leonna, gebrakan kencang dari meja guru di depan, membuat Dave yang duduk di sebelah Leonna sontak menegakkan punggungnya. Ia melempar tatapan ngeri sekaligus kesal ke arah Pak Murama Teijo.


“Masih saja sibuk bergosip! Cepat! Segera kembali ke tempat duduk kalian masing-masing!”


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2